Kenikmatan Belum Tentu Tanda Keselamatan

“Jangan salah fokus. Kenikmatan belum tentu keselamatan.”

“Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami membukakan semua pintu kesenangan duniawi untuk mereka. Ketika mereka bergembira dengan pemberian itu, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Maka, ketika itu mereka terdiam putus asa.”

Al An’am: 44

Kerap orang bertanya, jika memang ketaatan itu membawa keselamatan, kebahagiaan, mengapa banyak mereka yang tak taat namun hidupnya berkelimpahan. Sementara, banyak pula mereka yang teramat taat namun hidupnya berkekurangan. Bicara soal hidup produktif, pertanyaan jenis ini sungguh amat layak direnungkan. Sebab bisa jadi kita keliru menerjemahkan produktif dengan kekayaan. Dan mengira yang tak kaya adalah mereka yang tak produktif.

Berita baiknya, kriteria kesuksesan kita jelas bukan kekayaan. Ya, pembeda insan di hari akhir itu hanyalah ketakwaan. Kesungguhan dalam menaati perintah, dan kesungguhan dalam menjauhi larangan. Maka kekayaan dan kemiskinan bukanlah alat ukur yang tepat untuk melihat kesuksesan hakiki.

Begitu pula kesenangan dan kesusahan. Ketakwaan, tersebab ia berurusan dengan kesungguhan, jelas takkan melulu berisi kesenangan. Bahkan, bisa jadi akan jauh lebih banyak ditemui kesusahan. Maka ia yang tampak selalu senang belum tentu produktif. Begitu pun ia yang tampak selalu susah belum tentu tak produktif.

Apa pasal?

Jelas telah diterangkan di atas, bahwa pintu kesenangan duniawi justru kerap dibukakan pada mereka yang melalaikan peringatan Allah. Bahwa orang yang telah melewati batas, dan terang-terangan dalam perlawanannya, kerap malah dijerumuskan dengan berbagai hal yang mereka sangka sebagai keberhasilan. Dan Al Qur’an telah mencatat tokoh-tokoh seperti ini dengan penjelasan yang terperinci. Fir’aun, Hamman, Qarun, adalah mereka yang barangkali akan membuat kita berdecak kagum dan mungkin akan meragukan diri sebagai orang beriman. Sementara Rasulullah saw, penutup para nabi, berada dalam kehidupan yang secara kasat mata teramat pas-pasan.

Ini bukan berarti, bahwa mereka yang takwa selalu hidup sederhana. Dan bukan pula bermakna, mereka yang dikaruniai kekayaan duniawi tidak bertakwa. Hanya saja, jangan salah fokus, wahai diri. Kekayaan dan kemiskinan itu hanyalah ujian yang diberikan pada tiap insan. Sebab memang tugas yang diemban berbeda-beda, tiap insan diberikan kondisi yang sesuai dengan tugasnya. Tak semua orang kan jadi direktur, ada pula yang perlu jadi office boy. Namun pada keduanya tak terdapat perbedaan kemuliaan. Keduanya, di hari akhir kelak, bisa sama-sama mulia dalam barisan yang sama, tersebab ketaatannya.

Maka insan produktif adalah insan yang fokus pada kriteria ini. Pada indikator utama ini. Dan sejernih mungkin jeli membedakan mana anugerah, dan mana ujian. Kala dikaruniai kesusahan, ia tafakur, adakah ini ujian, atau justru anugerah? Begitu pun kala diberi kesenangan, ia merenung dalam-dalam, adakah ini anugerah atau justru penjerumusan?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>