Setiap Pemimpin adalah Pemimpin Diri

Kadang, saya mendapati diri saya memahami seorang pemimpin layaknya orang super yang datang dari langit. Tanpa sebuah proses, ia hadir dan menyelamatkan pengikutnya. Baru belakangan saya sadari, dan mulai bertanya-tanya: benarkah ada pemimpin besar yang demikian?

Maka saya pun kembali menelusuri kisah hidup orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin besar. Sembari, mencermati para pemimpin di sekitar saya yang memiliki pengaruh kuat, meski posisinya tidak mentereng.

Dan, Anda pasti sudah tahu apa yang saya temukan. Ya, tidak satu pun pemimpin yang datang tiba-tiba. Setiap orang menjadi pemimpin akibat apa-apa yang telah mereka kerjakan. Dalam bahasa lain, akibat apa-apa yang telah mereka biasakan. Hingga kala satu ketika mendapat kepercayaan untuk menjadi pimpinan, secara alamiah ia memimpin, dan orang lain mengikuti.

Ah, lagi-lagi saya harus mewaspadai kata alamiah yang saya sebutkan tadi. Kata alamiah, bukanlah saya maksudkan sebagai sesuatu yang merupakan bawaan lahir. Sebab orang-orang yang dikatakan memiliki bakat alam, sejatinya perlu bertahun-tahun kerja keras untuk menjadikan bakatnya itu terlihat. Maka rasanya memang lebih baik kita pahami istilah bakat alam seperti layaknya benih dari sebuah tanaman. Meskipun ia benih terbaik, tidaklah meringankan tugas sang pemelihara untuk menjadikannya tanaman yang tumbuh dengan indah. Bahkan, justru sebab ia biji terbaik, maka sang pemelihara harus lebih ekstra cermat agar potensinya tak tersia-sia.

Kembali ke bahasan soal pemimpin tadi, menjadi jelas bahwa kepemimpinan memang bukan keterampilan yang eksklusif dan berdiri sendiri. Keahlian seorang pemimpin menyusun visi bagi organisasi yang ia pimpin, misalnya, tak lain sebab terlatihnya ia menyusun visi bagi dirinya sendiri. Kejeniusannya dalam mengeksekusi sebuah strategi, tak bukan karena terbiasanya ia secara disiplin menjalankan setiap rencana hidupnya. Keluwesannya dalam menggerakkan orang lain, pun merupakan buah dari ketekunannya membina hubungan dengan banyak orang dalam kehidupannya.

Adakah pemimpin besar yang tak seperti ini? Saya ragu jika ada.

Maka Anda tentu sepakat bahwa setiap pemimpin, tak lain adalah pemimpin dirinya sendiri. Ia didaulat menjadi pimpinan bagi orang lain, sebab ia telah terbukti memiliki kedaulatan atas dirinya. Dalam bahasa lain, ia diberi kepercayaan, sebab memang telah memiliki kelayakan tuk dipercaya.

Ah, jadi makin jelas bagi saya, bahwa kepemimpinan adalah soal pilihan, bukan posisi. Posisi, hanya merupakan akibat dari berbagai pilihan yang telah kita buat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>