Mengukur Kinerja Ramadhan Kita

Bulan penempaan itu baru saja usai. Ada sendu, tersebab menyadari kemalasan di hari-hari yang lalu. Jauh memang, jika diri ini menghendaki disematkan sebutan takwa. Namun bukan berarti lantas tak layak pula tuk bersyukur sebab hari mulia pun menjelang. Ia lah Idul Fitri.

Maka mari sejenak kita renungi, tuk sekedar mengukur pencapaian di tahun ini. Sebuah tujuan bernama takwa telah Dia janjikan kala mewajibkan tiap insan beriman tuk berpuasa. Dan takwa itu, gamblang belaka dijelaskan olehNya di bagian-bagian awal kita yang Ia turunkan.

“Kita (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepaad kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang telah mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka lah orang-orang yang beruntung.” (Al Baqrah: 2-5)

Di titik inilah, di ayat-ayat awal kitabNya yang mulia, Dia jabarkan derajat tertinggi yang bisa dicapai oleh insan seperti kita. Takwa. Dan takwa, meliputi beberapa ciri-ciri derajat ini.

  1. Beriman pada yang gaib. Adakah setelah Ramadhan, kita makin meyakini akan segala hal yang gaib, yang Dia janjikan pada kita? Bahkan Dia sendiri pun gaib bagi kita kini. Makin yakinkah kita kepadaNya, pada pengaturanNya, pada petunjukNya? Adakah kita makin yakin bahwa Dia selalu melihat, menghitung, mencermati? Bahwa malaikatNya selalu menyertai dan mencatat dengan cermat tiap lelaku bahkan bersitan hati? Sebulan penuh kita berpuasa, menahan diri padahal tak seorang pun kan tahu, adakah perilaku ini menambah keyakinan kita akan kegaiban akhirat?
  2. Mendirikan shalat. Selama Ramadhan kita dilatih tuk menjalankan shalat yang wajib dengan lebih sungguh-sungguh. Menambah yang sunnah dengan kualitas yang sama. Adakah diri ini semakin terlatih tuk menikmati shalat? Adakah dalam kejernihan kala berpuasa shalat kita semakin tegak dan kokoh, menghadirkan hati tuk hanya mengingatNya? Adakah tiap sujud adalah sebentuk kepasrahan total dan momen terlepasnya dunia dari hati? Adakah makin dekat kita pada ‘hidup menunggu dari shalat ke shalat’?
  3. Menafkahkan sebagian rezeki. Puasa mengajarkan kita tuk mencukupkan apa nan kita nikmati tuk diri sendiri. Bahwa setahun ini banyak hal berlebih yang kita konsumsi, sedang sejatinya tak semua perlu bagi diri. Dalam puasa kita dapati bahwa apa-apa yang tak benar-benar kita perlukan itu, sungguh bisa bermanfaat bagi orang lain. Bahwa apa yang benar-benar kita butuhkan justru amat sedikit. Maka ringanlah mestinya kita berbagi pada orang lain yang membutuhkan.
  4. Beriman pada Al Qur’an. Sebab tiada keraguan di dalamnya, sebagaimana telah disebutkan di ayat 2, ditambah lagi ia adalah petunjuk yang lurus sebagaimana petunjuk bagi umat-umat yang telah lalu, maka adakah Ramadhan ini, bulan diturunkannya Al Qur’an ini, menjadikan kita makin dekat tuk senantiasa bercengkerama dengannya? Adakah Al Qur’an, yang kita perbanyak membacanya di bulan ini, yang kita renungi makna-maknanya dari hari ke hari, semakin mengokohkan keyakinan bahwa ia lah petunjuk nan pasti? Bahwa yang lain, seberapa pun ilmiahnya, adalah pelengkap semata, yang perlu selalu kita rujuk kembali pada petunjuk aslinya?
  5. Yakin akan adanya kehidupan akhirat. Adakah telah lurus niat kita, kala menjalankan puasa ini, hanya tuk bekal kita memasuki keabadian akhirat kelak? Atau kah ia masih sekedar ibadah yang berganjar buka puasa semata? Sungguh hidup tak sesempit dan sependek dunia. Kehidupan adalah bentangan sejarah nan panjang yang amat bergantung pada apa-apa yang telah kita abdikan di sependek hidup di dunia ini. Adakah Ramadhan makin menjadikan kita yakin akan akhirat, yang berarti semakin cermatnya diri ini menjalani detik demi detik, yang kan berbuntut panjang kelak.

Maka jadilah, kala ciri-ciri di atas semakin dekat pada apa yang terjadi pada diri ini, Dia pun menjanjikan sebuah ganjaran yang tak terkira, “Mereka itulah yang telah mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka lah orang-orang yang beruntung.”

Duhai, diberi petunjuk oleh Tuhan. Dibimbing dalam tiap pengambilan keputusannya. Siapa nan tak tergoda? Siapa yang menganggap ini bukan keberuntungan?

Nah, bagaimana? Dekatkah kita pada ciri-ciri di atas?

Belum?

Tak apa. Tak ada yang instan dari perjuangan menjadi insan takwa. Ia adalah perjalanan penggemblengan diri nan tak kenal lelah, hingga akhirnya nanti. Cermati terus 5 ciri-ciri tadi. Dan kita kejar terus 11 bulan ke depan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>