Belajar Bersyukur

Pernah satu kali aku merasa aku tidak mampu berbicara dengan baik di hadapan banyak orang. Seorang guru kemudian menyuruhku berpidato di perpisahan kelas kami, dan aku bisa melakukannya. Pernah pula aku berpikir aku tidak memiliki keahlian untuk memimpin orang lain dengan baik. Bertahun-tahun kemudian aku ‘dipaksa’ memimpin sebuah tim yang terdiri dari orang-orang terbaik, dan bagiku itu sebuah kesuksesan besar. Pernah lagi aku jatuh dan merasa amat sulit untuk bangkit lagi. Seorang sahabat memberikan pencerahan bagiku, dan aku pun bangkit jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Cukup aku sering merasa aku tidak bisa melebihi diriku yang sekarang, kemudian memilih berpikir untuk mensyukuri apa yang kumiliki saat ini. Mengingat kembali apa yang pernah kualami, sepertinya ini bukanlah hal yang benar. Yang benar adalah aku seringkali tidak pernah menyadari apa yang aku punya, sehingga hidupku seperti mati suri dan hanya mengikuti arus air mengalir. Ketika ia tiba-tiba membangunkanku, barulah aku melihat apa yang sesungguhnya sudah ada dalam diriku. Kebutaankulah yang hakikatnya membuatku masih belum beranjak dari tempat tidurku.

Aku memandang dengan cara yang sama, maka aku pun akan selalu melihat hal yang sama. Ya, sebab bersyukur bukanlah lagi menerima apa adanya, melainkan mengoptimalkan apa yang sudah ada untuk menggapai apa yang belum ada. Aku ingin memandang dengan cara seperti ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>