Bersabar pada Guru

“Jika tak hendak bersabar terhadap guru, maka bersabarlah dalam kebodohanmu.”

Memang ada guru yang baik, berilmu dalam nan luas, dengan gaya mengajar yang menyenangkan banyak orang. Namun sebagaimana kita tahu, beliau tak pernah menguasai segala jenis ilmu. Sebab ilmu ibarat bangunan, takkan kita temukan satu toko bahan bangunan pun yang bisa menyediakan keseluruhan bahan yang kita butuhkan. Suka tak suka, mau tak mau, diri ini membutuhkan banyak guru untuk memenuhi kebutuhan diri akan ilmu.

Salah satu ujian bagi para pembelajar adalah guru yang tak menyenangkan hatinya. Entah gaya bicaranya, entah penampilannya, entah banyak hal lainnya. Repotnya, sang guru memiliki potongan ilmu nan diri ini butuhkan.

Serupa Khidir bagi Musa. Apa yang dimiliki Khidir tak dimiliki Musa, maka ia mesti mencari dan berguru padanya. Padahal sejarah mencatat Musa lah sang ulul azmi, sedang nama Khidir tak pernah tersebut jelas dalam kita suci. Bahasa mudahnya, sang rasul mulia dengan kisah umat terpanjang itu mesti berguru pada ‘seseorang’ yang ‘bukan siapa-siapa’. Sang guru pun mengakui, bahwa ia adalah ‘petugas’ semata, yang ilmunya dikaruniakan langsung tanpa bisa dicerna oleh akal biasa. Maka Musa yang sedang belajar dan tak sabaran mengajari kita bahwa adab memang harus lebih dulu daripada ilmu.

Bagi para pembelajar yang fakir ilmu, dan masih tertahan kebodohannya, sungguh banyak tabiat guru nan sulit dicerna. Sebab memang tak semua jenis ilmu bisa diajarkan lewat kata-kata. Jauh lebih banyak, ilmu disampaikan melalui pengalaman nyata. Dan murid yang tak sabaran, sungguh akan begitu banyak melewatkan pemahaman jika tak sungguh-sungguh meniti jalan.

Ya, mungkin, hanya mungkin, jauh lebih banyak guru yang tak sesuai dengan keinginan kita. Maka tak ada pilihan lain memang bahwa kesabaran adalah modal utama. Sebab ilmu itu bagai batu permata, yang tersembunyi adanya, mesti dikeluarkan dengan seluruh kesungguhan jiwa. Ilmu akan melekat kala ia diperjuangkan, lalu diamalkan, dan direnungkan. Tengoklan zaman ini jika tak percaya. Betapa ilmu begitu mudah didapatkan, terbentang di hadapan, namun sedikit jua yang mengambilnya. Sebab yang tak diperjuangkan, memang tak melahirkan kesan. Meski sedikit, ilmu yang diperoleh melalui kesabaran kan meresap dalam hingga relung-relung terdalam.

Maka pada banyak guru, bersabarlah, wahai diri. Jika tak hendak demikian, takkan datang ilmu padamu. Ini yang kau inginkan? Maka bersabarlah dalam kebodohanmu. Tak pernah dijumpai insan berilmu yang tak makin tenang tindak-tanduknya. Sebab perjalanannya mengumpulkan potongan-potongan ilmu telah melunakkan egonya, melenturkan perasaannya, menajamkan pikirannya, menjernihkan jiwanya, meluruskan langkahnya. Maka jika kau tak cukup sabar, wahai diri, bisa jadi perjalanan belajarmu belum cukup jauh. Mereka yang telah melanglang buana, takkan mudah cemas hanya karena kelokan kecil.

Serupa Khidir, para guru hanyalah jalan meraih ilmu. Mereka insan biasa, seperti dirimu, yang tak pernah luput dari kekurangan. Bukankah kau tetap berterima kasih pada seperti apapun orang yang menyampaikan hadiah kepadamu? Ilmu adalah cahaya, yang jiwamu rindu padanya. Masuk akalkah jika hadir syukurmu atas insan yang telah menyalakan cahaya dalam kegelapanmu?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>