Meninjau Ulang Makna Kerja dan Belajar

Bagi sebagian besar orang yang kondisinya memungkinkan, rumah adalah tempat kita menjalankan berbagai peran sekaligus. Peran sebagai diri. Peran sebagai orang tua. Peran sebagai profesional. Peran sebagai pelajar. Peran sebagai anggota keluarga. Dan seterusnya.

Ya, tiba-tiba semuanya mesti dikerjakan dari rumah, setidaknya untuk sementara. Dan ia menghendaki demarkasi dalam pikiran. Di pikiran lah kita bisa membuat batas-batas peran yang berbagai macam ini agar ia berjalan baik semua. Batas yang tadinya agak lebih mudah tampak secara fisik. Kini, kita harus proaktif untuk menentukan batas, sekaligus melenturkannya kala diperlukan.

Ada yang menarik. Jika biasanya kerja itu dibatasi dengan jam hadir dan pulang, kini keduanya tak relevan. Tak ada batas masuk kerja, meski bos menghendaki video call, sebab selepas itu kita bisa melanjutkan nonton TV sambil berpura-pura kerja. Tak ada pula jam pulang karena bos pun bisa memberikan pekerjaan yang harus dikerjakan malam itu juga.

Sehingga kerja, kini kembali pada makna asasinya: aktivitas yang memberikan nilai tambah. Maka meski tak hadir di kantor sebagaimana biasanya, dengan bantuan teknologi kita tetap bisa memberikan nilai tambah. Laporan, persetujuan, penawaran, keputusan, kini tak lagi menghendaki kehadiran tubuh. Cukup pikiran kita yang terwakili data. Seolah-olah hal ini ingin mengatakan pada kita, bahwa kerja yang kemarin itu, yang masuk kantor itu, bukanlah esensi, bukanlah kerja, jika tak menghadirkan nilai tambah. Betul ini kondisi yang belum ideal. Ekonomi yang melambat memang masih menjadi kekhawatiran banyak orang. Tidak beroperasinya banyak perusahaan memang menimbulkan kecemasan. Tapi sekali lagi itu justru semakin menguatkan simpulan kita bahwa kerja adalah soal memberikan nilai tambah. Mal dengan fasilitas yang lengkap seketika sepi, sebab tak banyak orang yang merasakan nilai tambahnya kala dihadapkan pada virus tak kasat mata nan mengancam nyawa ini.

Sejurus pula dengan sekolah. Guru tetap bisa mengajar dari rumah. Beberapa mengungkapkan bahwa kesibukan mereka meningkat. Mungkin karena masa adaptasi juga. Memang ada bantuan dari orang tua. Entah bagaimana pula siswa yang tidak memiliki kemewahan itu—orang tua yang juga guru kompeten. Tapi justru itu. Orang tua, karena muridnya terbatas itu—anaknya sendiri—lebih mungkin melakukan kontekstualisasi materi ke dalam hal-hal yang benar-benar sehari-hari.

Dan lagi-lagi, makna sekolah pun berubah. Sekolah bukan ditandai dengan bel masuk dan bel pulang. Bukan pula dengan duduknya siswa di kelas. Melainkan dari esensi belajar itu sendiri. Menyimak. Berpikir. Mengerjakan. Mengolah pengetahuan. Membangun pemahaman.

Tentu ini juga bukan kondisi ideal. Ada pelajaran yang baiknya bertemu langsung. Ada yang harus dievaluasi sambil dilihat. Belum lagi belajar yang terjadi lewat interaksi di ekstrakurikuler dan organisasi. Tapi setidaknya kita kembali memaknai ulang apa sebenarnya yang esensi dari belajar itu. Karena sinyal naik turun, tiba-tiba siswa jadi lebih atentif. Karena guru merekam pembelajaran dalam bentuk video, maka ada kebutuhan untuk mengulang belajar jika belum memahami.

Guru pun, bisa menilik kembali, mana aktivitas pembelajaran yang hanya bungkus, dan mana yang benar-benar isi. Ice breaking yang biasanya diperlukan di kelas dan memerlukan waktu beberapa menit, kini menyisakan ruang yang bisa dipakai untuk mengerjakan hal lain.

Belajar, adalah tentang ilmu itu sendiri. Bukan hal-hal lain yang mempercantik namun bukan esensi. Di kelas, murid kerap pasif sebab ada guru yang kan menggerakkan dirinya, pikirannya. Di rumah, ia berlatih menggerakkan pikirannya, perasaannya, tindakannya. Setidaknya, harusnya demikian.

Ya, sebagian orang memang mengalami kesulitan di masa ini. Laju ekonomi yang melambat pesat (paradoks: melambat pesat) terlalu signifikan untuk kita pungkiri. Namun pada saat yang sama kita pun bisa meninjau kembali, mana saja di kehidupan kita sehari-hari yang benar-benar penting untuk dikejar, dan mana yang sejatinya bisa kita kurang kehendak kita kepadanya.

Beberapa kawan mengirimkan pada saya gambar langit Jakarta yang tampak biru. Sebuah pemandangan yang sungguh amat langka. Seseorang bahkan mengatakan melihat ada elang terbang melintasi langit kota yang tak pernah tidur ini. Dan rupanya ini bukan kisah di sini saja. Ini pun kisah di beberapa belahan dunia lainnya. Bumi memang sedang butuh istirahat. Dan makhluk tak kasat mata ini pun memaksa kita untuk mengistirahatkan kepadatan aktivitas kita sejenak, untuk menengok apa-apa yang asasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>