Ilmu yang Telah Melewati Diri

“Ilmu serupa pakaian. Ia yang paling nyaman dipakai adalah yang telah diukur pas dengan badan.”

“TIdak semua orang,” kata Pak Andrias Harefa, gurunya para trainer dan penulis itu satu kali kami pernah berbincang, “bisa mengajarkan sesuatu dengan otentik. Karena ilmu yang otentik mestinya adalah ilmu yang ketika masuk ke dalam diri seseorang, telah melewati dirinya dulu sebelum diajarkan.”

Memang, bagian dari mendalami sesuatu adalah menceritakannya pada orang lain. Maka bagian dari kebiasaan para pembelajar sejati adalah memiliki forum untuk membagikan apa yang telah ia pelajari pada orang lain. Sebab dengan menceritakan, diri ini merapikan ingatan, menata pemahaman. Datangnya pertanyaan dari kawan adalah pemicu ikatan jalinan saraf yang belum kokoh kala pertama kali menyimak. Salah kurangnya pengertian memiliki dilengkapi di ruang perbaikan. Tiada khawatir jika kelak tiba waktunya mengamalkan, karena latihan telah jauh hari dilakukan.

Oleh karena itu, belajar memang perlu waktu. Terburu-buru adalah sifat buruk yang mesti dikendalikan para pecinta ilmu. Jangan terburu-buru melakukan sebelum cukup pemahaman. Jangan terburu-buru mengajarkan sebelum cukup pengalaman.

Loh, bukankah tadi dikatakan menceritakan itu bagian dari belajar?

Ya, menceritakan memang. Namun mengajarkan itu lain cerita. Mengajarkan itu mendampingi orang lain belajar secara utuh, dengan adab dan tata cara yang berbeda. Bukan berarti seorang guru mesti sempurna. Tapi paling tidak, ilmu yang dipelajari telah melewati dirinya. Telah ia olah dengan pikir dan rasanya. Telah ia ejawantahkan dalam tingkah lakunya. Dan mengajarkan, sungguh memerlukan ilmu tambahan yang tak kalah memerlukan ketekunan tuk mempelajarinya. Ilmu yang diajarkan itu satu hal, ilmu mengajarkan itu hal lain lagi. Keduanya mesti serasi agar pembelajaran dapat membumi.

Ilmu serupa pakaian. Para penjahit memang memiliki desain dan pola dasar. Namun tetap saja, agar pakaian pas melekat nyaman di badan, ia mesti diukur dengan cermat, dijahit dengan kuat, dan dipaskan betul sebelum layak dipakai dan terasa nikmat. Jadilah kebiasaan para pembelajar untuk mengolah tiap ilmu hingga pas dengan pikirannya, selaras dengan perasaannya, terwujud dalam tindakannya, tuk menyelesaikan apa nan menjadi amanahnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>