Mari Meningkat

“Yang perlu dikurangi ada 2: rasa malas dan kegiatan yang sia-sia. Niscaya, waktu melimpah adanya.”

Sebuah masalah, ujar Einstein suatu kali, tidak bisa diselesaikan dengan level berpikir yang sama dengan level masalah itu muncul.

Demikian kurang lebih yang pernah kami dengar. Mudahnya, jika ingin mendapatkan hasil yang berbeda, lakukanlah hal yang berbeda. Sebab cara yang sama, hanya akan melahirkan hasil yang itu-itu saja. Betapa mudah anak SMA menyelesaikan soal ujian yang di level SD dulu membuat keringat mengucur deras. Betapa senyum mudah tersungging pada orang tua mendapati kegalauan hati anak-anak muda.

Sungguh nasihat ini demikian sering kudengar, bahkan kunasihatkan pula pada orang lain. Untuk beberapa hal, aku pun mencoba menerapkannya. Namun entah mengapa, dalam soal Ramadhan, nasihat ini kuabaikan. Tak kusentuh. Tak kupikir untuk menggunakannya. Maka jadilah beberapa tahun terakhir, Ramadhan hanyalah kewajiban yang datang pada waktunya, dijalani seadanya, tak berbekas setelahnya. Pada beberapa Ramadhan belakangan bahkan diri ini masih sibuk bergelimang dengan dosa, tanpa berusaha mengatasinya. Dirunut-runut, mungkin sudah 8 tahun berlangsung seperti ini. Ya, Ramadhan 2008 lah terakhir kali merasakan bulan kemuliaan ini terasa begitu bermakna. Keluar darinya, diri ini serasa mendapat pencerahan begitu rupa.

Alhamduillah, meski masih jauh dari layak untuk berpuas diri, ada yang berbeda di tahun ini. Allah mengabulkan doa hamba yang ingin kembali merasakan kesungguhan, dan sedikit demi sedikit meluruskan lagi arah perjalanan. Kurun waktu 8 tahun rupanya cukup panjang untuk membuat jiwa ini rindu pada kampungnya. Gelisah tahun-tahun belakangan seolah menemukan setitik ketenangan yang merambat perlahan menyucikan lumuran kesalahan.

Sungguh benar rupanya, nasihat Ustadz Nouman Ali Khan. Dalam salah satu ceramah, beliau mengungkapkan bahwa intisari kegiatan utama Ramadhan sejatinya adalah mempelajari dan merenungi Al Qur’an. Satu-satunya ayat dalam Al Qur’an yang menyebut Ramadhan, justru mengajak manusia untuk mengingat bulan ini sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an. Dan puasa, dengan berbagai kaidahnya, adalah sarana agar diri mudah merasapi, dan menginstal petunjuk Ilahi ini.

Puasa, memungkinkan diri ini mengambil jarak dengan kebiasaan lama, hingga mudah mencermati satu demi satu, dan membandingkannya dengan kaidah-kaidah dalam petunjuk hidup. Maka ketika, alhamdulillah, kami menargetkan cukup khatam 1 kali selama Ramadhan, namun dengan mempelajari seluruh artinya, dan berhasil selesai di tanggal 30, ada kebahagiaan yang tak terkira. Ada jiwa yang seolah hidup kembali, bagai tanah tandus yang diguyur hujan lebat. Segar. Serupa kerongkongan kering yang dibasahi seteguk air minum.

Masih jauh. Masih jauh dari sempurna. Namun sungguh syukur ini tak terkira, sebab penantian telah demikian lama. “Dia beri petunjuk pada yang Dia kehendaki, namun mengapa diri ini terus-menerus jatuh lagi?” adalah tanya kami bertahun-tahun melahirkan gejolak hati.

Lalu hadirlah kini, Syawal, bulan peningkatan. Sebab bakda Ramadhan, harusnya diri ini meningkat ketaatannya, kesungguhannya, keikhlasannya, kesabarannya, kesyukurannya. Namun belenggu setan telah dilepaskan, maka menjalani keseharian adalah perjuangan. Semoga, semoga, semoga segalanya dimudahkan.

Dalam khazanah pembelajaran, ada istilah transfer of learning. Yakni, bagaimana mentransfer pembelajaran dalam kelas menjadi perilaku sehari-hari. Salah satu yang perlu dilakukan adalah menetapkan standar perilaku untuk dipantau dan dijaga implementasinya.

Maka persis serupa Ramadhan, mari targetkan kebiasaan di bulan-bulan setelah ini. Ramadhan telah membuktikan pada diri, bahwa puasa sebulan penuh itu mungkin. Shalat 5 waktu berjamaah itu mungkin. Mempelajari Al Qur’an setiap hari itu mungkin. Shalat sunnah puluhan rakaat itu mungkin. Sedekah tiap hari itu mungkin. Dan semuanya dijalankan tetap bersama rangkaian pekerjaan dan rutinitas kehidupan.

Cukup, sungguh cukup, wahai diri, untuk melakukan itu semua. Yang perlu dikurangi ada 2: rasa malas dan kegiatan yang sia-sia. Niscaya, waktu melimpah adanya.

Semoga Allah berikan hidayahNya pada kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>