Malu

“Malu lah kala tak bisa bangun tuk sujud di dini hari. Sebab nyata-nyata maksiat masih menggelayuti kelopak mata.”

“Shajat tahajud,” tutur nasihat bijak, “adalah hadiah bagi hamba beriman.” Sebab dalam keheningan itulah seorang hamba diistimewakan, sedang yang lain dibiarkan lelap dalam buaian.

Sisi lain, bangkit menjauhkan lambung dari tempat tidur memang memerlukan kekokohan iman yang dibangun dengan penuh ketekunan. Berawal dari ‘siksaan’, ia kan berbuah kenikmatan.

Maka mampunya diri ini tuk dengan mudah bangun berkhalwat, bisa jadi adalah tanda bahwa ia sedang diistimewakan, diberi hadiah yang tak semua orang dapatkan. Sebaliknya, tak mampunya seseorang tuk bangun, padahal ia ingin, adalah tanda bahwa masih ada maksiat yang menggelayuti kelopak mata. Sebab tak ada ciptaan yang tak rindu menundukkan dirinya. Demikian halnya tubuh dan jiwa. Ia tak terbangun, sebab ada beban yang belum terlepaskan.

Malu lah, wahai diri, yang kesulitan tuk bangun kala dini hari. Malu dan berusahalah tuk menyucikan dirimu dari rekaman dosa yang membebani. Sebab Dia Maha Pengampun, moga Dia mudahkan dirimu tuk kembali merasakan nikmatnya penghambaan.

Inilah malu sejati, yang bernilai ibadah. Malu yang menggerakkan, mukan memundurkan. Malu yang bukan menyoal penilaian orang lain. Malu yang padanya terdapat kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>