Memimpin Melampaui Ketidakpastian

Bermula dari masalah kesehatan, penyebaran virus COVID-19 kini telah menjadi jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan. Tidak saja virus ini mengancam nyawa yang tak sedikit, penyebarannya yang begitu cepat ke berbagai belahan dunia telah menciptakan banyak ketidakpastiaan. Disrupsi yang sebenar-benarnya telah terjadi. Dan bukan dimulai dari teknologi. Itu lebih bisa diprediksi. Ia dimulai dari sesuatu yang tak kasat mata.

Hanya dalam hitungan bulan, masalah kesehatan merembet menjadi masalah ekonomi. Industri pariwisata langsung kehilangan pemasukan yang berhubungan dengan Cina. Hingga kini hampir tak beroperasi sama sekali. Belum menunjukkan akan berhenti, sekarang hampir semua industri ketar-ketir dengan bisnis mereka.

COVID-19 pun memaksa perubahan interaksi sosial dan budaya. Kultur Indonesia yang hangat dan senang bersentuhan kini diberi sekat-sekat, setidaknya untuk sementara. Orang amat dianjurkan tak keluar rumah, bahkan untuk urusan ibadah. Baru kali ini rasanya, entah di masa yang terlalu lampau, shalat Jum’at yang wajib dikerjakan berjamaah itu, diadakan. Kehangatan itu kini harus dialihkan ke dalam senyum melalui video call dan canda melalui emoticon. Social distancing pun diubah menjadi physical distancing. Cukup fisik kita saja yang berjarak, hati dan pikiran tetap harus menyatu.

Arena politik pun tak ketinggalan. Tak adanya basis pemikiran yang baku di kondisi serupa ini jelas membuat para pemimpin negeri perlu menunjukkan keluwesan dan kebijaksanaan. Ada banyak ide yang perlu didudukkan, dipilih, atau diintegrasikan agar dapat memastikan kehidupan banyak orang tetap aman.

Ini jelas, tantangan yang tak mudah. Kompleksitas yang amat tinggi. Sesuatu yang telah jauh-jauh hari diprediksi oleh Stephen R. Covey dan tim FranklinCovey dalam buku mereka bertajuk “Predictable Result in Unpredictable Times”. Meskipun ketidakpastian yang mereka bedah masih seputaran akibat perubahan teknologi, tesis yang diangkat kiranya tetap relevan dengan kondisi terkini.

Ya, Stephen R. Covey pernah ditanya mengenai buku beliau 7 Habits, “Apakah di era perubahan ini, apa yang Anda ajarkan sejak tahun 70an masih relevan?” Dengan penuh keyakinan beliau menjawab, “Justru dengan semakin besarnya tantangan, ia akan semakin relevan.” Mengapa? Karena yang diajarkan bukanlah pemikirannya sendiri, melainkan hukum-hukum alam yang bersifat menetap, meski aplikasinya berubah sesuai zaman.

Dalam buku “Predictable Result in Unpredictable Times”, diuraikan bahwa setidaknya ada 4 kondisi yang alamiah muncul dalam situasi ketidakpastian. Pertama, rasa takut yang berlebihan. Kedua, hilangnya fokus. Ketiga, menurunnya kepercayaan. Dan keempat, kegagalan mengeksekusi.

Mari kita bedah satu per satu 4 kondisi ini berikut solusinya.

 

Mengatasi Rasa Takut

Sebagaimana bentuk berbagai rasa lain, rasa takut adalah hal yang wajar. Ia muncul sebagai respons atas hal yang mengancam nyawa. Baik itu berasal dari ancaman COVID-19 maupun ancaman hilangnya pekerjaan karena perusahaan mungkin saja tutup. Dalam buku 7 Habits, kondisi ini disebut dengan kondisi Reaktif, alias kondisi ketika kita bereaksi atas stimulus yang datang.

Menariknya, manusia sebenarnya memiliki ruang antara Stimulus dan Respons. Ruang inilah yang sejatinya bisa dimanfaatkan sebagai ruang kebebasan memilih. Betul ada berita pasien yang terus meningkat. Betul ada berita bisnis-bisnis yang menderita. Namun tak semua berita itu perlu kita respons dengan rasa takut. Sebab rasa takut hadir karena kita membiarkan imajinasi kita tak terkendali. Kita lupa bahwa kita punya kebebasan memilih untuk berimajinasi secara positif.

“Ya, mungkin saja kondisi ketidakpastiaan ini bisa bertahan hingga 6 bulan. Lalu apa yang akan kita lakukan di bulan ketujuh?”

Respons serupa in disebut sebagiai respons Proaktif. Sebuah pilihan untuk melakukan apa yang ada dalam Lingkaran Pengaruh kita, alih-alih membiarkan diri larut dalam hal-hal yang tak bisa dikendalikan. Jika memang closing sulit, bagaimana dengan pipeling? Jika prospecting sulit, bagaimana dengan marketing? Jika turun ke lapangan tak memungkinkan, bagaimana dengan pelatihan dan pengembangan?

 

Membangun Kembali Kepercayaan

Bekerja dari rumah sungguh menghendaki kemandirian. Sayangnya, waktu kita membangun kemandirian sebelum work from home dilakukan sungguh amat singkat, jika tak ingin di sebut tak ada sama sekali. Maka seketika para pemimpin tim harus berlatih memberikan kepercayaan tanpa bisa memonitor dengan mendetil tiap hal yang dikerjakan.

Memberikan kepercayaan memang menantang, sebab ia menghendaki dua keterampilan sekaligus. Pertama ialah keterampilan untuk melakukan analisa kondisi tiap anggota tim. Tingkat kemandirian seperti apa yang bisa diberikan. Kedua, keterampilan untuk melepaskan diri dari keinginan untuk mengendalikan.

Sebagian pemimpin memang cenderung pada salah satu. Melatih keduanya sekaligus berarti memperlakukan tiap anggota tim sebagai individu yang unik. Sebagian anggota tim bisa dilepas, cukup dengan kesepakatan hasil yang diinginkan. Sebagian lain perlu didampingi dari waktu ke waktu. Salah memperlakukan bisa menurunkan tingkat keterlibatan. Dan dalam kondisi kerja dari rumah, keterlibatan rendah adalah hal yang sungguh tak kita inginkan.

 

Mengatur Ulang Fokus

Jika di kondisi normal, hampir-hampir kita tak pernah kekurangan pekerjaan, sungguh berbeda di situasi saat ini. Bekerja dari rumah, dua peran—atau lebih—kita bercampur di satu ruang. Apalagi bagi para jomblo yang tinggal di kos-kosan. Kamar itulah ruang kerja dan pribadinya. Maka hal yang Penting dan Tidak Penting, seketika perlu dipetakan ulang. Begitu pula dengan yang Mendesak dan Tak Mendesak.

Matriks Waktu yang dipopulerkan oleh 7 Habits perlu ditinjau kembali. Aktivitas Penting-Mendesak pada Kuadran 1 barangkali menurun. Maka waktu luang yang tersedia sungguh berbahaya. Jika tak direncanakan dengan seksama, ia kan menjebak kita mengerjakan hal yang Tak Penting namun tampak penting karena ia Mendesak (Kuadran 3). Atau bahkan terlalu bersantai dan asyik di aktivitas Tak Penting dan Tak Mendesak pada Kuadran 4.

Padahal, ada aktivitas yang Penting namun Tak Mendesak di Kuadran 2. Aktivitas seperti evaluasi, refleksi, koordinasi, diskusi, sharing session, knowledge update, yang sungguh amat mungkin dilakukan dalam kondisi slowdown seperti ini. Sebuah perusahaan memiliki contoh menarik. Mereka rutin tiap pagi mengadakan video call yang memasukkan aktivitas olahraga ringan bersama di depan kamera di rumah masing-masing.

Aktivitas 1 on 1 bersama tiap anggota tim yang biasanya kalah dengan rutinitas jadi mungkin untuk dilakukan, jika ia dijadwalkan. Tak menjadwalkan aktivitas harian di masa bekerja dari rumah sungguh berpotensi membuat kita tidak produktif.

 

Mengeksekusi dengan Ekselen

Adalah karya tim FranklinCovey bertajuk The 4 Disciplines of Execution yang mengajarkan bahwa dalam situasi yang menghendaki perubahan perilaku, maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menajamkan fokus. Putuskan 1 hal yang paling penting yang bisa dikerjakan dan dicapai dengan ekselen di kondisi sekarang. Sebab fokus pada hal yang tak bisa dikendalikan berarti membiarkan diri kita merasa kalah lebih sering.

Diskusikan dengan tim kita, apa target paling penting yang tetap bisa kita capai sekarang. Target yang ada dalam kendali kita. Jika 100 pelanggan menunda pesanan, dan hanya 10 yang tetap bisa memesan, maka pastikan yang 10 itu tak lepas dari genggaman kita.

Konsekuensinya, tindakan yang perlu dilakukan pun berubah. Maka diskusikan pula, tindakan apa yang ada dalam kendali kita, yang memungkinkan kita menjaga yang 10 itu. Jika bertemu rutin tatap muka tak lagi bisa, media apa yang akan tetap membuat mereka nyaman berinteraksi dengan kita?

Buatlah sebuat alat ukur sederhana untuk mengerjakan 2 langkah di atas secara rutin. Bertemulah dengan video call setidaknya 1x tiap pagi untuk melaporkan komitmen yang akan dikerjakan. Di akhir minggu, berbagilah keberhasilan sekecil apapun, dan belajar lah dari kebelum berhasilan yang terjadi. Kita membutuhkan lebih banyak usaha bersama, justru kala sedang terpisah jarak.

 

Sungguh amat menginspirasi yang diungkapkan oleh Simon Sinek dalam buku terbarunya, Infinite Game. Kegagalan dan keberhasilan itu silih berganti. Lawan dari kesuksesan itu sejaitnya bukan kegagalan, melainkan berhenti. Orang dan organisasi yang berhasil dalam jangka panjang itu bukan tak pernah gagal. Namun mereka melihat dunia sebagai permainan tanpa batas, sehingga memandang krisis sebagai masa pembelajaran. Sementara mereka yang gagal, memandang dunia ini layaknya finite game, yang punya batas akhir. Mereka berputus asa saat mengalami kesulitan, karena tak memandang adanya kehidupan lain di depan sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>