Merindu Guru Sejati

“Guru sejati, diamnya pun mengajari.”

Adalah guru, yang konon digugu dan ditiru. Dikatakan konon, sebab menjumpai guru yang semacam ini memang sedang agak langka. Setidaknya yang menjadi demikian dengan penuh kesadaran, bahwa guru bukanlah sekedar profesi, melainkan jalan hidup. Menjadi guru, adalah sebuah pilihan untuk menjadi sungai ilmu, yang mengalirkan hikmah menuju muaranya. Sungai yang jernih, kan bawakan air jernih. Demikian sebaliknya.

Sebuah tutur bijak pernah berbisik, “People follow your footstep, faster than your mouth.” Insan lebih cepat menuruti lelaku seorang guru, daripada kata-katanya semata. Bukan sebab kata-kata tak berguna, melainkan ia harus menyatu dengan langkah demi memiliki kemampuan untuk menelusup lembut ke dalam jiwa.

Sungguh terkadang kami agak miris, mendapati guru dan murid saling berhitung. Sang guru berhitung jam mengajar, sang murid menghitung rupiah yang dikeluarkan. Lupa sang guru, bahwa bukanlah banyaknya jam yang menjadi ukuran keberhasilan, melainkan seberapa mampu pengajarannya menjernihkan hati muridnya. Silap pula sang murid, bahwa rupiah yang telah dikeluarkan, sebanyak apapun dirasa, takkan pernah setara dengan harga ilmu yang tak terjangkau angka itu.

Lama merenung bagaimana hal serupa bisa terjadi, sebuah jawab pun terucap, “Berhitungnya sang guru dan murid, sebab lalai keduanya dari hakikat belajar.” Ya, lupa lah sang guru bahwa kala mengajar pun, ia sedang belajar. Seorang murid, seringkali dihadirkan sebagai wahana belajar bagi gurunya. Sisi lain, lupa sang murid, bahwa belajar tak hanya soal apa yang ia dapat dari ucapan, melainkan pula apa yang ia dapat dari perbuatan dan pengalaman. Seorang murid bisa jadi lebih pandai daripada gurunya dalam soal pengetahuan, tapi belum tentu dalam soal pengalaman. Dan bukankah pertemuan pengetahuan dan pengalaman inilah yang sejatinya disebut dengan pembelajaran?

Guru sejati, menjadikan dirinya ilmu berjalan. Ia lah murid sejati pula, sebab baginya, hak sebuah ilmu adalah untuk diamalkan. Tak heran jika kemudian, meski ia tak cakap dalam berbicara, wibawanya memancar jernih menembus relung-relung jiwa yang haus akan ilmu. Hingga meski tak banyak kata, lakunya terus saja berbicara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>