Berlatih Ikhlas

“Ikhlas, agar solusi hadir tak disangka-sangka.”

Ikhlas itu murni. Layaknya susu, ia tak tercampur oleh bahan-bahan lain. Maka mengerjakan sesuatu dengan ikhlas berarti menjalankan dengan semurni-murninya niat. Sedang niat itu sendiri adalah fokus, ia mengalirkan energi. Lalu energi itu menjadi gerak, dan gerak menjadi hasil.

Insan yang produktif tentu berharap hasil yang paripurna. Yang tidak saja baik dinikmati di dunia, melainkan terhitung hingga di akhirat sana dengan berlipat ganda. Jika demikian yang didamba, maka gerak yang dilakukan tentunya mesti memenuhi standar kebaikan akhirat. Standar yang telah Dia ajarkan melalui nabiNya. Tantangannya bukan kejelasan mengenai standar kebaikan itu. Ia detil dan nyata adanya. Tantangannya ada pada bagaimana melahirkan lelaku mulia itu dengan ketekunan yang tak semu.

Ya, ketekunan, kesungguhan menjalankan kebaikan, hanya kan terpicu oleh semurni-murninya niat. Niat yang ikhlas, bersih, dan ditujukan pada sandaran hati yang tak pernah mengecewakan. Diri ini bisa memasang niat untuk siapa saja. Sayangnya, segala sesuatu itu fana, memiliki banyak keterbatasan. Berharap pada yang fana berarti bersandar pada dinding yang rapuh dan pasti rubuhnya. Sebab makhluk tak bisa memberi, membalas, dengan apa yang tak ia miliki—atau setidaknya terbatas kepemilikannya. Maka kekecewaan adalah keniscayaan jika bersandar pada yang serupa ini.

Sayangnya, hati ini hanya punya satu ruang untuk satu niat. Jika telah dipasang dunia, akhirat menjauh. Jika dipasang akhirat, dunia tak punya tempat. Menariknya, hati yang diisi dengan niat akhirat, kan menghadirkan energi yang sanggup melingkupi keduanya.

Maka ikhlas, semurni-murninya niat, memang hanya layak jika konteksnya adalah untuk meraih ridhaNya. Sebab hanya Dia lah yang sanggup melingkupi segala sesuatu, memberi kekuatan dalam susah dan senangnya, jatuh dan bangunnya, tawa dan tangisnya. Pada tiap kesenangan bisa ada kebaikan, pada tiap kesusahan bisa ada keberkahan. Tak ada yang merugikan jika semua sudah dimurnikan untukNya.

Jadilah insan produktif, adalah insan yang cermat pada niatnya. Ia teliti setiap saat, adakah kemurnian, keikhlasan, selalu hadir senantiasa. Jika sedikit saja ada yang lain mengisi hatinya, ibarat saluran air yang tersumbat, segeralah dibersihkan agar kembali bersih sedia kala.

Insan produktif tak mau merugi. Susah payah kerja di dunia, tak sudi jika tak bernilai pada akhirnya. Padahal di akhirat lah kehidupan yang sebenarnya. Diri ini tertidur, dan pada kiamatlah baru terbangun yang sesungguhnya. Untuk itulah, pada tiap kerja dan karya, diluruskan, dimurnikanlah niatnya. Agar pekerjaan dunia tak pernah luput dari tabungan akhiratnya.

Ikhlas itu murni. Dan murni itu bersih. Sedang bersih itu ringan. Mesin yang kotor, bahkan terdapat tumpukan kerak, perlu dibersihkan oleh mekanik agar lancar lajunya. Rumah yang kotor mengundang banyak penyakit. Dokumen yang berantakan membuat pekerjaan tak tuntas dengan cepat. Maka murnikanlah selalu niatmu, wahai diri. Berlatihlah ikhlas agar ringan langkahmu, lalu hemat energimu. Pikiran dan perasaan yang jernih akibat ikhlas, kan sanggup lahirkan solusi yang tak disangka-sangka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>