Kerisauan yang Bermanfaat

“Risaulah pada yang tak pasti. Jangan merisaukan yang telah pasti.”

Sungguh rezeki telah pasti. Tuhan telah janjikan, jika diri ini tak percaya, lalu pada siapa lagi hendak percaya? Bukankah kala seseorang telah menjanjikan dengan kepastian, kita bisa merasakan tenangnya hati? Padahal ia hanya lah insan biasa, nan jauh tak berdaya dibanding Penciptanya. Maka kerisauan akan rezeki tungguh tak pantas, sedang tiap detik umur berkurang. Adakah faedah pada usia yang habis merisaukan yang telah pasti?

Namun ada yang tak pasti. Yang lebih layak tuk kita risaukan. Ia lah nasib kita di hari akhir kelak. Ia bergantung pada ketaatan, kesungguhan sepanjang hayat yang singkat. Tak pernah tahu kita, adakah kan selamat atau celaka. Sebab seluruh keputusan ada dalam kehendakNya. Inilah, wahai diri, kerisauan yang benar-benar layak bagi insan yang lemah. Kerisauan yang perlu dipelihara agar terpacu diri terus berkebaikan.

Sungguh ada nilai ibadah pada tiap aktivitas yang dijalankan atas namaNya, dengan petunjukNya. Tapi aktivitas yang sama itu bagai debu beterbangan belaka kala luput kita niatkan untukNya, persembahan bagiNya. Tipis, sungguh teramat tipis, beda keduanya. Namun akibat pada kesudahan sungguh bagai bumi dan langit.

Tugas diri ini beribadah. Inilah tugas dan tujuan penciptaan. Rezeki telah dicukupkan. Petunjuk telah dibentangkan. Teladan telah disediakan. Diri inilah yang memilih berada dalam jalan kesulitan atau keselamatan.

Kesudahan itu tak pasti. Maka risaulah. Rezeki dalam kehidupan ini itu pasti. Maka tenanglah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>