Belajarlah dari yang Terbaik

“Sungguh pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan yakin akan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.”

Al Ahzab: 21

Kenyataan bahwa diturunkannya agama ini melalui para utusan yang agung adalah pelajaran, sebab manusia diciptakan sebagai makhluk dengan kebutuhan belajar agar dapat terus bertahan hidup. Maka pada bapak kita Adam as, diajarkan nama-nama sebagai ilmu pertama yang menjadikannya lebih unggul dari malaikat. Begitu pula pada tujuh ayat yang diulang-ulang kita meminta untuk senantiasa ditunjukkan jalan yang lurus.

Menarik mencermati tentang jalan lurus ini. Ia lah jalan yang kita minta merupakan jalan yang telah proven, terbukti berhasil mengantarkan orang-orang yang dibalas dengan kenikmatan. Sebab jika tidak demikian, ada potensi diri ini kan terjerumus pada dua jenis jalan lain, yang jalan yang menyesatkan dan jalan yang memurkakanNya.

Di titik ini, sungguh betapa penting insan tuk senantiasa memastikan dirinya belajar. Dan tak sembarang belajar, melainkan belajar dari yang terbaik. Dari yang terbaik inilah kita berharap selalu berada di jalan yang lurus, yang terdekat menghubungkan antara titik sekarang dan titik yang dituju. Jadilah masuk akal mengapa para pendahulu tidak saja menguasai ilmu agama, melainkan penghulu berbagai ilmu pengetahuan. Sungguh tak ditemui kala itu, ilmuwan yang tak mendalam pemahaman agamanya. Sebab agama lah yang mendorong mereka untuk menggali pengetahuan.

Untuk urusan keseluruhan hidup, dunia dan akhirat, kita disediakan manusia terbaik, yang keteladanannya tak pernah kadaluwarsa tuk dipraktikkan. Dari dulu hingga sekarang, akhlaknya melampaui standar paling tinggi layanan prima perusahaan mana pun.

“Tapi mengikuti beliau sungguh tak mudah?” tanyamu.

Maka belajarlah dari sahabat-sahabatnya, yang mengalami perubahan zaman, menemui berbagai ragam permasalahan, namun berbekal kaidah yang telah dipelajari dari Sang Teladan, berhasil jua menemukan jawaban-jawaban.

“Tapi mereka belajar langsung dari Sang Teladan? Bagaimana dengan kami?” keluhmu lagi.

Maka belajarlah dari murid-muridnya, yang tak lagi bersentuhan langsung dengan sumber utama, namun berbekal kesungguhan dan kokohnya niatan, ditunjukkanNya pula jalan-jalan keselamatan dan pengetahuan.

Berhenti di sini, aku teringat pada bahasan tentang bagaimana ilmu agama diajarkan dan dirumuskan. Ia melalui proses bernama sanad. Satu ilmu diajarkan dari guru kepada murid dengan rantai yang jelas. Mereka yang ilmunya diterima, sebab diteliti memang memiliki rantai yang berasal dari orang-orang yang terpercaya. Sedikit saja ada cacat pada akhlaknya, diragukan sudah ilmu yang diajarkannya. Dengan demikian, terjagalah kemurnian ilmu dari generasi ke generasi, hingga tibalah kita tuk menikmati.

Maka kita sungguh diminta untuk selalu belajar, dan jangan pernah tanggung-tanggung, belajarlah pada yang terbaik. Ingin menjadi apa kita, carilah orang-orang yang telah lebih dulu mencapainya, lalu belajarlah kepadanya. Jika belum atau tidak bisa ditemui, carilah murid-muridnya, dan pelajarilah karya-karyanya. Pada tiap perjalanan pemahaman, terbitkanlah selalu tanya, “Pada siapa lagi ku bisa belajar lebih lanjut? Lalu siapa? Lalu siapa? Lalu siapa?” Demikian seterusnya.

Sebab peran kita teramat besar dalam kehidupan. Apa yang kita hadapi kemarin, kan segera berubah esok hari. Hanya kebiasaan belajar dari yang terbaiklah yang kan mudahkan kita atasi beragam persoalan hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>