Menikmati Ujian, Menikmati Pembelajaran

“You are more than your score.”

Demikian kalimat ini setiap hari saya dengar kala mengikuti sebuah pelatihan sertifikasi yang sangat intens. Kami belajar dari pagi hingga larut malam. Kami diuji dan dinilai setiap hari. Kami baru mendapatkan sertifikasi jika lulus ujian dengan angka tertentu untuk 7 kompetensi, dan angka itu harus kami dapat minimal 2 kali. Maka dijamin tidak semua orang akan langsung lulus pada hari terakhir pelatihan. Namun proses ujian bisa terus berlanjut setelahnya. Dan setiap hari, menjelang ujian, guru kami selalu menggaungkan kalimat, “You are more than your score!”

Apa pasal?

Ya, karena ujian hanyalah sebuah cara untuk memberikan masukan atas pembelajaran yang telah kita alami. Ujian, bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, dan dikhawatirkan menentukan hidup kita selama-lamanya. Hasil ujian, bukanlah diri kita. Kita lebih dari itu. Apapun hasil yang kita dapat, itulah yang kita pahami saat ini. Jadikan ia pijakan untuk naik ke tangga berikutnya.

Maka yang paling penting kala menjalani ujian adalah sikap penasaran dan kegairahan akan pembelajaran. Akan hal-hal baru yang akan kita dapatkan. Sebab ujian memberi tahu kita sudah sejauh mana perjalanan yang kita tempuh. Kadang, kita sendiri tak sadar bahwa kita telah begitu jauh belajar. Persis seperti kita mengendarai mobil setiap hari, lalu tiba-tiba kaget jika kilometer telah menunjukkan kita berkendara sejauh 100.000 km.

Poin terakhir ini lah yang begitu menghenyak ketika sebuah kalimat dalam novel “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi terbaca oleh saya. Novel yang berkisah tentang pembelajaran sang penulis di Pondok Pesantren Modern Gontor itu melukiskan tentang suasana ujian di sana. Disana, ujar sang penulis, “Ujian adalah perayaan pembelajaran.”

Ya, jangan pernah bandingkan diri kita dengan orang lain. Bandingkanlah diri kita dengan diri kita sendiri. Bandingkan betapa sejatinya kita telah banyak belajar kini, dibandingkan dengan setahun yang lalu, 5 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu. Rayakan itu. Simpan ia menjadi semangat dan gairah. Lalu tengok bagian ilmu mana yang merupakan rute penjelajahan selanjutnya.

Saya ingat ucapan seorang guru, “Ilmu bukanlah tujuan. Ilmu adalah penjelajahan.”

Ya, science is a discovery. Belajar itu menjelajahi. Berkelana mendapati hal-hal yang belum kita pahami. Lalu merayakan atas apa-apa yang kita dapatkan. Dan kita akan terkejut, bahwa di atas puncak dari keberhasilan, ternyata berdiri jutaan kegagalan. Tanpa kegagalan itu, tanpa ketidakpahaman itu, keberhasilan tidak akan tampak menjulang. Mari kita ingat semboyan dari sebuah perusahaan desain kenamaan, IDEO, “Fail often, to succeed sooner.” Sering-seringlah berburu kegagalan, jika ingin berhasil lebih cepat.

Membekali adik-adikku yang sedang menjalani Ujian Nasional, aku mengajakmu untuk melihat kertas soal ujian sebagai kunci atas pintu-pintu pengetahuan yang belum kau pahami. Setiap soal yang bisa kau jawab adalah tanda akan apa yang kau pahami. Rayakan. Setiap soal yang belum bisa kau jawab adalah tanda bahwa ada keseruan baru yang perlu kau jelajahi setelah ini. Bukankah ini menggairahkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>