Arti Seorang Anak

Selalu ada rasa haru, setiap kali aku berhasil menidurkan anakku yang masih bayi. Kini Rayna, dulu Fayza. Maklum, aku tak termasuk ahli dalam urusan asuh mengasuh ini. Istriku lah jagoannya. Bayi di tangannya pasti beres. Sedang di tanganku? Bayi yang menangis lalu diam, adalah sesuatu yang kebanyakan adalah kebetulan. Maka rasa haru, adalah rasa yang hampir konsisten terbit dalam hati setiap kali aku sukses menidurkan bayiku.

Rasa haru jenis lain adalah yang serupa barusan. Ya, sudah dua malam ini anak sulungku, Fayza, memintaku untuk memijatnya sebelum tidur. Kegiatan dipijat rupanya merupakan salah satu favoritnya menjelang tidur, utamanya kala ia agak lelah. Tapi biasanya—lagi-lagi—istriku lah yang melakukannya. Beberapa kali aku mengajukan penawaran, namun ditolak. Maka tersengatlah jiwaku kala kemarin, ya kemarin, ia memintaku untuk melakukannya, tanpa aku menawarkannya. Mungkin sebab istriku memang belakangan kelelahan dan sudah tidur terlebih dulu? Bisa jadi. Yang jelas, malam ini permintaan itu terulang lagi. Dan dengan rasa haru luar biasa, aku pun memijatnya.

Dua pikiran ini kiranya memicu ingatanku bertahun-tahun lalu ketika aku dikhitan. Kala itu, meski aku menjalani khitan di Bogem, tempat tersohor berkhitan, tetap saja rasa sakit kurasakan beberapa lama setelah efek obat biusnya habis. Jadilah urusan kamar kecil aku selalu melibatkan ayahku. Sesuatu yang amat jarang kulakukan, sebab aku memang lebih dekat pada ibuku. Rasa malu lah yang membuatku lebih nyaman meminta tolong pada ayah daripada ibu. Dan aku ingat benar kalimat ayahku kala itu, “Hehe.. Aku jadi orang nomor satu nih.”

Kisah-kisahku ini seolah hadir bukan tanpa sebab. Ia menelisik pikiranku untuk menelaah sesuatu. Dan malam ini, dugaanku benar-benar terjadi. Ya, aku mulai memahami arti seorang anak.

Anak, hadir tanpa pernah meminta. Orang tua lah—aku dan istriku—yang menghendaki, dan Tuhan mengabulkannya. Meskipun demikian, kami tak pernah tahu anak seperti apa yang Dia berikan. Memang, konon ilmu pengetahuan telah memberikan arahan tentang bagaimana cara mendapatkan anak lelaki atau perempuan. Tapi tetap saja, hasil akhir fisik dan karakter seperti apa yang dilahirkan, selalu saja misteri. Jadilah perjalanan menjadi orang tua adalah petualangan yang menggairahkan. Dan sesuatu yang menggairahkan, jelas tak pernah mudah. Ia penuh tantangan, namun layak untuk dijalani.

Sebab anak tak pernah meminta tuk dilahirkan, maka sungguh aku tak pernah merasa berhak untuk mengatur jalan hidupnya. Tuhan telah gariskan tugasnya di muka bumi, sedang tugasku adalah memastikannya memahami tugas itu dengan baik. Hingga aku tak habis pikir, setiap kali mendengar sebuah cita-cita dari seorang anak yang dianggap tak layak, rendah, tak bermasa depan, oleh orang tuanya, sedang cita-cita itu baik adanya. Dalam keyakinanku, semua jenis cita-cita, selama ia berada di atas jalan kebaikan dan kebenaran, akan menjadi manfaat jika dijalani dengan kesungguhan.

Simak lagi apa yang dikatakan oleh Victor Frankl, “Sejatinya kita mendeteksi, alih-alih menciptakan, misi kita dalam hidup.” Ya, sebab setiap orang memiliki perannya sendiri, maka hidup adalah rangkaian petualangan untuk menemukan misi itu, dan memenuhinya dengan kesungguhan. Maka orang tua, meski bertahun hidup lebih dulu, pun tak pernah tahu pasti misi apa yang diemban anaknya. Ia hanya bisa menjadi pendamping, penasihat, pendidik, bagi jiwa-jiwa yang telah ditakdirkan jalannya oleh Tuhan.

Nah, perjalanan mendampingi ini pun, sejatinya adalah skenario Tuhan atas proses perjalanan misi pribadi orang tua. Ya, sebab orang tua pun belum tentu telah menemukan misinya sendiri, kala ia mendapat seorang anak. Jadilah perjalanan mengasuh, tak lain adalah perjalanan bersama. Sang anak menelusuri misinya. Demikian pula orang tua, dalam masa pendampingan itu.

Di titik ini, aku pun baru menyadari bahwa menjadi orang tua, pada satu sisi adalah tentang diriku sendiri. Lihatlah bagaimana aku terharu hanya karena berhasil menidurkan seorang bayi, atau memijat seorang anak. Dalam dua hal sederhana itu, aku sungguh merasa berarti. Ya, bukan Rayna yang perlu ditidurkan, aku lah yang perlu menidurkannya. Bukan pula Fayza yang perlu dipijat, aku lah yang perlu memijatnya. Melayani mereka, aku merasa benar-benar menjadi seorang ayah. Melayani mereka, aku bukanlah sedang menidurkan atau memijat, melainkan menjalankan bagian dari tugas yang Tuhan amanahkan kepadaku. Tugas yang menjadikanku seorang manusia.

Leave a Reply to yulita Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>