Ilmu Makanan Pikiran

“Tanda perlunya tubuh akan makanan adalah lapar. Tanda perlunya pikiran akan ilmu adalah kebodohan.”

Setiap hal ada ilmunya. Bahkan hal terkecil dan sederhana sekalipun. Cara memotong bahan makanan, bisa mempengaruhi keseluruhan rasa. Waktu yang tepat untuk memberi pupuk, berdampak pada berton-ton hasil panen. Dan atas hasil yang tak diharapkan itu, kita kerap bingung. Gejala bingung pada pikiran ini, serupa dengan gejala lapar pada tubuh. Jika lapar menggerakkan tubuh untuk mencari makanan, maka bingung sejatinya menggerakkan pikiran untuk mencari ilmu.

Paling sederhana adalah dengan bertanya. Hampir setiap hari kita bertanya. Dan kita sadari, tak semua pertanyaan terjawab. Sebab jenis jawaban itu beragam, bergantung pada pertanyaannya. Salah bertanya, salah jawaban. Maka kala jawaban yang datang tak menghilangkan kebingungan, sejatinya kita perlu terus berjalan mencari ilmu.

Sebagaimana tubuh perlu makan secara rutin beberapa kali sehari, begitu pula kebutuhan pikiran akan ilmu. Kita tak bisa hidup dari makanan yang kita makan sebulan yang lalu, sebagaimana kita tak bisa berpikir dengan ilmu yang kita dapat hanya dari zaman sekolah dulu. Makanan yang sebesar itu akan diolah oleh tubuh dan diambil sarinya, sebab memang sarinya itu sajalah yang dibutuhkan. Maka ilmu yang setebal buku itu pun perlu diolah oleh pikiran untuk dipetik hikmahnya, karena memang hikmah itulah yang diperlukan.

Meski jumlah makanan yang kita butuhkan sebanyak tiga piring dalam sehari, kita tak bisa memakan ketiganya sekaligus. Mesti bertahap. Itu pun sesuap demi sesuap. Jika ingin nikmat dan, tiap suapan mesti dikunyah perlahan. Sebab tubuh ada batasnya, ia tak bisa dipaksa-paksa. Hal yang sama terjadi dengan ilmu. Meski yang kita butuhkan demikian banyak, pikiran kita tak bisa mempelajari semuanya serta merta. Belajar ada tahapannya, yang tiap anak tangga tak bisa dilalui sekenanya saja. Ia mesti dijalani perlahan, dihayati langkah demi langkahnya.

Sudah fitrahnya diri ini menyukai jenis makanan tertentu. Namun sebab kita tahu tubuh ini tak hanya membutuhkan itu, kita paksalah diri untuk memakan juga apa-apa yang baik dan perlu. Begitu pun dengan ilmu. Amat wajar diri ini menggemari ilmu tertentu. Tapi karena kita tahu pikiran ini tak hanya memerlukan itu, perlulah bersungguh-sungguh mempelajari juga hikmah yang penting tanpa banyak menggerutu.

Kala kecil, kita belum tahu pentingnya makanan bagi diri. Maka begitu repotlah orang tua membujuk rayu agar terpenuhi kebutuhan gizi. Dan itu sungguh dimaklumi. Namun seiring waktu, diri ini perlu bertumbuh jadi mandiri, lalu menentukan waktu dan jumlah makan sendiri. Ah, begitu pula lah kiranya dengan ilmu. Berawal dari bujukan hingga paksaan, seharusnya lah kita mendewasa dan menyadari kebutuhan akan ilmu. Kita lah yang mesti mandiri menentukan apa-apa yang kita butuh dan inginkan untuk dipelajari. Tanggung jawab mendidik diri bukan lagi terletak pada pundak ayah, ibu, atau guru. Tanggung jawab itu kini berpindah ke tangan kita sendiri.

Maka setiap kali pikiran ini gelap, bingung, dan merasa bodoh, itulah tanda ia sedang lapar akan ilmu. Bertanyalah, bergurulah, membacalah, merenunglah, mencobalah, belajarlah. Telah Dia janjikan derajat yang lebih tinggi pada mereka nan berilmu. Tidakkah kau, wahai diri, menginginkannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>