Membangun Keahlian

“Belajar menghendaki ketekunan melakukan pengulangan dan perbaikan.”

“Setelah dua tahun,” tutur seorang kawan, “akhirnya aku baru bisa mengerti apa yang pernah kau ajarkan. Semuanya seperti tercerahkan, terangkai dengan rapi. Sebelumnya, berbagai teori ini seperti tersimpan secara acak.”

Tampak tak asing?

Tentu. Bukan sekali dua kali kudapati kisah seperti ini. Aku pun demikian. Mempelajari belasan buku dari seorang guru, enam tahun lamanya, baru ketika bertemu dan belajar langsung, lalu mempelajari ulang satu per satu, pemahaman itu hadir.

Belum lagi pemahaman baru yang kerap kudapat kala mengulang sesuatu yang dirasa sudah dipahami. Mampu melakukan sebuah keahlian bertahun-tahun tak menghalangi diri ini untuk tetap menemui pemahaman baru, kala mendengar ulang dari orang lain.

“Lalu, apa yang salah dengan caraku belajar dulu?” tanya kawanku.

Hmm.. mungkin tak ada yang salah. Cara belajar yang pernah dijalani baik-baik saja. Hanya memang pemahaman itu bukan sesuatu yang datang sekali jadi. Ilmu, keahlian, ibarat rumah, dibangun satu demi satu tiap bagiannya. Tak bisa rumah dicat jika dindingnya pun belum jadi. Tak mungkin tiang berdiri jika fondasi belum lah utuh. Keelokan bangunan adalah hasil perjalanan panjang membangun sebata demi sebata. Yang satu tak bisa melampaui yang lainnya. Setiap tahap ada waktunya. Dan selalu saja ada jarak antara satu proses yang menghendaki kita tak lain supaya menunggu.

Pikiranku pun melayang pada Taksonomi Bloom. Model tahapan pembelajaran yang kenamaan itu. Darinya kita belajar bahwa mengingat harus terjadi sebelum memahami. Memahami harus terjadi sebelum mengaplikasikan. Mengaplikasikan harus terjadi sebelum menganalisa. Menganalisa harus terjadi sebelum mengevaluasi. Mengevaluasi harus terjadi sebelum mencipta.

Di titik inilah aku kurang setuju dengan kalimat, “Teori itu tak penting. Yang penting praktik.” Lalu apa yang hendak dipraktikkan, jika bukan teori? Memang, belajar tak hanya teori. Namun mempraktikkan sesuatu tanpa teori yang memadai kerapkali adalah wujud reinvent the wheel yang menyia-nyiakan waktu.

Keahlian, dalam kerangka Bloom, minimal terjadi di tahapan mengaplikasikan. Dan untuk itu, seseorang mesti mengetahui (mengingat) dan memahami dulu. Maka menghafal dan memaknai hafalan, memang bukan proses remeh yang bisa ditinggalkan. Ia sungguh diperlukan sebelum mengamalkan sebuah ilmu. Nah, inilah barangkali yang terjadi dalam kisah kawanku tadi—dan juga banyak kisahku sendiri.

Mengapa kita kerap baru memahami sesuatu setelah sekian lama belajar? Ini mungkin serupa dengan orang yang membangun fondasi rumah, tapi berkali-kali terkena hujan sehingga tak benar-benar kering. Perlu waktu lama sebelum bangunan di atasnya bisa berdiri.

Begitu pun dengan ilmu. Kala ia dipelajari, lalu tak diulang, diingat, dan diresapi, pemahaman takkan segera lahir. Sebab sebuah ilmu adalah intisari dari pengalaman guru. Sedang pengalaman guru takkan pernah sama dengan murid. Intisari tersebut perlu diresapi dan disesuaikan dengan bangunan pikiran sang murid, sebelum lahir pemahaman. Jika proses belajarnya tak sungguh-sungguh, maka pemahaman pun makin lama terjadi. Mereka yang pembelajar sejati menjaga betul tiap tahapan pembelajaran, hingga cepat menyerap dan memahami.

Pada tahapan mengaplikasikan dengan lancar, seseorang baru bisa disebut dengan kompeten. Mampu melakukan sebuah proses dan menelurkan hasil yang standar. Lancar dengan tahapan ini, barulah ia bisa menanjak naik ke tahapan evaluasi. Menilai proses yang dijalani, lebih dan kurangnya, lalu mengajukan saran-saran perbaikan. Tahapan ini pun berbeda-beda lamanya tiap orang, dan tiap ilmu. Tak semua yang pandai menjalankan kan pandai pula menganalisa dan mengevaluasi. Sebab ia menghendaki proses perbaikan yang berkelanjutan. Praktik yang tak sekedar praktik. Namun praktik yang disempurnakan terus-menerus. Sementara mereka yang tak gemar mengenali ruang perbaikan, kerap terhenti di tahapan ini hingga akhir hayat.

Pembelajar yang tekun melakukan pengulangan dan perbaikan, kan menanjak perlahan-lahan hingga terampil menganalisa, mengevaluasi apa yang ada, lalu hingga puncak mencipta. Di titik inilah kita mengenal para ahli. Mereka yang tak terkungkung oleh teori, sebab mereka lah penemu teori. Mereka menari-nari lintas ilmu sebab telah mencapai pemahaman yang hakiki. Dan biasanya, mereka rendah hati. Sebab ilmu seteknis apapun, rupa-rupanya, kala ditekuni, kan menyampaikan juga diri ini pada pemahaman hidup yang sejati. Sebagian orang menemukannya, sebagian lagi tidak bahkan hingga kematian menjelang. Mereka yang menemukan adalah yang terus mencari. Sedang yang berhenti, mati sebelum mati.

Maka benarlah istilah jalan ilmu. Sebab mencari ilmu memang sebuah perjalanan yang panjang dan berliku, hingga mengantarkan kita kembali. Dia kan bukakan jiwa-jiwa yang ikhlas dengan cahaya yang menerangi. Mereka yang terus berjalan akan sampai. Mereka yang tak mencariNya kan tersesat. Mereka yang berhenti kan mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>