Memimpin dengan Basmalah

Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Ayat pertama dalam Al Qur’an ini sungguh menghentak bagi para pemimpin. Sebab seseorang yang baru diangkat menjadi pemimpin, kini baru menyadari bahwa tidak saja dirinya seorang yang harus ia pastikan untuk selalu berada di jalan Allah, melainkan seluruh pengikutnya. Ya, basmalah adalah sebuah deklarasi luhur tiap insan untuk menyerahkan jiwa dan raganya bagi Allah. Ia lah pernyataan puncak seorang muslim untuk membawa-bawa nama Allah dalam tiap hal yang ia kerjakan. Dan kini, seorang pemimpin tidak saja membawa-bawa nama Allah sendirian, ia membawa sekian banyak orang lain dalam komandonya.

Tugas pemimpin, berbekal basmalah, adalah memastikan tiap gerak organisasi ada di jalan Allah. Sebab tugas tiap diri sebagai hamba, begitu pula lah tugas organisasi. Organisasi bisnis, bagi seorang muslim, tidaklah tentang bisnis itu sendiri, melainkan tentang menegakkan jalan Allah dalam perputaran roda ekonomi. Organisasi pendidikan, bagi seorang muslim, tidaklah semata tentang mengajarkan materi-materi, melainkan tentang memastikan tiap lulusan merupakan hamba Allah yang kokoh akidah, ibadah, dan akhlaknya. Bahkan organisasi berbasis hobi sekalipun, bagi seorang muslim, tidaklah semata tentang kesenangan itu sendiri, melainkan tentang memastikan kesenangan yang diraih selalu berada dalam jalan yang diridhai Allah.

Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Maka sifat dasar seorang pemimpin mestilah kasih dan sayang. Mengasihi setiap orang, menghargainya, menguatkan potensinya, meneguhkan langkahnya. Jika pun ia menghukum, itu pun diberikan dengan kasih sayang, dengan ketegasan tanpa kemarahan apalagi kebencian. Sebab pemimpin adalah guru, pembimbing. Kesulitan tim dalam menjalankan tugasnya adalah jalan tuk mendidik mereka. Kecerobohan tim dalam menuntaskan pekerjaannya adalah ruang-ruang pembelajaran. Allah saja mengampuni dosa, siapa lah kita berani tak memaafkan keteledoran.

Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Sebab meyakini sedang dibersamai oleh Allah, seorang pemimpin berusaha untuk selalu berada di jalan yang lurus. Jauh dari keinginan memanfaatkan jabatan, karena Allah melihatnya. Ukuran keberhasilan baginya bukan semata pencapaian angka-angka, melainkan seberapa kokoh timnya untuk terus berada di jalan Allah. Apalah artinya untung besar, jika diraih dengan kecurangan? Betapa besar tanggung jawab di akhirat kelak atas profit yang lahir dari kerakusan.

Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Tak ada masalah yang terlalu besar bagi seorang pemimpin, dengan basmalah, sebab keyakinan bahwa Allah selalu bersamanya. Energinya besar, pandangannya jauh melampaui apa yang semata ada di hadapan. Bagaimana tidak, sedang ia ditemani oleh Yang Maha Besar? Tak takut jatuh ketika benar, meski ancaman di sekeliling. Tak jemawa ketika menang, sebab tahu persis darimana datangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>