Bagaimana Ramadhanmu, Wahai Diri?

Inilah bulan, yang disediakanNya tuk diri yang beriman. Dalam iman, kau jalani beragam ibadah dengan keyakinan bahwa Dia melihat, Dia menilai, Dia membalas. Dalam iman, kau tekuni ibadah rahasia yang hanya antara dirimu dan Dia. Puasamu untukNya. Dia lah sendiri yang kan tentukan balasannya.

Inilah bulan, yang dibelengguNya para setan penggoda, agar mudah bagimu mendapatkan karuniaNya. AmpunanNya. Meski deretan panjang keburukan melumuri jiwamu, Dia janjikan penyucian dalam kesungguhanmu.

Lalu bagaimana kah hendak kau nikmati sajian ini, wahai diri? Seberapa tinggi kau ingin menaiki tangga iman di penghujung nanti?

Sudah sewajarnya kau hentikan sejenak kesibukanmu, keseharianmu. Bukankah demikian kau diajari menyambut tamu? Sesibuk apapun dirimu, kala tamu datang, hentikan tuk menghormatinya. Apatah lagi tamu ini membawa kepentinganmu. Sungguh lancang diri nan tak memedulikannya, hanya demi mengejar sesuatu yang kan berakhir tak lama lagi.

Bukan, Ramadhan ini bukan untukNya. Tak rugi sedikit pun Ia atas ketakacuhanmu pada karuniaNya. Ramadhan ini untukmu sendiri. Untuk kebaikanmu. Untuk kemuliaanmu. Untuk keselamatanmu.

Sahurmu. Shalatmu. Puasamu. Sedekahmu. Kerja dengan niat ikhlasmu. Itu untukmu sendiri. Pada tiap yang disandarkan pada namaNya, kan Dia balas dengan berlipat ganda. Lalu bagaimana kah diri ini hendak mengacuhkan kemurahanNya? Hendak sibuk sendiri menggunakan tubuh dan jiwa milikNya, demi mengerjakan yang bukan diniatkan untuk persembahan kepadaNya?

Bagaimana Ramadhanmu, wahai diri? Seberapa sungguh-sungguh kau jadikan ia kolam penyucian diri? Bersoleklah, wahai diri, bersoleklah jiwamu, agar bersinar berkat cahayaNya. Kau diciptakan tuk menjadi wakilNya. Dia melatihmu di bulan ini, agar lebih kompeten menjalani tugasmu sebelas bulan berikutnya.

Maka nikmatilah, wahai diri, nikmatilah jamuanNya. Kosongkan perutmu dari makanan dunia, agar terisi ia dengan makanan jiwa. Palingkan pandanganmu dari yang Dia murkai, agar jernih mata jiwamu menandai karuniaNya. Tahanlah lisanmu dari berkata nan tak berguna, agar lentur ia bertutur kebenaran dariNya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>