Belajar pada yang Telah di Jalan Lurus

Ada 3 jenis insan yang Dia jelaskan pada pembukaan kitabNya. Satu di antaranya selamat, dua di sisanya celaka. Yang selamat adalah ia yang telah diberikan nikmat. Mereka yang dikisahkan dalam berbagai tempat di sepanjang jalan. Dan nikmat itu jelas bukan nikmat dunia, meski sebagian di antaranya dikaruniai. Nikmat itu nikmat di akhirat sana.

Yang celaka ada 2. Pertama, mereka yang dimurkai. Seperti apa kah kiranya yang dimurkai itu? Tentunya lah yang telah mengetahui namun terang-terangan tak mengamalkan. Kedua, mereka yang tersesat. Inilah yang salah jalan, salah belajar, salah berpikir, hingga akhirnya salah bertindak.

Insan cerdik tentu tahu, pada siapa ia mesti belajar. Ilmu jenis mana yang harus ditelusuri. Dan pada saat yang sama, diri yang cermat perlu waspada, pada kemungkinan ia tersesat, atau bahkan dimurkai.

Sebagaimana jalan yang terbaik adalah jalan yang lurus, maka insan terbaik nan selamat pun demikian adanya. Lurus saja hidupnya, jernih keputusannya, terang-benderang apa-apa nan diambilnya. Tak berliku. Tak berbelok-belok. Tak basa-basi. Keyakinannya teguh, tak bercabang-cabang. Lisannya lempeng, tanpa rasa takut. Seolah-olah ia senantiasa menyaksikan, bagaimana kelanjutan hidupnya kan dijalani.

Maka ilmu yang baik ialah ilmu yang mengantarkan diri tuk menjadi insan selamat diganjar nikmat. Hatinya ringan, tak banyak beban. Sebab ia tak gemar menyimpan apa-apa nan bukan esensi. Hidup baginya adalah perjalanan, tak perlulah membawa beban yang tak diperlukan.

Sementara itu, yang paling berbahaya adalah menjadi insan yang dimurkai. Orang yang dimurkai, biasanya lah yang gemar ngeyel. Sudah tahu, pura-pura tak tahu. Dengan sengaja melanggar apa yang dipelajari, hanya demi yang disebut gengsi. Dan jalan ini sungguh mengerikan. Maka ciri-cirinya demikian rinci dijelaskan, agar kita jangan sampai jatuh dalam jebakan. Berhati-hatilah, wahai diri, pada ilmu nan kala dipelajari, melahirkan suasana hati serupa itu. Pada lahirnya bisa jadi tampak baik, namun batin bergeser sedikit demi sedikit, menerbitkan kesombongan, keangkuhan, keakuan.

Jenis lain, ialah insan yang tersesat. Salah memahami, akibat tak mau terus mempelajari. Tersesat, tapi tak hendak bertanya. Menutup diri, mata, telinga, hati. Merasa puas dengan apa yang dimiliki. Mengira benar, padahal salah. Di kemudian hari, hanya penyesalan yang kan didapatkan. Waspadalah pada kebodohan jenis ini, wahai diri. Hindarilah rasa puas akan apa yang dipahami. Teruslah belajar, jauh-jauhlah dari merasa pintar. Jagalah kerendahan hati, dengan kesadaran penuh bahwa kebenaran itu ada, hanya diri ini kadang terlalu sempit memahami. Kendalikanlah rasa malas tuk bertanya. Pecutlah diri senantiasa. Di balik yang kau tahu, selalu ada samudera yang bahkan belum pernah terbersit dalam pikiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>