Benarkah NLP bagian dari New Age Movement?

Beberapa kali dalam waktu berdekatan, saya mendapati pertanyaan serupa tajuk di atas. Sebuah pertanyaan yang sejatinya tidak saja muncul belakangan, melainkan sudah ada sejak lama, bahkan di negara asalnya Amerika. Namun beberapa kawan mengajukan pertanyaan serupa, mungkin sebab terbitnya sebuah tulisan dari Mas Mohammad Fauzil Adhim berjudul “Tragedi Iman Seorang Hafidz” di sini. Saya maklum jika kemudian beberapa kawan muslim yang sedang mendalami NLP menjadi gundah, sebab persoalan akidah yang diangkat oleh penulis memang bukan perkara ringan. Saya pun, jika tidak melakukan penelusuran, mungkin akan merasakan hal yang sama.

Tulisan ini saya buat sebagai pelengkap pemikiran semata. Tentu jauh dari sempurna, sebab ia ditulis atas keterbatasan ilmu yang saya miliki. Namun merupakan tanggung jawab ilmiah untuk menjelaskan hal-hal yang kiranya kurang pas dipahami orang awam.

 

Pendapat L. Michael Hall

Saya ingin memulai bahasan ini dari sebuah tulisan karya L. Michael Hall, seorang pengembang NLP dan Neuro Semantic (NS), sekaligus akademisi dalam bidang psikologi, berjudul “NLP’s ‘New Age’ Confusions” yang bisa dibaca di sini. Hall adalah seorang psikoterapis dengan latar belakang teologi Kristen yang kental. Selama beberapa tahun ia berpraktik sebagai konselor di gereja, sebelum kemudian berkenalan dengan NLP. Meski demikian, sampai saat ini setahu saya ia seorang Kristen yang taat. Maka kegundahan para penanya yang khawatir tentang pengaruh NAM dalam NLP tentu menjadi kegundahannya pula. Sebagaimana kita tahu, NAM tidak saja menggelisahkan umat Islam, ia menggelisahkan umat Kristen pula.

Entah sejak kapan NLP dihubung-hubungkan dengan NAM, namun yang jelas NAM bukan satu-satunya hal yang dikaitkan dengan NLP. Disebabkan awal kemunculannya yang memodel 3 orang psikoterapis, maka hingga kini NLP pun masih disamaratakan dengan terapi, sedang pengembangannya sudah sedemikian luas.

Tapi jika kita merunut, bisa jadi sebab sejarahnya yang memang secara tidak langsung bersinggungan. Menurut studi yang dilakukan Hall, sejarah NLP bisa ditelusuri dari gerakan Human Potential Movement (HPM) yang berpusat di Esalen. Di sana, para pakar psikologi seperti Maslow, Frankl, Assagioli, Perlz, Satir, dll pernah bersama-sama melakukan pengembangan berbagai teknik dan metodologi untuk mengaktualisasikan potensi manusia. Di sana pula lah psikologi humanistik yang digagas Maslow dan Rogers dikembangkan dengan metode-metode yang memang kemudian ‘aneh-aneh’, sehingga lama-kelamaan ia mengalami kemunduran.

NLP memang tidak berkembang di Esalen. Tapi d University of California Santa Cruz, tempat Richard Bandler dan John Grinder bertemu dan membuat kelompok studi mereka. Gregory Bateson, seorang antropolog yang juga pendiri Esalen, adalah mentor mereka, yang banyak menyumbang pemikiran teori-teori sistem, sehingga lahirlah metodologi modeling dalam NLP. Fritz Perls, pendiri Gestalt Therapy, adalah orang pertama yang dimodel oleh Bandler dan Grinder. Virginia Satir, pelopor Family Therapy, adalah orang kedua yang mereka model.

Esalen kemudian memang dikenal sebagai tempat tumbuh suburnya NAM, sesuatu yang menurut Hall adalah titik tolak kemundurannya. Para akademisi yang semula ikut mendirikan pun akhirnya mundur. Maka jika dilihat dari titik ini, NLP tidak secara langsung berhubungan dengan Esalen. Namun ia mendapat pengaruh dari pemikiran para pendirinya. Perlu kita telaah lebih lanjut, apakah pengaruh dari para pendiri ini bisa disebut pengaruh NAM, mengingat mereka adalah para akademisi. Kita perlu kritis terhadap pandangan ini, sebab metodologi psikoterapi yang dikembangkan oleh Perlz (Gestalt Therapy), Satir (Family Therapy), dan Erickson (Ericksonian Hypnotherapy) yang dimodel oleh NLP, sampai saat ini masih terus digunakan dan dikembangkan di dunia akademis. Ketiganya merupakan bagian dari ilmu besar bernama psikologi.

 

Apakah Sebenarnya NAM Itu?

Inilah sebenarnya pertanyaan yang ketika ditelaah lebih lanjut akan mulai menimbulkan kerancuan. NAM telah menjadi sebuah istilah yang kini campur aduk digunakan. Nam kerap diasosiasikan dengan pemikiran-pemikiran ‘aneh’ yang tak umum serupa:

Mungkinkah kita bisa mengirimkan pikiran ke dunia lain tanpa bicara, hanya berpikir saja? Mungkinkah kita menggerakkan obyek fisik dengan pikiran kita? Mungkinkah kita bisa menciptakan realita tanpa harus secara fisik melakukan proses penemuan dan penelitian?

Tampak familiar?

Ya, ide yang belakangan memang kerap muncul beberapa tahun terakhir, salah satunya melalui buku The Secret dan ide Law of Attraction (LoA). The Secret, banyak dikritik dan diwaspadai sebab ia mengajarkan kita untuk memohon pada semesta—sesuatu yang sangat bertentangan dengan akidah seorang muslim. Saya sendiri pun, setelah melalui penelaahan, sepakat bahwa ajaran dalam The Secret tak layak untuk diikuti.

NAM, juga kerap didefinisikan sebagai gerakan agama baru. Gerakan yang diciptakan oleh orang-orang yang ingin menjadi spiritualis, namun enggan berafiliasi dengan agama formal yang sudah ada. Maka meski menolak agama formal, para penggerak NAM kemudian menciptakan gerakan-gerakan yang mirip, ala mereka. Ini yang kerap disebut sebagai sekte, atau cult.

Andy Bradbury, seorang praktisi NLP, dalam situsnya menulis sebuah artikel bertajuk “Is NLP a Cult or Religion”, dapat disimak di sini. Ia pun kemudian menelusuri dari mana ide ini berasal, dan mendapati seorang penulis bernama David V. Barret. Barret menulis satu bab khusus mengenai NLP dalam bukunya yang bertajuk “Cults and Alternative Religion”, terbit tahun 1996. Yang perlu dikritisi dari buku ini, menurut Bradbury, adalah kekurangtelitian Barret ketika membandingkan NLP dengan sekte. NLP digambarkan sebagai SEBUAH gerakan saja, dengan hanya menengok pada satu perusahaan penyedia pelatihan NLP, yang menurutnya bergaya sekte. Padahal jika ditengok pada kriteria sebuah sekte secara komprehensif, NLP jauh dari itu. Mari kita simak:

  1. Sebuah sekte menggunakan metode pemaksaan psikologis dalam merekruit anggotanya.
  2. Sebuah sekte berusaha membentuk kelompok elit dalam masyarakat.
  3. Sebuah sekte memiliki pemimpin yang mengangkat dirinya sendiri, dogmatik, bergaya serupa nabi, dan biasanya karismatik.
  4. Sebuah sekte meyakini bahwa cara apapun dapat digunakan demi mendapat dana untuk menghidupi gerakannya.
  5. Kekayaan sebuah sekte bukanlah milik anggotanya.
  6. Memiliki kebijakan untuk mengisolasi anggotanya dari lingkungan tempat mereka hidup, seperti keluarga dan teman dekat.

Nah, siapapun yang pernah belajar NLP secara utuh, melalui pelatihan yang komprehensif, tentu akan mendapati dengan mudah bahwa tidak satu pun kriteria diatas cocok dengan NLP. Mari kita telaah:

  1. Sebuah sekte menggunakan metode pemaksaan psikologis dalam merekruit anggotanya.

Tidak. Siapapun bisa belajar NLP dari mana saja, dengan membayar biaya selayaknya mengikuti pelatihan jenis lain.

  1. Sebuah sekte berusaha membentuk kelompok elit dalam masyarakat.

Tidak. Tidak ada kelompok elit NLPers. Paling jauh hanya komunitas, sebagaimana komunitas dan asosiasi yang banyak lahir dari kajian keilmuan.

  1. Sebuah sekte memiliki pemimpin yang mengangkat dirinya sendiri, dogmatik, bergaya serupa nabi, dan biasanya karismatik.

Tidak. Tidak ada satu figur sentral dalam NLP. Pun para pendirinya, Bandler dan Grinder. Alih-alih dikultuskan, keduanya malah banyak dikritik oleh penerusnya.

  1. Sebuah sekte meyakini bahwa cara apapun dapat digunakan demi mendapat dana untuk menghidupi gerakannya.

Tidak. Penyedia pelatihan NLP adalah perusahaan, yang dijalankan bergaya bisnis. Pelatihan dijual sebagai produk, layaknya produk-produk lain.

  1. Kekayaan sebuah sekte bukanlah milik anggotanya.

Tidak. Karena memang tidak ada satu persatuan NLP di dunia, maka pelatihan NLP dikelola oleh masing-masing perusahaan, yang tentunya menjadi pemiliki kekayaannya sendiri.

  1. Memiliki kebijakan untuk mengisolasi anggotanya dari lingkungan tempat mereka hidup, seperti keluarga dan teman dekat.

Tidak. Karena setiap orang yang belajar NLP bebas keluar masuk tanpa keanggotaaan yang mengikat, apalagi sampai mengisoloasi.

 

Bahwa mungkin ada trainer NLP di dunia ini yang sekaligus adalah seorang penganut NAM, lalu menjalankan komunitasnya dengan gaya sekte, tentu tidak bisa digeneralisasi bahwa NLP adalah sebuah sekte. Sebab jauh lebih banyak trainer NLP yang menjalankan pelatihan sebagai bisnis belaka. Inilah yang perlu dikritisi ketika membasa artikel dari Mas Fauzil Adhim, ketika beliau mengisahkan Dr. Shalah Ar Rasyid, seorang hafidz yang diceritakan dalam artikel tersebut kemudian beralih menjadi pendakwah efek buruk doa bagi muslim dan mendewakan seks untuk kesuksesan manusia. Terus terang saya belum pernah membaca kisah aslinya, maka saya tidak bisa banyak berpendapat. Namun dari informasi dalam artikel tersebut, Mas Fauzil menyebutkan bahwa perkenalan Dr. Shalah bermula dari NLP, lalu semakin merasuk ke dalam NAM.

Sebuah pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah: apakah jika seseorang berkenalan dengan si Fulan, lalu kemudian menjelma menjadi pencuri, lalu kita bisa simpulkan bahwa si Fulan lah penyebabnya menjadi pencuri?

 

Mari Kita Lihat Lebih Dalam

Ya, siapapun yang khawatir dengan NLP akan merusak akidah, saya ajak untuk melihat lebih dalam. Membaca sumber-sumber komprehensif tentang NLP, atau mengikuti pelatihan sertifikasi yang terpercaya. Bedakan antara NLP, dan aplikasi NLP. Pelatihan NLP yang utuh, umumnya diadakan antara 5, 10, hingga 20 hari. Kurang dari itu, jelas tidak utuh. Pelatihan NLP yang utuh, rerata memiliki jenjang dari NLP Practitioner, Master Practitioner, hingga NLP Trainer.

Sumber-sumber bacaan tentang NLP yang saya rekomendasikan adalah:

  1. The User’s Manual for the Brain, volume 1 dan 2 karya L. Michael Hall dan Bob Bodenhammer.
  2. Introducing NLP, karya Joseph O Connor.
  3. NLP Workbook, karya Joseph O Connor.
  4. NLP: New Technology for Achivement, karya NLP Compreensive Team.

Jangan gunakan Unlimited Power karya Anthony Robbins, meski populer, untuk menelaah NLP. Sebab buku itu adalah contoh yang saya sebut di atas sebagai aplikasi NLP semata. Ya, setiap orang tentu bebas menggunakan ilmu untuk apa saja. Tad James, misalnya, menggunakan NLP untuk menjelaskan Hawaian Huna, yang dikenal sebagai ilmu para dukun di Hawai. Ya sah-sah saja. Namun itu bukan NLP. Sama seperti saya yang berusaha menelaah doa dan ibadah dengan NLP, tak lantas kemudian menjadikan hasil telaahan saya sebagai NLP.

 

Apa Itu NLP?

NLP adalah metodologi untuk melakukan modeling, menyusun model kerja dari sebuah keahlian. Berangkat dari modeling terhadap 3 orang psikoterapis, NLP kemudian menghasilkan banyak teknik terapi psikologis. Michael Hall dan Michelle Duval yang memodel para coach, kemudian melahirkan Meta Coaching.

Metodologi modeling, hemat saya, bisa dikategorikan sebagai metode riset kualitatif, meski kini belum diakui. Bedanya, metode riset banyak menelaah ‘mengapa’ sebuah fenomena terjadi, sedang modeling lebih fokus pada ‘bagaimana’ sebuah fenomena terjadi. Fokus pada ‘bagaimana’ ini menjadikan NLP kemudian melahirkan banyak teknik dan model, yang berfokus pada struktur berpikir dan berperilaku.

Misalnya, sejak kuliah saya belajar tentang rapport, alias membangun keakraban. Banyak mahasiswa psikologi bisa mendefinisikan apa itu rapport. Tapi ‘bagaimana’ persisnya kita membangun rapport, itu yang tak saya dapati. Ketika memodel para psikoterapis, NLP mendapati bahwa rapport terbangun melalui proses pacing, penyelarasan verbal dan non verbal: kata-kata, gerakan, tubuh, pola nafas, dll. Dengan demikian, rapport bukan menjadi sesuatu yang abstrak, melainkan bisa dijalankan langkah demi langkah.

Itu baru contoh kecil, dari sekian banyak bahasan dalam NLP.

Nah, memang saya pun maklum jika NLP dikait-kaitkan dengan The Secret dan LoA. Sebab tahun 2007-2008, saya memang mendapati beberapa trainer NLP pun gandrung dengan LoA, lalu membuat pelatihan-pelatihan yang mengajarkan LoA dengan menggunakan teknik-teknik dalam NLP. Tapi apa lantas LoA menjadi bagian dari NLP, sehingga NLP bisa disebut bagian dari NAM? Ini yang perlu dikritisi.

Mirip dengan kondisi para praktisi NLP yang kebanyakan juga mempelajari hipnosis, lalu membuka program pelatihan dengan judul yang menggabungkan keduanya, apakah lantas keduanya berhubungan? Ya kalau mau dihubungkan tentu ada. Tapi kini keduanya adalah dua disiplin ilmu yang mandiri. Seorang hipnoterapis tak perlu (bukan berarti tak boleh lho ya) belajar NLP. Begitu pula sebaliknya.

Kembali, saya mengajak kita untuk membaca lebih dalam. Jika literatur yang saya sebut sulit ditemui di toko buku Indonesia, silakan telaah buku kami, “NLP: The Art of Enjoying Life”. Ini adalah sebuah NLP handbook yang saya susun untuk merangkum materi-materi NLP level Practitioner. Jadi, insya Allah cukup memadai untuk mengenal NLP.

Silakan baca buku tersebut, lalu tandai bagian-bagian yang mencurigakan, dan kirim email kepara kami. Sebab bisa jadi penjelasan kami yang perlu diperbaiki, atau melenceng, kami lah yang akan pertama kali mengubahnya. Kami pun tak ingin menyebarkan kesesatan.

Kami katakana ini, sebab NLP tak ubahnya seperti ilmu-ilmu psikologi lain. Jika kita belajar Cognitive Behavioral Therapy (CBT), misalnya, akan kita dapati banyak kemiripan dengan NLP. Tentu, CBT punya banyak celah jika ditelaah dari sudut pandang Islam, namun tak menjadikan ia kemudian sesuatu yang sesat hingga perlu dijauhi, bukan?

 

Simpulan

Jadi, apakah NLP bagian dari NAM?

Tidak. Saya sudah mempelajari The Secret dan LoA yang banyak jadi polemik, juga karya-karya tulis dari tokoh-tokoh yang banyak disebut sebagai penggerak NAM, seperti Deepak Chopra. Dan tak satu pun dari ajaran mereka ada dalam materi-materi standar NLP yang komprehensif. Bahwa ada orang-orang yang menggunakan teknik dan konsep NLP untuk menjelaskan hal-hal berbau NAM, klenik, spiritual, itu tentu sah-sah saja, dan tidak menjadikan bahasan itu bagian dari NLP.

Jika NLP tetap dianggap sesat, maka kita pun perlu waspada pada sekian banyak pendekatan psikologi yang menjadi dasarnya. Sebab NLP tidak menciptakan teori sendiri. Teori-teori yang menjadi dasar dalam NLP semuanya ada dalam psikologi, dengan berbagai mazhabnya. NLP hanya fokus pada ‘bagaimana’ segala konsep yang ada bisa menjadi sesuatu yang operasional.

NLP, persis seperti buku manual petunjuk penggunaan televisi, hanya fokus pada langkah-langkah praktis. Sebuah buku manual, tentu tidak dimaksudkan untuk menjelaskan teori-teori elektronika yang menjadi dasar pembuatan televisi, bukan?

Lalu muncul tanya, kalau NLP berdasar dari teori psikologi, kenapa perlu ada NLP? Kenapa tidak gunakan psikologi saja?

Sebab menyusun buku manual—menurut pengalaman saya 11 tahun menyusun manual pelatihan—sungguh memerlukan keahlian yang berbeda dari teori-teori yang menjadi dasarnya. Maka meski kita memiliki buku bertajuk “Leadership Theory” setebal 1000 halaman, kita tetap memerlukan buku bertajuk “Training Design” dengan ketebalan yang sama untuk menjadikan teori dalam buku pertama tadi menjadi sebuah manual pelatihan yang dapat digunakan secara praktis.

‘Bagaimana’ menggunakan sesuatu, adalah hal yang berbeda dari ‘apa’ yang harus digunakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>