Gantilah ‘Menulis’ dengan ‘Mencatat’

“Jika kata ‘menulis’ membuatmu ragu, gantilah dengan kata ‘mencatat’.”

Salah satu tetanda majunya peradaban adalah maraknya karya tulis. Karya tulis yang bermutu, penuh ilmu, rekam jejak perjalanan para guru. Apalagi kebiasaan menulis, adalah pasangan serasi dari kebiasaan membaca. Tak mungkin seseorang produktif menulis, jika ia tak rajin membaca. Meski, tak semua yang gemar membaca, gemar pula menulis. Maka menulis, memang merupakan tahapan belajar tingkat lanjut. Sebab kala menulis, seseorang merangkai apa yang ia pelajari menggunakan pemahamannya. Jadilah ilmu yang dibaca pas, sesuai dengan dirinya.

Di titik inilah, kita bisa mengevaluasi semaju apakah kiranya peradaban negeri ini kini. Tengok saja dari kebiasaan menulis rakyatnya. Adakah menulis telah menjadi bagian dari proses belajar?

Sejatinya ya. Sebab tak mungkin para pelajar tak pernah mencatat. Sebanyak apapun buku referensi bisa dibeli, seorang pelajar tetap perlu mencatat apa-apa yang penting, intisari dari apa yang ia pelajari. Maka silakan hitung jumlah catatan sejak seseorang belajar dari SD hingga kuliah. Saya jamin kita akan menemukan ribuan halaman catatan, yang bahkan banyak di antaranya dengan tulisan tangan. Belum termasuk tugas-tugas serupa paper yang dikumpulkan.

Maka apa lagi halangan bagi kita untuk menjadi seorang penulis? Bukankah bertahun-tahun kita belajar tak henti kita menulis?

Ah, tapi itu kan hanya tulisan kata-kata guru. Catatan biasa.

Lalu apa bedanya dengan para penulis produktif yang sejatinya pun menuliskan apa yang ia pelajari dari gurunya, lalu ia tambahkan dengan pemahamannya sendiri? Bahkan dari sejarah kita mengenal para ulama semisal Imam Bukhari dan Imam Muslim, yang tak menulis melainkan hadits, tanpa pembahasan. Dan kita pun tahu, bahwa bahkan untuk menuliskan 1 hadits saja dalam kitab beliau, proses berpikir nan panjang telah dilalui. Sungguh, menuliskan apa yang kita pelajari pun, memerlukan pemikiran. Ia tak sederhana.

Maka menulislah, wahai saudaraku. Untuk mengikat ilmu. Untuk menyambung lisan gurumu.

Jika kata ‘menulis’ terasa berat bagimu, gantilah ia dengan kata ‘mencatat’. Bukankah kau telah mencatat ribuan lembar sepanjang hayat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>