Kepantasan dan Memantaskan

“Berhentilah mencari yang pantas. Sebab ia yang pantas sejatinya menjadi pantas sebab kau pantaskan.”

Hampir tiap detik insan mencari apa yang pantas baginya. Lalu lupa bahwa kepantasan adalah soal apa yang termaktub dalam pikiran. Kepantasan, acapkali soal apakah yang di luar, cocok dengan yang di dalam. Namun memang membutuhkan kebesaran jiwa tuk berpikir sebaliknya, bahwa adakah yang di dalam pantas untuk yang di luar.

Seringkali jodoh disebut sebagai belahan jiwa. Maka segala yang berjodoh, sejatinya adalah satu yang terbelah. Yang satu tak sempurna tanpa yang lain. Keduanya berbeda, yang kala bersatu, baru lah tersempurnakan. Dan kala berpisah, tertampaklah retak masing-masing.

Di titik ini, mari kita merenung lebih dalam. Menyelami kenyataan bahwa acapkali diri melihat kekurangan pada insan lain sebagai kenistaan. Padahal sejatinya ia mungkin ruang bagi diri tuk mengisinya. Begitu pun kadang dengki menyelusup menatapi kelebihan insan lain, sedang bisa jadi ia lah penutup kekurangan diri yang kita cari selama ini.

Maka kepantasan, mungkin lebih tepat dimaknai sebagai memantaskan. Yang di dalam ini memantaskan diri tuk mendapat yang pantas. Juga yang di dalam ini terus berusaha menjadikan jodohnya tuk mencapai kepantasannya. Dalam yang demikian, cinta menjadi keindahan bukan sebab ia melulu menyenangkan. Keindahan cinta justru terletak pada kemampuannya menerbitkan bahagia meski kala menjalani kesusahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>