Mengerjakan yang Tak Dibayar

Adalah para nabi, yang nama-namanya menyejarah, diabadikan hingga ribuan tahun lamanya, berkali-kali menyatakan, “Hai kaumku! Aku tidak meminta harta kepadamu sebagai imbalan atas seruanku.” Tak satu pun nabi menjadikan kerjanya sebagai mata pencaharian. Namun justru kerja itulah yang menjadikannya manusia mulia. Sebab ia adalah penyampai, yang hanya bergantung pada yang memerintahkan penyampaian. Siapakah sudi meminta dari selain Pemilik Segalanya?

Maka pada kerja-kerja yang tak dibayar, kita kerap mendapati kesungguhan dan ketulusan. Tidak saja pikiran dan tenaga dicurahkan, harta benda pun diserahkan. Sebab mereka meyakini, milik diri bukan apa yang ada di genggaman, melainkan apa yang telah digunakan. Digunakan untuk apa itu lah kunci kebahagiaan.

Sisi lain, betapa banyak keluhan lahir dari kerja yang dibayar, digaji tinggi, difasilitasi dengan kemewahan, disediakan berbagai keperluan. Ada kesenangan dalam apa yang diterima, namun ia tak lama. Begitu sebuah keinginan terwujud, terbitlah keinginan baru, lalu yang ada di genggaman seketika tampak kurang bernilai. Maka bayaran, demikian sebuah nasihat dalam khazanah ilmu organisasi, adalah motivator paling buruk. Terbukti, insan yang bekerja sepenuh sungguh, tak begitu peduli pada tanggal gajian. Apa yang diterima cukup adanya. Kebahagiaan, kesempatan, pengabdian, adalah beberapa penyebab kesungguhan mereka.

“Jika ingin melihat potensi kepemimpinan seseorang,” ulas pakar kepemimpinan John C. Maxwell suatu kali, “cermatilah kala mereka menjalankan kerja-kerja sosial.” Ya, justru bukan di tugas yang menjadi jobdes-nya. Sebab pada yang tak dibayar, kerap ia kerahkan segala apa yang dipunya. Dan di sana lah tampak apa-apa yang tersembunyi sekian lamanya.

Pada para nabi kita berkaca, bahwa balasan sejati adalah pada Dia yang mampu memberi segala. Wajarlah kiranya, jika apa yang ada di tangan manusia itu remeh belaka. Karena remeh, ia tak diperhitungkan. Karena tak diperhitungkan, ia tak menjadi alasan. Satu-satunya alasan adalah apa yang kan diberikan pada waktunya nanti.

Jika mengerjakan yang tak dibayar belum menjadi kebiasaanmu, cobalah, wahai diri. Terjunkanlah dirimu, luangkanlah waktumu, untuk membantu mereka yang membutuhkan. Biarkan dirimu larut tanpa ikatan keduniawian. Hingga lepas simpul-simpul potensi diri yang terhambat deskripsi pekerjaan. Dan sebagai bonusnya, niscaya kau rasakan kebahagiaan. Adakah yang lebih berharga daripada kebahagiaan dari dalam?

Hitunglah waktu luangmu, waktu yang kala itu tak banyak kau hasilkan selain bersantai-santai belaka. Lalu baktikan, sumbangkan kelapangan itu untuk aktivitas yang menghasilkan kebahagiaan pada diri orang lain.

“Tapi aku tak punya bakat yang berarti,” ujarmu.

Duhai, Tuhan ciptaan dirimu dalam sesempurnanya penciptaan. Apa yang kau miliki tak bercacat. Justru, kerapkali, dalam kerja yang tak dibayar, sebab tak ada ikatan formal, bakat itu nampak sendiri. Lalu tanpa kau sadari, rasa penuh makna menyelusup ke dalam hati, sebab telah mengerjakan yang berarti.

Pada yang tak dibayar oleh manusia, Dia sediakan balasan sempurna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>