Kala Letih Melanda

“Kala letih melanda, tanyakan pada diri, ‘Tuntuk siapa kau lakukan ini semua?’”

Ya. Manusia adalah makhluk dengan alasan. Bahkan, manusia adalah makhluk pembuat alasan. Maka bergeraknya seseorang, sedih dan senangnya, semangat dan lesunya, marah dan tenangnya, bergantung pada alasan yang dipegang dalam benak dan sanubarinya.

Jika seseorang menyapu tersebab pekerjaan, karena ia digaji saja, amat jarang menjalankan dengan penuh gairah. Namun meski pekerjaannya sama, gajinya sama, ketika yang dipasang adalah makna bahwa perusahaan itu adalah perusahaanya, kebersihannya berarti kenyamanan pelanggannya, dan kenyamanan pelanggannya berarti keberlangsungan bisnisnya, sungguh akan lain perkara,

Lalu apa hubungannya dengan keletihan?

Letih, setidaknya ada 2 jenis. Jenis pertama ialah letih fisik semata. Yang obatnya tiada lain adalah istirahat saja. Jenis kedua ialah letih jiwa. Yang obatnya pun istirahat, namun istirahat yang berbeda. Keletihan jenis ini bisa ditandai ketika tubuh sebenarnya sudah cukup beristirahat, namun semangat tak jua kunjung kembali. Tubuh sehat, tapi ia tak terdorong tuk bergerak. Inilah letih jiwa. Lebih psikis. Letih yang terjadi tersebab alasan yang hilang atau kurang mendalam.

Maka obat bagi letih serupa ini ialah bertanya pada diri akan alasan kita menjalani semua ini. Lalu renungkan secara mendalam, ada kah alasan tersebut masih cukup kuat tuk menggerakkan diri sepenuh kesungguhan.

Jika masih, rasakan ia benar-benar. Resapi, sebab terkadang jiwa ini memang lupa. Kesibukan, rutinitas, memang kerap melalaikannya dari makna-makna.

Jika tidak, temukanlah makna yang baru. Makna yang lebih tinggi. Makna yang lebih mendalam. Makna yang mengantarkan pada kebaikan dalam kehidupan berkepanjangan. Sebab makna yang hanya sependek ujung langit dunia, memang selalu memiliki keterbatasan. Naiklah lebih tinggi, layangkan pandangan pada keabadian yang dijanjikan. Pada alam yang takkan berakhir, yang kesenanggannya tak berkesudahan.

Setelah ketemu, lalu putuskan, “Apa tindakanku yang kan mengantarkan ke sana? Apa perilakuku yang kan memastikan ku berada di sana?”

Lalu bangun. Ya, bangun dan bekerja. Kita ada untuk menjadi wakilNya. Dan tak layak wakil bersantai terlalu lama. Urusan banyak. Terbengkalai di tiap detik pemberhentian kita. Jalankan tugas. Sebab imbalan kita bukan di sini. Di langit dunia ini. Imbalan sejati kita ada di akhirat nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>