Guru: Jasa nan Tak Pernah Bisa Terbalas

“Jasa gurumu takkan pernah terbalas. Maka jangan pernah sekali-kali merasa pernah membalasnya.”

Karena ilmu ibarat bangunan, maka apa yang ada di bawahnya selalu menopang apa yang ada di atasnya. Dan selayaknya bangunan, yang kokoh menopang di bawah, yang dibangun jauh lebih dulu daripada pernak-pernik indah setelahnya, justru adalah yang paling tak terlihat. Dicermati lebih jauh, kala sebuah bangunan dibongkar, maka fondasi yang kokoh menjaga itu jauh dari keindahan. Ia biasa saja, namun tanpanya takkan berdiri bangunan indah.

Begitu pulalah yang terjadi di jalan ilmu. Diri ini berawal dari bodoh, lalu dipandu oleh guru, memahami sepotong demi sepotong pengetahuan. Kala telah pandai selangkah, kita pun sanggup melanglang buana sendirian mengumpulkan potongan-potongan lain, lalu merangkainya sehingga menjadi bangunan keahlian nan indah. Menengok ke belakang, membandingkan keahlian yang indah dengan potongan pengetahuan yang dipelajari dulu, sungguh jauh terasa. Potongan itu sebegitu kecil, nyaris tak berarti. Bahkan siapa nan pernah mengajarkan pun kerap tak diingat lagi.

Tapi mari berhenti sejenak di sini. Di titik yang tinggi ini. Adakah diri bisa berdiri kokoh, tanpa fondasi yang tersusun dari potongan-potongan kecil itu? Mungkinkah kita kan memahami rangkaian yang rumit, tanpa berpijak pada yang sederhana? Bisakah kepandaian yang dibanggakan kini, terjadi tanpa ketekunan sang guru yang namanya tak lagi terpatri?

Mustahil. Sungguh mustahil. Maka hormat kepada guru, meski tak ingat persis namanya, adalah kewajiban para pembelajar. Sebab yang dipahami kini, takkan terjadi tanpa kerja kerasnya dulu. Dan itu sungguh takkan terganti, sehebat apapun usaha kita saat ini. Kita tak bisa menggantikan fondasi yang rapuh. Maka kita mesti teramat bersyukur pada mereka yang telah tangguh membangun fondasi keilmuan dalam diri ini.

Kau mungkin lebih pandai dari gurumu, wahai diri. Tapi kepandaian itu bukan tuk mencelanya, mengganggapnya remeh, merasa besar dengan dirimu. Lebih pandainya setiap murid dibanding gurunya adalah keniscayaan dalam hidup, sebab para pembelajar sejatinya adalah pelari estafet dari zaman ke zaman. Guru kita pandai pada zamannya, kita melanjutkan tugas pada zaman kita. Maka pasti kita takkan lebih pandai dibanding penerus kita kelak, sebab mereka memiliki tugas yang berbeda pula.

Bangunan keahlian kita dikokohkan oleh ketekunan guru kita. Selayaknya pula diri ini meneladani ketekunannya tuk mengokohkan bangunan keahlian mereka yang kan melangkah di hadapan. Sebab hidup bukanlah persaingan. Ia adalah perjalanan panjang memelihara bumi yang diamanahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>