Ibadah Itu Diusahakan

“Mengusahakan ibadah itu sungguh layak, untuk hidup yang tak pernah kau usahakan.”

Entah telah berapa lama nasihat ini sampai kepadaku. Namun seperti biasa tabiat diri, ia masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Tak sempat membekas dalam pikiran, apalagi meresap dalam hati. Syukurlah ia tak pernah bosan hadir, hingga diri yang pandir ini perlahan mulai mendapati bahwa tak ada jalan lain selain meresapinya.

Sungguh tak ada yang lebih layak untuk menjalankan ibadah tersebab syukur. Bagaimana tidak? Sedang hidup ini hadir tanpa diminta. Segala nikmat tercurah tanpa pernah dipikir. Sekian banyak hal tersaji meski tak tersurat dalam doa. Adapun yang sanggup kita pinta, yang menjadi keinginan sedemikian besar, tak pernah sebanding dengan apa yang kita terima.

Maka ibadah, wahai diri, sungguh usaha yang tak sepantar dengan apa yang disediakan untukmu. Jika ia terasa berat, maka pikirkanlah jutaan nikmat yang tak sanggup kau hitung, namun terus kau nikmati, meski maksiat tak pernah henti. Jadi sungguh tak layak jika diri ini bermalas-malasan, melontarkan beragam alasan untuk tak menjalankan ibadah. Apatah lagi kandungan hikmahnya berlimpah.

“Ayo, shalat berjamaah dzuhur,” kau dengar sebuah ajakan. Lalu jawabmu, “Ah, nanti saja setelah makan. Kan sunnahnya makan dulu, agar tak memikirkan makan saat shalat.”

Duh, bagaimana kau ini? Mengapa untuk pekerjaanmu, demi memenuhi target pemberian atasanmu, kau rela berjibaku mengusahakan, sedang bagiNya kau tunda-tunda? Bukankah mudah bagimu untuk datang lebih pagi, sehingga pekerjaanmu selesai lebih awal, dan ada hak untukmu beristirahat makan siang lebih dulu demi menunaikan shalat berjamaah, lalu tinggal masuk kembali sebelum jam istirahat berakhir? Tidakkah hal sesederhana ini pernah terpikir olehmu?

“Ayo, shalat tahajjud,” kau dengar lagi ajakan. Lalu jawabmu, “Aku kelelahan. Tak sanggup bangun.”

Duh, lalu apa itu menonton pertandingan sepakbola dini hari? Tak apa, wahai diri. Jangan kau hentikan tontonan itu. Bukankah ia beberapa kali dalam seminggu? Maka pasanglah jam wekermu 30 menit lebih awal dari jadwal pertandingan, lalu laksanakanlah shalat 4 rakaat dengan 3 witir. Jika kau tonton 3 pertandingan dalam seminggu, maka setidaknya kau tahajud 3 kali seminggu pula.

“Aku tak menonton bola,” katamu. Maka tidurlah lebih awal, sehingga cukup jam istirahatmu, dan bisa terbangun 30 menit sebelum shalat subuh. Lalu kerjakanlan shalat.

“Tapi, bekerja kan toh sudah merupakan ibadah. Tak harus ibadah berupa shalat dan lain-lain sejenisnya,” ujarmu.

Benar. Maka tambahkanlah niat dalam hatimu saat berangkat kerja, bahwa kau bekerja ikhlas karena Allah. Bukan sebab takut pada atasanmu, bukan sebab ingin menafkahi keluarga. Tapi karena Allah telah karuniakan sedemikian banyak nikmat, dan kau patut bersyukur dengan cara bekerja yang baik. Ucapkanlah basmalah setiap akan memulai satu tugas, lalu Alhamdulillah kala ia telah selesai. Tersenyumlah pada rekan kerja atau pelangganmu dengan ikhlas karena Allah. Ucapkanlah Assalamu’alaikum pada mereka. Bekerja lah dengan jujur. Istighfarlah kala berbuat kesalahan, jangan hanya minta maaf pada atasan atau pelangganmu. Yang demikianlah, maka bekerja pun menjadi ibadahmu.

Sungguh, membuka sedikit saja buku-buku agama, kau kan temukan bahwa pada setiap detik kita bisa membuat malaikat pencatat kebaikan sibuk. Maka tak ada alasan untuk tak mengusahakan ibadah, wahai diri. Sebab kita memerlukannya. Bekerja itu, menyelamatkanmu dari dunia. Dari tidak dipecat, dari tidak dimarahi pelanggan. Tapi kesulitan dunia hanya sementara. Kesulitan akhirat lah yang kan abadi, jika dunia yang singkat ini dilalaikan.

Ibadah itu, diusahakan. Nasihati diriku kala lalai, ya Sobat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>