Membaca Seperti Ngemil

Membacalah serupa ngemil. Sedikit demi sedikit, gemuklah pikiran dibuatnya.

Pernah kuhitung-hitung, jikalau kuluangkan waktu 15 menit saja, rupanya ku bisa menghabiskan sekitar 5 lembar tuk kubaca. Artinya, 10 halaman sudah kulahap. Dalam sebulan, jadilah ia 300 halaman, yang berarti jumlah halaman rerata buku bergizi. Dalam sebulan, kuhabiskan 1 buku, hanya bermodalkan 15 menit setiap hari.

Bagaimana setahun?

Tentu 12 buku. Ah, dan apa artinya 12 buku itu?

Jika dikira-kira, buku yang sering direkomendasikan oleh para dosen kala kuliah tiap semester, mungkin sekitaran itulah jumlahnya per semester. Jadilah bermodalkan 15 menit setiap hari, setara dengan materi kuliah 1 semester.

Masuk akal?

Tentu. Itu baru 15 menit. Belum 30 menit. Dan coba pikirkan, berapa banyak waktu 15-30 menit setiap hari yang terbuang percuma? Bengong. Santai-santai tanpa tujuan. Menonton tayangan tak bermutu. Bergosip. Keliling mal. Maka sungguh benar firmanNya, bahwa dalam urusan waktu, sungguh manusia itu default-nya merugi. Sebab waktu yang sedikit, jika direncanakan dengan baik, dirutinkan setiap hari, merupakan investas yang luar biasa di kemudian hari. Dan waktu yang sedikit itu pula, kala tak direncanakan, menguap dan tak meninggalkan bekas pada tubuh dan jiwa.

Merasa tak punya waktu membaca buku?

Ayolah, 15 menit tiap hari? Yakin tak ada?

Ya, bermodal 15 menit, berarti 3600 halaman buku setahun. Tak melakukannya berarti melepaskan ilmu yang tersebar dalam 3600 halaman itu setiap tahunnya. Jika karirku sejak lulus kuliah sudah berlangsung 10 tahun saja, maka ku telah kehilangan 36.000 halaman ilmu.

Mengerikan?

Ya. Maka sungguh, wahai diri, jangan sia-siakan 15 menitmu. Jikapun tak sepertiku, 5 halaman dalam 15 menit, melainkan baru separuhnya, ia tetap layak diperjuangkan.

Betapa banyak orang merasa karirnya mentok, tak dianggap kompeten, tak dipromosi bertahun-tahun, namun tak menyadari berapa halaman telah ia sia-siakan. Duabelas buku setahun, setara bahasan satu semester, berarti dalam 8 tahun setara pula dengan kuliah S1. Modalnya? Limabelas menit!

Masuklah di akal kita jika perintah pertamaNya adalah membaca. Membaca dengan namaNya, sebab segala ilmu dariNya. Membaca berbekal niat untuk ibadah kepadaNya kan hadirkan pemahaman yang tiba-tiba, entah dari mana. Sungguh ilmu itu dariNya, meminjam wasilah penulisnya. Penulisnya tentu punya kekurangan, apatah lagi jika telah melewati penerjemah. Namun Sang Pemilik Ilmu sungguh takkan terhalang dari memberikan hidayah pada siapapun yang dikehendakiNya.

Tak kutemukan, pribadi produktif yang tak gemar membaca. Sebab membaca adalah cara paling murah mendidik diri. Kau boleh berhenti sekolah, tapi jangan pernah berhenti belajar. Dan membaca adalah jalan belajar yang membuka samudera ilmu tanpa batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>