Jenis-jenis Ilmu

Meminjam model Taksonomi Bloom yang telah disempurnakan oleh Anderson dan Krathwol, maka proses belajar dimulai dari mengingat, lalu memahami, baru bisa mengaplikasikan, kemudian menganalisa, naik ke mengevaluasi, hingga kemudian menciptakan.

Dari sini, kita bisa menarik simpulan bahwa ilmu itu berjenjang. Berjenis-jenis. Ia tak hanya satu, dan karenanya tak dipelajari dengan satu cara saja.

Benarlah sebuah nasihat yang mengatakan, “Jikapun kau berhenti sekolah, jangan pernah berhenti belajar.” Sebab sekolah amat membantu kita mempelajari ilmu jenis tertentu. Namun ilmu jenis yang lain tersebar terlalu banyak di muka bumi, di luar ruang-ruang kelas yang disediakan oleh sekolah. Sungguh banyak orang disediakan ilmu di hadapannya, terang benderang, namun gagal mengambil pelajaran, sebab tak terampil belajar.

Maka mari kita bedah perlahan-lahan, jenis-jenis ilmu ini. Agar paham kita dibuatnya, tersebab mengerti hakikat tiap jenisnya.

Mengingat. Ilmu dipelajari pertama kali dengan mengingat. Apa yang diingat? Pengetahuan. Informasi. Fakta. Data. Inilah jenis ilmu yang diisyaratkan dalam kisah Nabi Adam as. Allah Swt ajarkan beliau nama-nama benda. Sebab dari nama-nama lah lahir ilmu. Fenomena yang tersedia di hadapan, belum lah jadi ilmu. Hanya ketika ia diberi nama, ia berubah menjadi ilmu, jadi informasi. Nama merupakan jenis ilmu paling dasar. Tanpa nama, sesuatu belum kan tampak nyata. Jika tak tampak nyata, ia sulit diingat, apatah lagi dianalisa.

Pengetahuan didapat dengan pertanyaan. Maka bertanya, adalah keterampilan belajar paling dasar. Tanpa pertanyaan, tak datang pengetahuan. Tanpa pengetahuan, tak ada yang bisa diingat. Cobalah mengikuti diskusi sebuah bidang keilmuan yang jauh dari keahlian dasar kita. Sehari saja. Pasti tak banyak yang bisa kita dapatkan. Apa pasal? Sebab kita tak punya pertanyaan, meski ilmu tersedia di hadapan.

Pengetahuan serupa bahan baku awal dari pembelajaran. Ia membatasi pikiran dan membangun ruang-ruang. Dalam ruang itu lah kelak kan terisi pemahaman, keterampilan, dan seterusnya. Maka tajam dan kritisnya pertanyaan menentukan seberapa sempit dan luasnya ruang yang tersedia. Kadang, pertanyaan kita terlalu sederhana hingga ruang yang terbangun di awal demikian sempit. Namun alhamdulillah, pikiran kita diciptakanNya begitu luwes. Yang sempit itu bisa pula diperluas nantinya dengan pertanyaan-pertanyaan baru.

Memahami. Apa yang dipahami? Kaitan, proses, cara kerja. Nama-nama barulah label dari fenomena. Agar bermakna, ia mesti terangkai satu sama lainnya. Antara kain dan busa, bisa terdapat kaitan pada keduanya, hingga kita sebut sebagai bantal. Dan dari bantal, bisa dipahami pula fungsinya sebagai penyangga kepala yang nyaman. Maka setelah bertanya dan mendapatkan pengetahuan, barulah bisa lahir pemahaman.

Dari mana datangnya pemahaman? Dari memahami keterkaitan. Cerita di antara fakta-fakta. Maka memahami sesuatu datang dari menceritakan kembali kaitan yang berhasil ditemukan antar data-data. Imajinasi adalah modalnya. Jika informasi ibarat baju, maka memahami ibarat mengepaskan baju pada tubuh. Fitting pengetahuan, hingga jadi pemahaman. Tak heran, fakta yang sama bisa dipahami berbeda oleh insan berlain latar belakang. Sebab imajinasi tiap pembelajar amat tergantung pada cerita-cerita yang telah dikoleksi dalam pikirannya.

Jika pengetahuan ibarat membangun ruang, maka pemahaman mulai mengisinya dengan berbagai ornamen yang menjadikan ilmu memiliki identitas. Sebuah ruang bisa dimaknai sebagai ruang tidur atau pun ruang kerja, bergantung pada ornamen yang mengisinya. Dari ornamen itu lahir cerita, apa saja yang dilakukan penghuninya di sana.

Proses memahami lebih mudah dijalani via diskusi. Berbicara. Bertukar pikiran. Berdialog. Sebab bicara menghendaki pengolahan ide sebelumnya. Dan pengolahan yang menjadikan ilmu terjadi sebagai pembicaraan, dengan sendirinya merupakan proses penataan pemikiran.

Mengaplikasikan. Manfaat ilmu baru terasa di tahapan ini. Amal, sebagai hasil dari pemahaman. Inilah proses mengeksekusi ide, menggunakannya untuk menyelesaikan permasalahan, mengoperasikan sesuatu, memproduksi sesuatu, mendatangkan hasil nyata. Ia lah tahap yang disebut sebagai kompetensi. Ia lah tahapan ilmu yang bisa dilihat kasat mata.

Keterampilan datang dari latihan, pengulangan, dan perbaikan. Banyak teori memberikan panduan. Ada yang hitungan hari, 21-30, ada yang hitungan jam, 20 jam. Mana pun yang digunakan, tiada jalan lain agar ilmu jadi amal selain ia dilatih dan diberi masukan oleh orang yang telah lebih dulu menguasainya.

Dalam proses lapangan inilah lahir ilmu yang sulit dituliskan, diajarkan lewat tulisan ataupun kelas. Ia hanya bisa didapat dari pengamatan atas tinjauan lapangan. Kesenjangan antara standar keahlian yang diinginkan dengan kondisi yang tampak menjadi ruang bagi lahirnya pemahaman baru.

Menganalisa. Hanya ketika sebuah keterampilan telah diraih, diri ini kan mendapati bahwa pada panduan standar, selalu ada ruang perbaikan. Banyak kejadian tak terselesaikan hanya bermodalkan teori dasar, karenanya menghendaki perbaikan tak hanya dari sisi perilaku, namun metode itu sendiri.

Menganalisa berarti memahami kaitan antar data dari tataran yang lebih tinggi. Membaca tanda-tanda yang terlewat pada tahapan pengaplikasian. Menandai apa yang berjalan dan tidak berjalan. Mengelompokkan yang bisa dilanjutkan dan yang perlu ditinggalkan.

Menganalisa tak bisa dipisahkan dan mempraktikkan. Sebab kerap dalam mengenali ruang perbaikan kita perlu melakukan percobaan-percobaan. Bereksperimentasi untuk benar-benar membedakan mana cara melakukan yang berjalan dan yang tidak. Dalam berkali-kali putaran, kadang kan lahir sesuatu yang berbeda, yang tak bisa lagi disamakan dengan yang pernah ada.

Kemampuan menganalisa lahir dari kesungguhan menyusun kategorisasi, perbandingan, pemeriksaan, pengamatan mendalam, eksperimentasi, dan pengujian. Ia bisa dilakukan sendirian, namun jauh lebih akan kaya jika dilakukan bersama-sama. Pisahkan data dari analisa, sebab dari data yang sama akan mungkin lahir hasil analisa yang berbeda.

Insan yang bisa menganalisa hanyalah ia yang telah melalui jalannya. Hanya dengan berkali-kali melalui jalan, kita kan mampu menangkap inti, memisahkan mana yang esensi dan mana yang hiasan semata. Dari yang inti, perbaikan, pengembangan, penemuan bisa terjadi.

Mengevaluasi. Lebih mendalam dari hasil analisa adalah membuat penilaian dan keputusan. Menilai baik dan buruk, tepat dan tidak, pas kurang atau lebih. Melakukan ini mestilah mengacu pada dasar. Pada filosofi. Maka penguasaan akan kerangka berpikir yang tak disadari adalah keniscayaan. Sebab praktik, sejatinya adalah pengejawantahan dari filosofi. Ide dasar yang diniatkan untuk menghasilkan apa nan diharapkan. Maka praktik mesti dievaluasi berdasarkan ide dasar itu. Adakah ia memenuhi kebutuhan dari niatan yang mendasari.

Memberikan penilaian, memerlukan keyakinan dan keberanian. Ada demikian banyak ilmuwan yang hanya berani sampai pada tataran analisa, lalu membiarkan orang lain mengambil keputusan. Tak salah, sebab memang keyakinan dan keberanian itu sendiri ialah milik diri yang mesti dilatih.

Di tataran evaluasi, data-data tak mesti setara. Ada data dan hasil analisa yang lebih kuat dibanding yang lain, yakni yang lebih mampu melayani niatan dasar. Maka insan yang mampu melakukan di tataran ini, hanyalah ia yang telah melewati tahapan aplikasi dan analisa dengan jam terbang dan penghayatan yang tinggi. Sebab ianya tak hanya mesti pandai, namun juga bijak. Karenanya, dalam situasi nan berbeda, hasil keputusan, bisa jadi tak serupa, meski data dan analisa yang diajukan sama.

Keterampilan mengevaluasi dapat dikuasai dengan rajin melakukan analisa dan refleksi pada tiap nan dilalui. Kaitkan apa yang dikerjakan dengan landasan perlunya dikerjakan. Renungkan kaitan antara bagaimana dan mengapa. Naik turun dari langit ke bumi demi menandai keselarasannya. Perluas wawasan dari keilmuan yang berbeda sebab hampir mustahil ada penyelesaian atas permasalahan hanya dengan mengandalkan satu jalur ilmu semata.

Menciptakan. Jika di tataran belajar sebelumnya ada proses mengevaluasi praktik dengan menggunakan filosofi, di tahapan ini sejatinya adalah proses mengevaluasi filosofi itu sendiri. Ya, filosofi sungguh amat halus, namun demikian memengaruhi. Ia bekerja tanpa disadari. Jika sudah melekat, sulit dilepaskan. Ia membatasi gerak dengan selubung yang sulit dilampaui.

Hanya insan yang bercara pandang luas, bercara berpikir mendalam, yang mampu mengenali ketidaktepatan, atau kesempitan dari sebuah filosofi. Sebab ketika sebuah filosofi diperbarui, ia mengubah banyak hal secara signifikan. Jikapun ada praktik yang mirip, namun ia digunakan dengan cara yang berbeda. Smartphone itu telepon, tapi kegunaannya serupa bumi dan langit jika dibandingkan dengan telepon genggam yang lahir pada era sebelumnya.

Kemampuan menciptakan dilatih dengan berpikir mendalam. Membaca tanda-tanda yang tak mesti tampak jelas. Membaca petunjuk dalam rentang waktu yang jauh lebih panjang. Membiasakan diri melihat melampaui yang tersedia di hadapan. Bertanya mengapa berulang-ulang hingga mendapati apa nan benar-benar hakiki.

Dalam menciptakan, latar belakang keilmuan tak bisa lagi jadi batasan. Diri ini mesti bersedia melepaskan apa yang digenggam sekian lama, untuk menerima apa yang selama ini tak disadari. Bukan membuang semuanya, melainkan justru menerima yang lainnya. Menyadari bahwa diri ini tak banyak tahu, karenanya mesti terus mempertahankan rasa ingin tahu.

Dan penciptaan, bukanlah sesuatu yang bisa dibatasi waktu. Ia adalah proses berkelanjutan dalam menyempurnakan langkah-langkah kecil. Kita mesti nyaman dalam ketidakpastian—toh ketidakpastian itulah sesejatinya kenyataan. Habisnya usia mesti diyakini sebagai titik mula dilanjutkannya pekerjaan oleh orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>