Merasakan Asyiknya Pembelajaran

Menyambung obrolan dengan seorang sahabat yang saya tulis pada artikel sebelumnya, saya pun teringat pada beberapa hal yang saya lakukan untuk menjadikan setiap kegiatan pembelajaran menjadi mengasyikkan.

“Kau boleh berhenti sekolah, tapi jangan pernah berhenti belajar.”

Nasihat ini, sungguh menegaskan bahwa belajar harus kita jauhkan dari semata kegiatan dalam sekolah. Pandanglah belajar sebagai ruh kehidupan. Bukankah perintah pertama Tuhan adalah membaca? Sekolah, hanyalah salah satu metode yang digunakan untuk mensistematisasi pembelajaran, agar setiap orang memiliki pemahaman dasar kehidupan yang merata. Tapi sungguh kehidupan ini terlalu luas untuk hanya dipelajari di sekolah. Lulusan sekolah sejati adalah ia yang ketika lulus mampu menciptakan pembelajarannya sendiri melalui apa yang ia alami di kehidupan nyata.

“Setiap penemuan, bukanlah kebetulan. Ia hadir hanya melalui kesungguhan.”

Teori yang kita baca, seringkali memang dianggap sebagai sesuatu yang mati. Tapi sadarkah kita bahwa setiap teori, untuk bisa menempatkan dirinya di dalam buku-buku pelajaran, memerlukan proses panjang nan berliku dilalui penemunya? Sang penemu, tak pernah secara kebetulan memahami sesuatu, jika ia tak melalui rangkaian panjang penelitian yang melelahkan jiwa dan raga. Maka salah satu hobi saya ketika mempelajari sebuah ilmu adalah mencari tahu kisah kehidupan sang penemu dan bagaimana proses pembentukan ilmunya. Menyelami hal ini menjadikan ilmu yang saya pelajari tak sekedar sebuah informasi dalam buku teks. Ia ‘hidup’, hingga mudah menyusup dalam hati.

“Hak sebuah ilmu, adalah diamalkan.”

Sebuah teori, memang sesuatu yang generik. Ia sengaja disusun untuk menjadi kaidah. Dan sebuah kaidah, baru menjelma jadi manfaat ketika ia dipertemukan dengan realita. Sebuah nasihat mengatakan, “Pemahaman, adalah pertemuan antara pengetahuan dan pengalaman.” Akan paham kita pada sebuah ilmu, ketika kita rajin mengamalkan setiap titik yang telah kita pelajari. Dan di titik inilah keasyikan belajar akan membesar: ketika diri ini merasakan manfaat dari apa yang telah dipelajari.

“Harta yang dibagikan akan berkurang. Ilmu yang dibagikan akan berkembang.”

Ada bagian ilmu, yang takkan hadir hanya melalui membaca dan mengamalkan. Ada bagian ilmu, yang seolah sengaja disembunyikan Tuhan, dalam kegiatan yang bernama pengajaran. Mengajarkan—atau membagikan—ilmu, bagi saya bukan semata pekerjaan atau kesenangan. Ia adalah kebutuhan. Sebab selalu saja ada banyak ilmu baru yang tumbuh dari interaksi saya dengan para pembelajar. Pertanyaan mereka, kebingungan mereka, adalah jalan ilmu yang begitu menggairahkan, sebab ia tak ada dalam perjalanan saya sendiri. Apa yang bekerja bagi saya, kiranya tak seketika bekerja bagi orang lain. Maka jadilah bangunan ilmu itu lengkap, karena begitu banyak orang menyumbangkan pengalamannya.

“Ikatlah ilmu, dengan menuliskannya.”

Meskipun mirip, menulis sebuah ilmu memiliki sensasi pembelajaran yang berbeda dengan mengajarkannya. Menulis, memungkinkan kita untuk berulang-ulang mengkaji pemahamn, sekaligus berkali-kali menguji penguraian. Jika ini kita lakukan di kelas, tentu akan membosankan yang mendengar. Tapi tidak dengan tulisan. Jika membaca adalah kegiatan mengunduh pengetahuan, maka menulis adalah kegiatan merangkai pemahaman. Dan sebab terbatasnya kemampuan tulisan mengikat makna, kita pun ‘dipaksa’ untuk hanya menuliskan segala sesuatu yang paling penting saja. Jadilah, pemahaman ini ‘diperas’ hingga menyisakan inti pembelajaran yang paling dalam. Saya pun baru memahami, mengapa para penulis yang sungguh-sungguh, selalu adalah juga merupakan guru yang mumpuni. Mereka tidak saja telah sampai pada pengertian, melainkan sampai pada pemahaman yang paling paripurna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>