Spiritual NLP

Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan

Wah, apa nih?

Ya, Spiritual NLP.

Maksudku, apa lagi nih? Memangnya NLP kurang, kok musti dispiritualkan?

Begitulah.

Wah, bukannya NLP itu sudah komplit? Kurang apa lagi?

Beneran pengen tahu?

Ya iyalah. Jangan bikin penasaran donk.

Boleh. Tapi biar nyambung, baca dulu artikel saya yang berjudul “NLP Dalam Hidup Saya”. Karena artikel itulah yang telah membuat saya memutuskan untuk memulai pengembangan Spiritual NLP sekarang.

OK, nanti tak baca. Sekarang prolog dulu donk.

Boleh…

NLP dan Spiritualitas

Pembelajaran NLP yang saya tempuh sejauh ini menghantarkan saya justru kembali pada materi yang pertama kali saya pelajari dulu: NLP adalah sebuah metodologi untuk memodel struktur pengalaman subyektif. Dari sini, para pengembang NLP pun berkelana mencari orang-orang yang disebut-sebut sebagai excellent performers dan berusaha menyusun sebuah model dari apa yang berhasil dengan begitu brilian mereka lakukan. Salah satu simpul dari pengelanaan ini adalah munculnya berbagai teknik dan model siap pakai, sehingga melahirkan NLP generasi kedua—menurut salah seorang guru saya, Peter Wrycza—yang menonjolkan berbagai teknik instan untuk menciptakan perubahan.

Namun generasi ini bukanlah generasi akhir. Bahkan, baru merupakan awal dari perjalanan panjang NLP yang masih terus berkembang hingga saat ini. Maka saya pun mahfum kalau pada titik tertentu, para pencari ‘kesempurnaan hidup’ ini pun kemudian melirik orang-orang yang matang secara spiritual sebagai model.

Kok maklum?

Ya, maklum lah. Sebab memang tidak bisa dipungkiri, hanya mereka yang telah mengalami kematangan spiritual lah yang mampu menghadirkan kebahagiaan hakiki secara konsisten. Sementara yang lain, umumnya berhenti di titik tertentu, untuk kemudian mengalami berbagai kegelisahan akibat hidup terputus dengan Yang Maha Menciptakan Kehidupan ini. Tidak terkecuali yang terjadi pada para pengembang NLP sendiri, yang disoroti akibat ‘kenyelenehan’ kehidupan pribadinya. Anda yang pengamat sejarah NLP tentu tahu siapa yang saya maksud.

Adalah Robert Dilts yang pertama kali muncul dengan Neurological Level Model, hasil pengembangan dari konsep dan ajaran Gregory Bateson. Dalam level-level yang ia ajukan, spiritualitas atau connectedness menjadi tangga tertinggi dalam level neurologis manusia. Maka spiritualitas, menurut Dilts, tidak saja penting, namun teramat penting sebab ia lah yang menaungi berbagai level lain mulai dari identitas diri hingga lingkungan.

NLL-pun kemudian dianggap sebagai unified field theory of NLP, alias sebuah teori untuk memahami dan menggunakan NLP sebagai sebuah kesatuan yang utuh.

Loh, memangnya NLP nggak utuh?

Begitulah. Pengembangan NLP yang sangat bernuansa pragmatis rupa-rupanya memang menjadikan hasil kumpulannya belum lah terintegrasi. Dan NLL adalah sebuah usaha untuk mengintegrasikan hal tersebut.

Nah, saya pun menelusuri berbagai literatur NLP sembari mencocokkan satu demi satu antara materi NLP dan NLL. Hasil penemuan saya adalah: begitu banyak materi NLP menyasar perubahan pada aspek belief, capability, dan behavior, namun masih teramat jarang—kalau tidak mau dibilang hampir tidak ada—yang membahas mengenai identity dan spirituality.

Apa pasal?

Saya belum tahu. Bisa jadi karena memang fokus NLP pada memodel perilaku yang tampak, atau sebab-sebab lain Yang pasti ini merupakan sebuah pencerahan bagi saya.

Loh, kok malah pencerahan?

Ya pencerahan donk. Karena artinya saya mendapatkan jawaban mengapa NLP seringkali belum mampu membantu menciptakan sebuah perubahan yang fundamental dalam diri seseorang. Saya pun jadi paham, di titik mana kah NLP bisa dikembangkan lebih lanjut untuk dapat memfasilitasi perubahan yang bersifat transformasional dan generatif.

Idenya adalah…

Jadi, idenya begini. Spiritual NLP adalah sebuah usaha untuk mengintegrasikan NLP sehingga para praktisinya dapat mengalami sebuah proses perubahan yang terintegrasi dengan fitrahnya sebagai manusia.

Fitrah sebagai manusia? Wah, kok kayaknya daleeeeem beneeeer.

Begitulah memang seharusnya. Sebagai seorang Muslim, saya meyakini bahwa tugas seorang manusia adalah menjadi khalifah. Khalifah memiliki makna sebagai wakil. Maka manusia sebagai khalifah berarti manusia sebagai wakil Tuhan untuk memakmurkan dunia. Nah, seorang wakil, pastilah diberi bekal untuk menjalankan tugasnya. Pada saat yang sama, seorang wakil haruslah menjalankan pekerjaan sesuai dengan target dan aturan yang ditetapkan oleh yang diwakili.

Nah, bekal itu adalah potensi diri. Sementara seperangkat target dan aturan itu adalah ajaran agama. NLP telah banyak dan terus bicara soal potensi mind manusia. Sementara itu, ajaran agama pun telah begitu gamblang mengajarkan manusia bagaimana cara mencapai kebahagiaan hidup yang hakiki, dengan tujuan akhir yang mutlak: bertemu Allah di surga. Pertanyaannya kemudian adalah: bisa kah keduanya diintegrasikan?

Jawaban saya: Insya Allah bisa. Dengan beberapa catatan.

Saya katakan bisa, sebab justru inilah peluang pengembangan NLP yang saya maksudkan tadi. NLP ibarat sebuah pisau, yang tak pernah tahu ia akan digunakan untuk apa. Agar bisa bermanfaat, maka ia harus digunakan dengan seperangkat aturan yang jelas manfaatnya, semisal untuk memasak. Kalaupun digunakan untuk membunuh, maka membunuh yang sesuai bermanfaat, seperti membunuh hewan untuk dimakan.

Nah, aturan apa yang pasti jelas manfaatnya bagi manusia? Ya aturan yang diciptakan oleh Yang Menciptakan manusia lah. Sebab aturan ini sifatnya mutlak dan pasti benar, tidak seperti aturan ciptaan manusia yang sifatnya senantiasa relatif.

Demikianlah, saya meniatkan diri saya untuk mengembangkan Spiritual NLP. NLP yang diaplikasikan sesuai dengan fitrah manusia sebagai khalifah. NLP yang merupakan enabler dan katalisator dari segenap perintah yang telah begitu sempurna ditentukan oleh-Nya.

Perintah yang begitu sempurna?

Betul sekali. Oleh sebab Tuhan Maha Sempurna, maka aturan yang ia perintahkan jelas juga amat sempurna. Ini logika yang teramat sederhana. Maka kita sejatinya tidak perlu mengotak-atik apapun yang telah diperintahkan oleh-Nya. Kita hanya perlu menjalankannya secara konsisten.

Lalu, apa donk guna NLP kalau perintah-Nya sudah sempurna?

Ada beberapa hal. Pertama, sebagai alat untuk memahami apa yang Ia perintahkan. Karena akal manusia yang terbatas, ia seringkali membutuhkan berbagai cara untuk memahami ilmu Tuhan yang teramat tinggi. Bukankah manusia baru bisa memahami ayat yang mengatakan bahwa semakin tinggi tempat maka pernapasan terasa tercekik setelah muncul ilmu pengetahuan tentang lapisan udara? Maka saya pun baru bisa benar-benar memahami hadits, “Aku tergantung prasangka hamba-Ku,” setelah beberapa tahun mempraktikkan prinsip dasar NLP, “The map is NOT the territory.”

Kedua, sebagai alat untuk mempermudah dalam menjalankan perintah-Nya. Apa hubungan antara olah raga dengan shalat malam? Sekilas, hampir tidak ada, bukan? Namun jika disebabkan oleh kita rajin berolah raga, lalu fisik menjadi prima, tidak mudah lelah, sehingga dapat bangun shalat malam dengan lebih mudah, bukankah keduanya jadi berhubungan, meskipun dalam praktikknya kedua aktivitas tersebut tidak dijalankan secara bersamaan. Begitu pula hubungan NLP dengan ibadah. Ibadah itu sudah sempurna, maka ia tidak perlu NLP. Namun jika dengan mempraktikkan NLP seseorang dapat memasang anchor semangat untuk beribadah, atau melakukan reframe terhadap makna ibadah, bukankah ibadah menjadi sesuatu yang menyenangkan?

Saya teringat pengalaman saya ketika mengikuti Pelatihan Shalat Khusyuk yang diadakan oleh Ust. Abu Sangkan. Di awal pelatihan, beliau meminta kami untuk berlatih melakukan gerakan shalat dengan amat perlaaaaahaaaaan…dengan tujuan untuk merasakan efek dari setiap gerakan. Sebab khusyuk amat ditentukan oleh tuma’ninah, alias kesempurnaan tiap gerakan, di samping penghayatan terhadap bacaan. Nah, naluri NLPers saya pun bekerja ketika itu. Saya jadi teringat presuposisi NLP tentang, “Mind and body are one system and affect each other.” Maka jadi masuk akal jika gerakan tubuh yang tepat akan mendukung kekhusyukan shalat, sebab setiap gerakan shalat pastilah telah dirancang untuk menghadirkan khusyuk ini. Ditambah lagi dengan penghayatan bacaan shalat, yang menggunakan prinsip neuro-linguistik, rupanya saya temukan memiliki efek neurologis yang khas dalam tubuh, pikiran, dan perasaan saya. Alhamdulillah, telah hampir 1 tahun saya menjalankan shalat yang seperti ini, dan hasilnya begitu nikmat.

Adalah berjumpa dengan Allah sebagai ahli surga merupakan ultimate goal setiap manusia. Maka alih-alih hanya menggunakan NLP untuk mencapai tujuan hidup di dunia, mengapa tidak gunakan untuk mencapai ultimate goal ini? Saat semangat beribadah menurun, gunakan NLP untuk membantu meningkatkannya. Saat tangan ini masih berat bersedekah, gunakan NLP untuk membantu meringankannya. Saat diri ini masih dekat dengan maksiat, gunakan NLP untuk menciptakan trauma dan fobia bermaksiat.

Demikianlah, ide sederhana saya tentang Spiritual NLP. Sederhana, sebab saya bukanlah seorang ulama. Saya hanyalah seorang Muslim yang dengan kapasitas saya sebagai praktisi NLP ingin menjadikan ilmu ini bermanfaat saat Hari Pengadilan kelak. Sebab tidak ada hal lain yang layak dilakukan oleh seorang Muslim selain menjalankan setiap detik sebagai persiapan untuk berjumpa dengan-Nya.

Insya Allah, saya akan membahas aplikasi riilnya dalam bentuk artikel-artikel pendek. Jika ia telah lengkap sebagai sebuah model, mudah-mudahan Allah mengizinkan untuk menjadikannya sebuah buku tersendiri. Saya berlindung kepada-Nya dari kesalahan yang mungkin terjadi. Mudah-mudahan ini menjadi amal kebaikan bagi saya dan Anda yang turut menyumbang ide dan pemikiran.

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>