Berdoalah, Niscaya Dikabulkan

“Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan doamu.”

Ghafir: 60

Demikian janjiNya. Tiap doa kan dikabulkan. Cara mengabulkannya lah yang berbeda-beda. Ada yang dijawab segera, ada yang ditunda. Ada yang diberi tepat yang diminta, ada yang digantikan yang lebih baik. Namun janjiNya selalu kan ditepati. Insan lah yang kerap tak sabar, atau tak jeli melihat pengabulan itu.

Maka insan produktif, demikian meyakini ampuhnya doa, hingga mereka tak pernah luput meminta. Sebab disadari bahwa sehebat apapun usaha, takkan terjadi tanpa perkenan dariNya. Atas lemahnya diri, mereka serahkan pengaturan padaNya. Karena itu lah kerjanya tanpa beban, sebab keyakinan di dalam dada, takkan pernah usaha dan doa tersia-sia.

Sisi lain, doa adalah pemicu usaha. Pada doa yang baik, doa yang tepat, ada resapan kejernihan dalam pikiran, menelusup ke dalam perasaan. Doa yang baik, adalah asupan bagi jiwa, agar tergerakkan ia membimbing raga melakukan tindakan yang diperlukan tuk mewujudkannya. Maka pelajarilah doa, wahai diri, lalu bacalah dengan perlahan. Hayati hingga ia bersihkan pikiran dari bayangan keraguan. Pikiran yang bersih kan melahirkan intensitas rasa nan tinggi, hingga terdoronglah tangan dan kaki ini.

Berdoalah, niscara dikabulkan.

Sebagian besar memang melalui kuasaNya, pengaturanNya. Namun selalu ada bagian penting dari usaha kita tuk mewujudkan pula. Dan bagian ini lahir sebab keselarasan pikir dan rasa, yang menunjukkan pada tubuh mesti bergerak ke mana. Salah satu jalan pengabulan adalah teguhnya diri tuk terus berusaha, bangunnya tubuh meski sempat terjatuh, senyumnya bibir padahal perih merintih.

Karena hati nan berbolak-balik, maka doa tak bisa sekali. Ia mesti diulang, sebagai wujud kesungguhan diri. Pikiran buruk dan pesimis datang silih berganti. Jika pikiran tak diisi dengan doa yang baik, niscaya penuh lah ia dengan kalimat buruk penutup hati.

Kita memohon jalan yang lurus, sebab ia lah jarak terdekat antara masa kini dan yang dituju. Namun tak ada hal berharga yang dicapai begitu saja. Ada halangan berupa godaan, yakni jalan yang sejatinya sesat dan dimurkai. Repotnya, keduanya kerap halus sekali. Sebagaimana perbedaan sudut yang hanya beberapa derajat ditengok dari sini, bisa jauhnya luar biasa di ujung sana. Maka jalan lurus itu menghendaki diri ini tuk terus lakukan kalibrasi. Panjatkan doa penuh penghayatan tiada henti.

Seperti halnya makanan bagi tubuh, diperlukan setidaknya dua-tiga kali sehari. Begitu pulalah perlunya doa bagi jiwa. Keyakinan kerap hilang ke sana kemari. Doa yang khusyuk lah obat agar ia teguh berdiri.

Berdoalah, niscaya dikabulkan.

Sebab sejatinya diri ini pasti meminta. Ya, selalu ada harap dalam hati. Jika bukan kepadaNya, lalu kepada siapa? Adakah harapan itu kokoh, sementara bukan kepadaNya ia kita pinta? Maka agar tak tanggung-tanggung, panjatknlah doa kepadaNya. Agar yang mengisi jiwa hanya harapan yang teguh pada yang memiliki kuasa tuk mengabulkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>