Perbuatan yang Pasti Berbalas

“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan sebesar zarrah, niascaya ia akan melihat balasannya.”

Az Zalzalah: 7-8

Tidak sedetik pun diri ini lepas dari pengawasan. Pengawasan yang lebih dekat dari pemahaman akan diri sendiri. Dalam pengawasan, adakah insan yang kan bermain-main dalam hidupnya? Ada dua pilihan. Pertama, penuh harap, sebab yakin senantiasa diperhatikan. Kedua, penuh waspada, juga sebab yakin senantiasa diperhatikan. Yang mana pun dari harap dan cemas, keduanya mendorong insan yang yakin untuk menjalani hidup dengan kesungguhan.

Diyakinkan olehNya, bahwa siapapun yang mengerjakan kebaikan, meski ia seberat zarrah, partikel paling kecil dalam kehidupan, ia kan melihat balasannya. Sungguh sebuah jaminan yang luar biasa. Adakah kebaikan yang demikian kecil? Rasanya tidak ada. Atau paling tidak, sulit untuk disadari. Maka ayat ini sungguh sebuah penguatan bahwa yang kecil saja dibalas, apalagi yang besar.

Karena kesadaran inilah, rasa optimis hadir dalam diri insan beriman. Tak pernah ia meremehkan sebuah usaha, sekecil apapun tampaknya. Tak pernah ia bermalas-malasan mengerjakan tugas, meski tak seorang pun memperhatikan. Sebab memang diyakini, ada penglihatan yang tak pernah luput, sedang mata manusia tak sanggup mengamatinya.

Oleh sebab inilah, insan beriman adalah orang-orang yang amat produktif. Orang-orang yang amat memperhatikan tiap usaha, dan pada saat yang sama begitu jeli akan kesia-siaan yang kerap menggoda. Karena kebaikan seberat zarrah kan berbalas, begitu pun keburukan seberat yang sama kan berbalas pula. Sungguh merugi, jika pada hari akhir nanti yang buruk itu lah yang tampak menggunung, tersebab ia tertimbun tanpa disadari.

Betapa banyak kerusakan besar yang lahir dari kesalahan kecil. Mereka yang menderita stroke, bukanlah disumbat oleh sesuatu yang besar. Sumbatan dalam otak itu kecil saja, tak kasat mata. Namun dampaknya begitu luar biasa.

Tengoklah pula rumah yang megah. Beberapa hari saja tak ditinggali, langsung tampak kusam seluruh jendelanya. Sebab kemegahannya adalah akibat dari rajinnya para penghuni rumah tuk membersihkan debu yang menempel, meski sejatinya tak banyak yang terlihat.

Kendaraan yang sedang melaju kencang, kerap terpelanting bukan karena gundukan tanah, melainkan batu yang kecil.

Perjalanan ribuan langkah, dimulai dari satu langkah. Demikian nasihat bijak. Maka insan produktif tak pernah melalaikan setiap langkah. Pada setiap pagi ia tanyakan pada diri, “Kebaikan apa yang akan kukerjakan hari ini? Adakah semua rencanaku hari ini berada dalam kebaikan dan kebenaran?”

Tak lupa ia pastikan pula, “Potensi keburukan apa yang mungkin kan menjerumuskanku hari ini? Bagaimana aku hendak menghindarinya? Adakah pula kemungkinan kesia-siaan yang kan melalaikanku hari ini? Apa yang kan kulakukan tuk menjauhinya?”

Di akhir hari, renungan panjang pun terjadi, “Adakah kebaikan yang kurencanakan terlaksana? Adakah ku berhasil menghindari keburukan?’

Ditutupnya hari itu dengan doa, “Duhai Rabb, terimalah yang baik dariku, meski hanya seberat zarrah di hadapanMu. Ampunilah yang buruk dariku, meski hanya seberat zarrah bagiMu.”

Pada tiap perbuatan, kan tersedia balasan. Maka teruslah melangkah, meski terbentang rintangan. Sebab rintangan itu pun ada, atas izinNya, untuk menunaikan tugasnya. Tugasnya mengujimu, adakah kau teguh dalam langkahmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>