Mewariskan Gaya Kepemimpinan

Kerap aku mengadakan survei kecil-kecilan di kelas-kelas kepemimpinan yang ku fasilitasi. Di kelas tersebut, banyak para peserta yang memiliki pengalaman panjang memimpin organisasi. Pertanyaan yang ku ajukan adalah, “Berapa orang di antara kita di ruangan ini, yang ketika mendapat amanah sebagai pemimpin tim, segera, dengan inisiatif pribadi, mencari referensi kepemimpinan? Apakah bentuknya adalah membaca buku, mengikut pelatihan, atau setidaknya mencari guru/mentor dan belajar secara intensif?”

Menarik untuk dicermati, yang mengangkat tangan tak banyak. Sebagian besar peserta tak pernah melakukannya, bahkan di tahun sekian ia memimpin.

Jika demikian, dari mana kita belajar memimpin?

Biasanya, sadar tak sadar, kita belajar dari bagaimana kita pernah dipimpin. Sebagian orang memiliki pengalaman beragam pernah dipimpin beberapa orang. Yang disukai maupun tak disukai. Sebagian lagi mungkin hanya pernah dipimpin oleh 1 orang saja. Maka gaya pemimpin kita dulu, mungkin tanpa ia sadari, diwariskan kepada kita.

Aku ingin berkomentar lebih lanjut soal kekurangan inisiatif belajar ini. Tapi mungkin di lain waktu. Kini aku ingin berpendapat tentang hal lain.

Begini ceritanya.

Jika kita mewarisi gaya kepemimpinan dari pemimpin kita, maka amat mungkin kita pun akan mewariskan gaya kepemimpinan kita pada tim yang kita pimpin. Apalagi jika kita adalah atasan pertamanya. Yang mungkin cukup lama pula.

Pertanyaannya, apakah kiranya gaya kepemimpinan yang ingin kita wariskan? Adakah kita ingin mewariskan ketaksengajaan? Atau akankah kita merancang apa yang kita ingin wariskan dengan sengaja?

Kita jelas bukan orang yang komplit sempurna. Karenanya tak mungkin tim kita akan belajar secara penuh seluruh praktik kepemimpinan terbaik. Tapi kita tentu yakin bahwa ada hal baik yang kita miliki, yang Tuhan telah titipkan dalam diri, yang kan mengisi sebagian ruang kosong kepemimpinan dalam anggota tim kita. Ruang kosong lain adalah ruang bagi pemimpin lain.

Di titik ini aku merenung. Tak selayaknya kita sebagai pemimpin tak dengan sengaja belajar kepemimpinan. Sebab apa yang kita kuasai kini, hanyalah buah dari pengalaman kemarin, yang belum tentu relevan dengan apa nan kan terjadi esok. Pun yang kita kuasai kini, jangan-jangan masih jauh dari yang terbaik. Ilmu lah yang kan menyempurnakannya, atau setidaknya memperbaikinya. Ilmu kepemimpinan itu tersebar, banyak di mana-mana. Namun jika tak dicari, ia takkan pernah menjadi bagian diri.

Leaders are readers. Demikian kita kerap mendengar sebuah nasihat. Banyak pemimpin besar adalah pembaca yang gandrung, sebab mereka meyakini bahwa apa nan mereka hadapi terlalu rumit untuk diatasi dengan sedikit ilmu yang didapat dari pengalaman. Jadilah membaca adalah kebutuhan tuk menjawab berbagai pertanyaan yang belum ada stok jawabannya dalam pikiran.

Sungguh berisiko memimpin tanpa pengetahuan, sebab apa yang kita lakukan kan kita wariskan. Masuk dalam pikiran tim, dan membentuk diri mereka. Apatah lagi diri mereka yang terbentuk di tempat kerja kan terbawa pula ke rumah dan menjadi bagian keluarga.

Tak main-main, rupanya, urusan kepemimpinan ini. Masih berani kah kita tak menumbukan diri?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>