Jalan yang Lurus

Jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus. Wajarlah jika inilah dambaan insan yang sedang bepergian. Adanya jalan lurus selain memudahkan juga menghemat banyak sekali sumber daya. Tidak perlu banyak berpikir. Cukup lurus saja.

Namun yang diidamkan memang tak selalu ada dalam kenyataan. Atau setidaknya, tak pernah benar-benar ada 100 persen. Jalan lurus seperti jalan tol itu ada, namun melaluinya tak gampang jua. Luruskan saja stir mobil di jalan tol yang kosong tak ada kendaraan lain, lalu gas kendaraan. Jika stir tak dipegang dan dijaga arahnya, mobil tak lurus juga. Pasti berbelok sedikit demi sedikit, hingga kemungkinan menabrak pembatas.

Sebab dunia ini memang tempatnya ujian. Kita lahir sebagai insan dengan potensi yang sama, bagaimana kah hendak diberi ganjaran yang berbeda-beda? Ya dengan ujian. Sesiapa yang berhasil melalui ujian, layak mendapatkan yang sesuai dengan kesulitan yang dilalui. Maka jalan tol pun menyisakan banyak ujian. Tak besar. Kecil-kecil saja. Jalanan yang tak rata. Angin yang berhembus dari kiri dan kanan. Batu-batu kerikil yang bertebaran. Dalam kesendiriannya, ujian-ujian itu tak besar. Tapi bersama-sama, beriringan, berjajar-jajar, bertubi-tubi, ia menyisakan bahaya jika stir tak dalam kendali.

Jadilah hanya untuk urusan mempertahankan stir di jalan tol yang lurus itu, kita perlu ilmu. Perlu kursus bahkan. Sementara jalanan serupa tol sejatinya tak banyak. Jauh lebih banyak jalan yang tak hanya terhalangi oleh kerikil, melainkan batu besar, kabut, air, lubang, kelokan-kelokan tajam, belum lagi perilaku orang di sekeliling. Jelas, teramat jelas, kita memerlukan ilmu. Ilmu yang tak hanya kita dapatkan di bangku. Ilmu yang dikucurkan sepanjang jalan oleh Yang Maha Memiliki.

Dari buku-buku, kita berharap untuk tahu. Namun tahu, masihlah jauh dari mampu. Ada hal-hal yang tak bisa terajarkan di buku, hanya bisa didapatkan saat ditemui, atau bahkan setelah ditemui. Inilah sebab kita perlu selalu memohon agar dibimbing ke jalan yang lurus. Bahwa belajar adalah aktivitas sepanjang hayat, sebab kita tak pernah tahu apa yang akan kita hadapi 1 detik setelah ini. Diri ini hanya bisa mengira-ngira, berdasarkan apa yang kita lalui kemarin. Padahal yang sebentar lagi, tak pernah sama persis dengan yang barusan lewat.

Kita mempelajari ilmu, agar terbimbing di jalan yang lurus. Jalan lurus yang kini mungkin masih imajiner, namun bagiNya telah nyata dan tertera di catatanNya. Kita memohon petunjukNya agar ditunjukkan jalan itu dalam hati dan pikiran kita. Jadilah ciri-ciri baiknya ilmu adalah lurusnya lelaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>