Belajar Mencintai

“Belajarlah mencintai, agar terbit kembali kebaikan.”

Cinta mengarahkan pandangan. Buya Hamka, ulama ensiklopedik yang ilmunya melintasi zaman itu pernah berujar, bahwa cinta harusnya menguatkan, memberdayakan. Bukan tabiat cinta jika ia justru melemahkan. Maka anehlah insan yang kala jatuh cinta justru melemah tak berdaya. Sebab wajarnya cinta memberi energi untuk berjuang, memberikan yang terbaik pada nan dicintai.

Temukanlah yang kau cintai, lalu cintai yang kau temukan.

Sebab kala mencintai, diri ini fokus pada apa yang menarik hati. Banyak kekurangan seketika menepi. Namun kala yang ditemukan telah disimak utuh dan bertemu sehari-hari, mulailah tampak kekurangan di sana-sini. Ya, karena kekurangan itu sejatinya telah ada sedari tadi, namun cinta menutupinya meski ia jelas terang di depan mata ini.

Menariknya, sebab cinta mengarahkan pandangan, maka teralihnya fokus pada kekurangan sebenarnya bisa pula dikembalikan pada kelebihan. Karena toh kelebihan itu tak pernah pergi. Ia hanya sedang tak teramati.

Jadi benarlah jika setelah menemukan dan mulai tampak keburukan, belajarlah lagi mencintai, agar terbit lagi kebaikan.

Mencintai itu kata kerja, nasihat seorang guru. Maka ia terwujud kala ada yang dikerjakan. Tak disebut mencintai, jika tak ada satu pun yang dilakukan demi yang dicintai. Sementara meski tak satupun kata cinta terucap, ia bermakna cinta, kala pengabdian terus dijalankan.

Berbekal ini, mencintai bukanlah sesuatu yang kebetulan dan menunggu skenario Tuhan. Mencintai adalah tindakan aktif yang bisa dipelajari dan ditekuni. Jika rasa belum hadir, mulailah kerja dengan kesungguhan, maka pengorbanan itu kan jadi bibit yang menyuburkan cinta.

Kekurangan, bagi para pecinta, adalah ruang pengabdian. Disediakan agar diri ini memiliki peluang memanfaatkan kelebihan. Senyum adalah reaksi para pecinta kala dihadapkan pada kekurangan, sebab dengannya lah disadari, bahwa Dia sedang memberinya kesempatan tuk menabung kebaikan.

Insan produktif adalah mereka yang terus belajar mencintai. Hanya dengan cintalah ia kan punya banyak energi tuk menghasilkan lebih banyak, lebih baik, daripada yang diminta pada diri.

Sulit?

Maka renungilah, bahwa diri ini hidup tersebab cinta. Jika bukan karena cintaNya, tindakanNya yang tanpa pamrih, bagaimana kah insan lemah ini bisa memiliki keberadaan? CintaNya lah yang sejati, sebab ciptakan semua ini tanpa meminta balasan. Keharusan menyembahNya hanyalah konsekuensi dari syukur atas karuniaNya. Jika ingin merasakan cinta, renungkanlah Dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>