Dimulai dari Kekaguman

Dari pesan-pesan awal kitab suci kita belajar, bahwa sikap alamiah makhluk ketika dihadapkan pada pengetahuan adalah kekaguman. Masih pada pesan-pesan awal pula, kita diajak untuk memasang sikap tak mengerti, knowing nothing. Inilah sikap sejati pembelajar, yang akan mengantarkannya pada hal baru pada tiap nan ditemui.

Sebab ilmu laksana air, hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah. Maka cangkir mesti meletakkan diri lebih rendah daripada teko. Pun cangkir mesti mengosongkan dirinya agar sanggup menampung air dengan kapasitas maksimal.

Dari kekaguman kan lahir keingintahuan. Tanpa kekaguman, diri ini cenderung merasa cukup. Merasa tahu. Padahal batasan pengetahuan adalah rasa itu sendiri. Merasa tahu lah yang menjadikan lapisan-lapisan ilmu terbengkalai tuk digali. Ia berhenti di titik yang bisa jadi tak seberapa jauh dari permukaan.

Berbekal keingintahuan, pikiran kan memunculkan tanya. Apa? Mengapa? Bagaimana? Yang karenanya menderaskan aliran pengetahuan. Bertanyalah, kan hadir jawaban. Demikian nasihat bijak senantiasa mengingatkan. Apa nan kita dapat, hanyalah dibingkai oleh apa nan kita tanyakan. Berhenti pertanyaan, berhenti pula jawaban.

Maka berlatihlah tuk mengagumi, wahai diri. Mencermati detil demi detil yang ada di hadapan. Menandai apa yang berbeda. Menelusuri keserasian. Menikmati keteraturan. Lihat lebih dekat, lalu menjauh. Niscaya kita temukan pola. Dengar dengan seksama, lalu perhatikan tanda-tanda. Niscaya kita dapati kekayaan di balik yang tampak. Sentuh, dan rasakan, biarkan sensasi mengalir dalam dirimu. Niscaya kita memahami apa-apa yang tak sanggup dirangkai oleh kata-kata.

Tiada nan tak terencana. Tiada nan tak berguna. Meyakini ini, kita akan diantar berpetualang dari satu hutan pengetahuan ke hutan pengetahuan lain. Membuka pintu-pintu pemahaman yang terkunci. Berselancar di samudera makna yang tak bertepi. Semuanya hanya untuk membawa kita pada simpulan kembali: tiada Kau ciptakan semua sia-sia.

Begitu banyak hal yang tak kita mengerti, namun ia tetap terjadi. Bahkan hidup ini bergantung kepadanya. Siapa mengatur? Siapa mengelola? Siapa menjaga? Kekaguman demi kekaguman akan mengantarkan kita tuk lagi-lagi duduk di depan pintuNya. Menghamba. Mengatakan dengan kejujuran teramat sangat, bahwa kita sesejatinya tak mengerti apa-apa. Jika bukan Dia yang karuniakan cahaya, niscaya jiwa ini gelap gulita.

Mintalah petunjuk jalan kembali kepadaNya, dengan mengagumi keindahan di tiap langkahnya. Dalam liku dan terjalnya, ada pengetahuan yang tak terkira. Namun adalah tabiat ilmu tuk menyembunyikan dirinya dari kesombongan, dari hati orang yang tak mengosongkan pikiran untuknya. Dan kekaguman adalah obatnya. Menjadikan cangkir senantiasa kosong, hingga siap diisi kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>