Menanam Doa

“Tanamlah doa di kala lapang, agar dikabulkan doa di kala sempit.”

Doa ibarat bibit. Kita tak pernah tahu kapan dan seperti apa ia kan dikabulkan. Namun yakinlah bahwa ia pasti tumbuh, sebab janjiNya takkah pernah luput.

Dan layaknya bibit, doa yang kita panjatkan mestilah sesuatu yang baik, hingga layak lah kita berharap hasil yang baik pula. Sebab takkan tumbuh buah manis, jika ditanam sembarang bibit.

Persis seperti bibit pula, doa pun perlu perawatan. Sirami ia dengan ilmu dan amal, hingga tumbuh subur dan berbuah ranum.

Juga serupa bibit, doa tak bisa tumbuh diburu-buru. Kesabaran menunggu ia membesar, meneguh, adalah keniscayaan sebelum hasilnya bisa kita nikmati. Dan sepanjang waktu itu, tak ada yang lebih layak tuk dilakukan selain menikmati setiap jengkal pertumbuhannya. Sebab dalam perjalanan itulah terdapat keindahan yang teramat sayang tuk dilewatkan.

Karenanya para petani tahu persis, mereka tak bisa menanam bibit, dan mengharapkan hasilnya dalam sehari. Menanam, adalah kegiatan di masa lapang, sehingga kita bisa berharap ia berbuah di masa sempit.

Demikian pula doa. Ia mesti ditanam justru di kala lapang, hingga tak hadir sesal di kala sempit. Dan aku tak bermaksud mengatakan bahwa kesempitan itu ada di dunia. Kesempitan sejati, adalah di jalan keabadian nanti. Di masa ketika tiada amal kan dicatat lagi. Ia lah masa memanen, segala yang kita lakukan kini.

Menyadari ini, adakah kau rasa berat tuk menjadi pribadi taat, wahai diri? Sedang apa yang kau lakukan kini, adalah apa yang kan kau nikmati di keabadian nanti?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>