Bercermin pada Perjalanan Belajar Nabi Musa

Adalah Buya Hamka yang menuturkan dalam tafsir beliau perjalanan Nabi Musa as mencari guru sebagaimana diperintahkan oleh Allah Swt. Semuanya bermula ketika beliau ditanya tentang orang yang paling pandai, dan jawaban yang terucap adalah diri beliau sendiri. Maka Allah perintahkan beliau untuk bertemu dengan seorang hamba yang bahkan tak disebutkan namanya. Dari hadits kita mempelajari bahwa nama sang guru adalah Nabi Khidr as. Namun kenyataan bahwa Al Qur’an tak menyebutkan namanya, bisa jadi memberikan hikmah bahwa sedikit saja kesombongan kita bisa runtuh seketika, bahkan oleh makhluk ciptaanNya yang tak dikenali. No one. Bukan siapa-siapa.

“Mereka pun bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami beri rahmat dan Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.” 

Ilmu bukanlah otoritas manusia. Ilmu adalah milikNya, dan bisa diberikanNya pada siapa saja yang Dia kehendaki. Tak peduli gelar dan jabatan. Tak mesti melewati proses formal lewat sekolah. Tak mesti berjenjang-jenjang. Yang kita miliki sungguh tak sebanding dengan apa yang bisa Dia karuniakan.

“Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar kamu mengajarkan ilmu yang benar kepadaku, seperti yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk?”

Buya Hamka menilai, permintaan ini sungguh halus nan sopan. Demikianlah kita mesti mencontoh jika ingin belajar pada seseorang. Apatah lagi ilmu yang dipelajari tak bisa ditakar dengan kurikulum resmi. Meminta waktu pada seorang guru tuk mengajari berarti meminta beliau mengorbankan aktivitasnya yang lain.

“Ia menjawab, ‘Sungguh kamu tidak akan sanggup bersamaku. Bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu, sedangkan kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’”

Seorang guru sejati, ujar sebuah nasihat, diamnya pun mengajari. Sebab perjalanan hidup telah menjadikan ilmunya tak lagi bisa dirangkum dalam kata-kata, lembar-lembar catatan belaka. Padahal sebagai murid, diri ini sungguh kerap terperangkap tuk memahami berdasarkan pada apa yang telah kita pelajari. Itu pun belum semuanya teramalkan dalam diri. Maka jadilah kita berisiko seperti Nabi Musa as, yang ketika telah berjanji tuk bersabar, tak mudah pula menahan komentar akan tiap hal yang dilakukan gurunya.

Perintah belajar itu dari Allah. Sang guru pun mengungkapkan di akhir kisah bahwa yang beliau lakukan pun bukan kehendak dirinya. Beliau hanyalah seorang pelaksana, operator lapangan. Sudah selayaknya lah diri ini memasang knowing nothing state. Sebab hanya dengan kondisi inilah ilmu baru bisa memiliki pintu tuk masuk.

Allah tentu takkan bicara langsung pada kita layaknya Nabi Musa. Namun kejadian tak masuk akal jelas kerap kita alami, dan kita kan cenderung memahami berdasarkan kesempitan kerangka berpikir yang kita miliki. Untuk itulah kadang kita perlu mengembara, mencari pembelajaran dari sumber-sumber yang jauh dari ternama. Lalu menanggalkan sejenak belenggu-belenggu sejarah yang tak lagi relevan dengan zaman.

Berpikir kritis itu penting, pada tempat dan waktunya. Tapi dalam konteks Nabi Musa dan gurunya, ia hanyalah penghambat tuk mendapatkan pemahaman-pemahaman baru. Kesadaran inilah barangkali yang ingin dilahirkan dari skenario pertemuan dengan sang guru. Bahwa kepandaian yang pada dirimu itu, tak setara dengan ujung kuku. Jangan pernah berhenti mengkalibrasi ilmu. Sebab takkan pernah ada kejadian yang benar-benar sama dalam tiap perjalananmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>