Mencintai Kekurangan

 “Cintai kekurangan pasanganmu, sebab kelebihannya adalah bonus.”

Sultan Djorghi, di NLP Conference 2019

 

Ini adalah hikmah yang banyak peserta NLP Conference 3 November 2019 lalu dapatkan, di sesi panel sore hari. Dalam diskusi sepanjang 90 menit itu, kalimat Bang Sultan mendapat sambutan yang meriah, sekaligus menyisipkan kesunyian dalam hati saya. Karena inilah inti dari hidup bersama dengan orang lain.

Kok bisa?

Begini ceritanya.

Kehidupan ini layaknya puzzle. Dalam kesendirian, potongan puzzle hampir-hampir tak memiliki fungsi, pun keindahan. Kita bisa melihat potensinya. Ada bentuk yang tak sempurna dalam hakikat materinya. Namun sendiri saja, apalagi jika terlepas dari kumpulannya, ia tak bermakna. Potongan puzzle baru bisa menjalankan fungsinya jika bersama dengan potongan lain yang ia telah didesain untuk hidup dalam gambaran utuhnya. Bedanya dengan kita, gambar utuh itu tak pernah kita benar-benar ketahui secara pasti. Kita hanya sanggup mereka-reka, lalu perlahan-lahan melihat hasilnya.

Nah, layaknya potongan puzzle tadi, sendirian, yang tampak hanyalah ketaksempurnaan. Ada potensi. Ada bakat yang tersirat. Seperti tonjolan-tonjolan pada potongan puzzle. Namun ia baru aktual, nyata, kala kita telah menemukan potongan-potongan lain yang menyediakan ruangnya tuk kita lengkapi dengan potensi yang kita miliki. Konsekuensinya, kita pun mesti bersedia tuk diisi oleh kelebihan orang lain. Kita mesti mengakui bahwa ruang kekurangan itu ada, dan membiarkan orang lain merasa dibutuhkan. Sebab kita memang membutuhkannya. Begitu pun diri kita. Kita perlu ruang kekurangan yang disediakan orang lain agar kita berguna, bermanfaat, bisa menjalankan fungsi keberadaan kita.

Maka tak ada lain, rasa yang layak dihadirkan saat mengenali kekurangan pasangan adalah memang rasa cinta. Sebab adanya kekurangan itulah guna diri kita. Begitu pula kita mesti mensyukuri dan mengakui kekurangan diri. Lantaran kekurangan diri itulah kita bisa menyediakan kebahagiaan bagi pasangan kita sebagai hasil dari teraktualisasinya potensi dirinya.

Menyadari 2 kutub ini, kelebihan dan kekurangan, akan menjadikan diri ini lebih realistis melihat kehidupan, melihat manusia. Saat tampak kelebihan, kita sadar bahwa pasti ada kekurangan. Saat tersibak kekurangan, kita pun sadar bahwa pasti ada kelebihan. Biasa saja. Santai saja. Yang wajar-wajar saja.

Kehidupan, terutama keluarga, adalah infinite game—meminjam istilah Simon Sinek. Yang tampak kurang sekarang bisa tampak lebih nantinya. Yang tampak lebih sekarang pun bisa tampak kurang nanti. Tak seperti puzzle yang telah didesain dengan ukuran terbatas, kehidupan kita adalah gambaran yang—setidaknya dalam keterbatasan pandangan kita—tak terbatas. Selama hayat masih di kandung badan, selama waktu masih terus disediakan, maka batasan masih bisa terus diluaskan. Maka kurang dan lebih hanyalah soal kesementaraan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>