Keluargamu, adalah Warisanmu

“Renungkanlah sejenak, kala jiwa ini telah kembali. Adakah akan kau tinggalkan penerus yang kuat pengokoh kehidupan?”

Dalam berkeluarga memang ada kesenangan. Dan pada setiap kesenangan, sungguh kan ada pertanggung jawaban. Banyak insan berharap anak, namun sadarkah bahwa kelak anak-anak itu kan jadi saksi setiap perbuatan diri? Bahwa amalan mereka—buruk dan baik—kan menyeret kita dalam kebinasaan atau keselamatan?

Di titik ini, mari sejenak berhenti dan merenung: keluarga seperti apa kah yang kita tinggalkan kala hayat telah tercerabut dari badan? Sebab keluarga ini, tak lain adalah warisan yang kita tinggalkan bagi kehidupan. Anak-anak yang kuat, yang memimpin kehidupan kelak, tak lahir tiba-tiba. Mereka hanyalah buah dari apa yang kita kerjakan sehari-hari di rumah.

Maka benarlah pepatah yang mengatakan kita bisa membeli tempat tinggal (house), namun tak bisa membeli rumah (home). Pada rumah, tiap diri mesti membangun pendidikan yang kokoh melalui keteladanan dan pengajaran. Keteladanan, sebab anak belajar lebih cepat melalui peniruan, daripada pendengaran. Sedang pengajaran, adalah dasar-dasar pemahaman untuk jadi bekal kala dipraktikkan kala menghadapi kenyataan.

Kala bicara pendidikan, maka kenyamanan dan kesulitan adalah pasangan yang tak terpisahkan. Kesulitan telah sejak lama terbukti sebagai guru. Namun sungguh banyak insan yang menghendaki kenyamanan, hingga menjadikan kesulitan sebagai musuh. Barulah belakangan ia mengeluh, bahwa anak-anaknya tak sanggup menerjang badai kehidupan. Jelaslah, sebab tiada kemahiran tanpa latihan.

Di zaman ini, sungguh kemudahan dan kenyamanan adalah ujian yang tak henti mendera. Kemudahan, kecepatan, kenyamanan, dan kesenangan, tak lagi menjadi hasil tuk dinikmati, namun sesuatu yang dicapai bahkan sebelum langkah kaki diayunkan. Lalu bagaimana kah jiwa-jiwa muda itu kan kokoh menahan terjangan angin kesulitan?

“Lalu apakah aku harus menyulit-nyulitkan keluargaku?” tanyamu.

Bukan itu yang dimaksud. Pada kenyamanan dan kesulitan, ada kebaikan. Dan kebaikan itu hanya akan lahir melalui pendidikan, pendampingan, pengajaran yang dilakukan dengan penuh kesabaran dan kesungguhan. Teachable moment, momen-momen pengajaran, datang tanpa diundang. Sekelebat, dan pergi begitu saja jika tak ditandai dengan jeli. Maka jika diri ini terlalu sibuk mengurusi diri sendiri, lewat lah ia tanpa pamit.

Sadarilah, wahai diri, bahwa kewajibanmu bukan hanya nafkah. Kewajibanmu pun adalah menata batu bata generasi penerus yang kuat. Jiwa-jiwa dalam keluargamu memerlukan penempaan yang tak kenal lelah sebelum ia mampu terbang dan menempati nasibnya sendiri.

Sungguh ini nasihat yang berat. Ingatkan diriku, wahai Sobat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>