Bahagia Ada Pada Pertengahan

“Jangan terlalu lebar tertawa. Jangan terlalu dalam bersedih. Pada yang pertengahan lah terkandung bahagia.”

Tawa itu penting. Ia melepas kegembiraan, menikmati kesenangan, menyemai harapan. Sebab tawa, biasanya hadir kala terwujud apa nan diinginkan.

Sedih itu penting. Ia melepas kerinduan, menyelami kebelumberhasilan, menenun hikmah nan terserak. Sebab sedih, biasanya terbit kala terlepas apa nan diharapkan.

Pada tawa dan sedih selalu ada kebaikan. Tabiat insan lah yang sering mempertentangkan. Padahal kebahagiaan selalu ada pada pertengahan.

Tawa dan canda, seberapapun ia bermanfaat, menjadi hambar kala terlalu lebar, terlalu lama, atau hadir tak pandang tempat. Sebab bagaimana pun, fitrah kehidupan mengajarkan bahwa pada tawa kita, kadangkala menelusup kesedihan pada orang lain.

Begitu pun sedih dan muram durja, sepenuh apapun ia hadirkan hikmah, sekeras apapun ia melembutkan hati, akan melemahkan jiwa kala ia terlalu dalam, terlalu panjang, atau hadir kala yang dibutuhkan adalah gerak penuh semangat. Karena fitrah kehidupan pula, bahwa pada kesusahan selalu tampak harapan. Kesusahan, seringkali adalah cara Tuhan menampilkan keberkahan agar kita mudah mengenalinya.

Maka benarlah ajaran bijak tuk tak berlebihan dalam segala rasa. Kala tawa, secukupnya lah. Kala sedih, seporsinya lah. Kala tawa, ingatlah kan selalu ada kesedihan mengiringi. Kala sedih, ingatlah kan selalu ada harapan menunggu. Hingga tawa dan sedih, menjadi pasangan yang datang silih berganti, menerbikan kebahagiaan dengan caranya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>