Memaafkan

“Memaafkan adalah mengambil hikmah, dan meninggalkan perniknya.”

“Marah dan kecewa,” ujar nasihat jernih, “seringkali bukan merupakan emosi utama. Maka mengikutinya hanya kan membuatmu tersesat.” Dalam ranah psikologi, kita dapati istilah primary dan secondary emotion. Kala kita sedang berkendara, lalu menyeberanglah seseorang tanpa aba-aba, seketika emosi terkejut terbit dalam diri.

Inilah emosi primer. Ia hadir bersamaan dengan kejadian penyebabnya. Namun apa yang terjadi beberapa saat setelahnya?

Ya, kita pun menatap orang tersebut, lalu dengan rasa kesal keluar lah beberapa kalimat pelampiasan. Nah, rasa kesal ini adalah emosi sekunder. Ia tak asli disebabkan oleh kejadian awal. Ia adalah emosi olahan yang hadir sebab terpicu oleh beberapa pikiran yang muncul belakangan, semisal, “Wah, orang itu tidak tahu aturan. Harus diberi pelajaran!”

Repotnya, emosi sekunder ini lah yang acapkali kita biarkan tanpa pengolahan, hingga ia berkembang tanpa kendali. Walhasil, emosi primernya malah terlupakan, padahal di sana lah terkandung makna yang menunggu untuk dituai.

“Memaafkan,” demikian sebuah nasihat bijak, “terjadi ketika kita fokus pada kejadian, dan melepaskan berbagai penafsiran.” Sebab penafsiran memang memiliki ribuan jalan, yang pada tiap jalannya kan hadir berbagai godaan. Sebegitu cerdiknya godaan, hingga ia begitu halus menembus hati, lalu hadirkan bermacam rasa yang tak asli lagi. Maka sejatinya memaafkan itu mudah, jika kita mampu mencermati hakikat kejadian, dan melepaskan bauran penafsiran yang tak relevan.

“Bukan apa yang orang lain lakukan yang menyakiti kita,” ujar Victor Frankl, sang perumus logoterapi, “melainkan respon kita terhadapnya lah yang menyakiti kita.”

Demikianlah, kemarahan adalah sebuah keputusan, disadari atau tidak. Maka memaafkan pun adalah sebuah keputusan, disadari atau tidak. Memaafkan, akan membukakan pemahaman akan kesempurnaan pengaturan Tuhan, hingga terbitlah hikmah yang tersimpan di dalamnya. Adapun bumbu-bumbu yang tak diperlukan, tinggalkan saja. Sungguh kau kan baik-baik saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>