Obat Hati yang Terasa Sempit

“Wahai Muhammad, cukuplah Kami menjadi pelindungmu dari gangguan orang-orang yang memperolok-olokmu, yaitu mereka yang menyembah tuhan selain Allah. Mereka kelak akan merasakan akibat buruk dari perbuatan mereka itu. Sungguh Kami mengetahui bahwa kamu merasa tertekan karena celaan-celaan mereka. Oleh karena itu, agungkanlah Tuhanmu dengan memujiNya, dan jadilah kamu golongan orang yang taat. Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai ajal datang kepadamu.” (Al Hijr: 95-99)

Sungguh kita tak bisa kendalikan penilaian orang lain terhadap diri. Dalam perjalanan menuju ketakwaan, ada banyak orang di luar sana yang tak paham dan merasa asing dengan jalan kebenaran. Jadilah diri ini disebut dengan aneh, ekstrim, atau paling ringan adalah sok alim. Dan semua sebutan itu tak jarang hadirkan kesempitan dalam hati, sesak yang sulit dikendalikan oleh diri sendiri.

Merenungi ayat di atas, sungguh Dia telah katakan bahwa kita memang tak bisa berlindung dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Maka setiap cercaan memang jalan bagi diri ini tuk melepaskan lagi satu simpul keterikatan pada makhluk. Kita diajak tuk melangkah lagi, menaiki tangga ketakwaan: hanya menyembahNya, meninggalkan tiap laranganNya.

Maka Dia berikan resep kala jiwa ini sungguh tak tahan, merasa lemah, hampir terjatuh pada kekufuran. Pertama, agungkanlah Dia, pujilah namaNya. Sebab mengagungkan dan memujiNya, adalah jalan tuk mengembalikan kesadaran betapa tak berbatas kekuasaanNya, betapa kecil ujian yang menimpa ini. Bangkitlah kepercayaan diri, naiklah semangat sedemikian tinggi.

Kedua, jadilah diri ini golongan yang taat. Dalam terjemahan lain, ketaatan ini secara khusus disebutkan sebagai shalat. Ya, ketaatan adalah jalan yang telah Dia siapkan tuk menjadi obat hati. Pada setiap ketaatan tersimpan rahasia-rahasia yang Dia simpan bagi insan yang beriman. Menjalankan ketaatan, berarti menikmati suguhan rahasia itu. Maka tentramlah jiwa orang-orang yang taat.

Ketiga, beribadah hinga ajal menjemput. Istiqamahlah. Teguhlah. Meski cercaan terus menimpa. Sebab sungguh ajal kan menjemput, dan menyadarkan kita bahwa semua itu sementara belaka. Celaan yang kita tahankan mendengarnya itu, takkan bertahan lama. Tiap diri kan segera insaf bahwa ada hari dimana setiap perbuatan kan mendapat balasan. Dan balasan yang tak terhingga hanyalah disediakan bagi orang-orang yang bersabar.

Jadilah, kita mendapat resep sempitnya dada kala menghadapi cercaan: mengagungkan namaNya, menjalankan ketaatan, dan terus beribadah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>