Hadir

“Kehadiran adalah bentuk kesyukuran.”

Pernahkah kau bicara dengan seseorang yang tepat berada di hadapanmu, namun yang kau rasakan adalah ia tak sedang bersamamu?

Sementara itu…

Pernahkah kau berjarak amat jauh dengan seseorang, namun kehadirannya demikian terasa dalam jiwamu?

Ya. Keberadaan tidak selalu berarti kehadiran. Ada di tempat kerja, bukan berarti hadir di tempat yang sama. Tugas mungkin diselesaikan. Tapi kualitas dan rasanya jauh berbeda.

“Mari hadirkan hati,” ucap seorang imam di sebuah mushala perkantoran, “seolah-olah ini adalah shalat kita yang terakhir.”

Duh, bergetar hatiku kala pertama kali mendengarnya mengucapkan itu tepat sebelum takbir. Sebab kehadiran hati, yang dipicu dengan memikirkan usia yang bisa usai kapan saja, sungguh melahirkan rasa yang unik, seperti terhanyut di arus air yang tenang. Pelan, tapi pasti.

Hadir, kerap disebut oleh para pembelajar meditasi sebagai presence. Aku sendiri memahami maknanya sama dengan khusyuk. Inilah kondisi ketika pikiran, perasaan, dan tubuh, berada dalam pengalaman yang sama. Utuh, terpusat pada yang sedang terjadi. Menjauhkan segala pikiran yang datang dan pergi.

Dan manusia, kiranya diciptakan untuk berfungsi optimal dalam kondisi ini. Tentu ada kondisi kala seseorang mesti mengerjakan beberapa hal sekaligus. Namun multi tasking rupanya hanya akan memunculkan kerja-kerja yang rata-rata adanya. Hasil-hasil luar biasa selalu tumbuh dari bibit pemikiran yang dirawat dengan penuh ketekunan, kekhusyukan, kehadiran. Bukan berarti yang rata-rata itu tak bermakna. Ia bermanfaat tuk hadirkan keteraturan, menjaga apa yang telah ada. Namun ketika hal-hal baru diperlukan, kehadiranlah yang lebih dibutuhkan.

Maka ketika kau sadari hidupmu stagnan, wahai diri, tengoklah ke belakang, lalu ke dalam. Adakah selama ini aku bekerja tanpa kehadiran? Aku mungkin tampak sibuk, tak satu pun waktu kosong dalam kesia-siaan. Tapi jangan-jangan, aku mengerjakan sembari memikirkan banyak hal lain, hingga tak khusyuk lah kuselesaikan apa yang ada di hadapan.

Waktu kita sungguh tak banyak. Terlewat satu detik, ia takkan pernah terulang. Insan produktif ialah ia yang cerdik. Memastikan pada tiap detik dikerjakan kerja yang paling baik. Benar, tak ada diri yang sempurna. Namun kita memang tak pernah dituntut untuk hasil. Bukan hasil yang kan kita pertanggungjawabkan. Melainkan bagaimana kita menjalankan keseharian itulah yang kan jadi ukuran.

Keberhasilan puncak adalah ketakwaan. Dan ketakwaan, adalah tanda keseriusan diri tuk utuh menjalankan perintah dan penuh menjauh dari larangan. Bagaimana mungkin ini dikerjakan tanpa kehadiran? Kala kita tak benar-benar hadir, begitu mudah pikir dan rasa ini melayang, lalu jauhkan dari garis keselamatan. Maka singkirkanlah yang tak relevan, lalu fokuslah mengerjakan apa yang ada di hadapan. Inilah bentuk syukur atas karunia berupa kesempatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>