Percaya Diri Berbalut Kesantunan

Perayaan hari kartini di sekolah anakku minggu lalu sekali lagi meyakinkanku bahwa anak-anak di era ini hampir tak punya masalah dengan percaya diri. Dulu, sungguh naik panggung merupakan salah satu aktivitas yang teramat jarang terjadi padaku. Ketika terjadi, biasanya aku membutuhkan waktu cukup lama untuk mempersiapkan diri. Itupun tak selalu berakhir dengan membanggakan. Lebih sering aku merasa gagal daripada berhasil.

Tapi mengamati maraknya perlombaan, pertandingan, pertunjukan, dari tingkat kelompok bermain hingga universitas, rasanya era ketidakpercayaan diri adalah masa lalu. Tentu masih ada anak-anak yang tak segera tampil meyakinkan, takut berbicara, atau mengekspresikan dirinya. Namun secara sistem dan program, hampir semua sekolah telah mengarah pada pembentukan kepercayaan diri yang memadai.

Dan, di titik inilah kerisauanku pun beralih.

Ya, soal kepercayaan diri mungkin tak lagi jadi soal. Namun kepercayaan diri, sebagaimana semua keterampilan, memerlukan sisi-sisi lain agar ia menjadi manfaat.

Anak memang percaya diri. Yakin menampilkan dirinya. Namun entah mengapa aku merasa ada yang hilang. Ada sisi-sisi kehidupan sosial yang terkikis. Sisi yang sempat kutemukan kembali minggu lalu kala berkunjung ke sebuah sekolah. Di sekolah ini, aku menemukan apa yang kucari. Di sekolah ini, yang juga telah tak punya masalah dengan urusan kepercayaan diri siswa dan prestasi akademiknya, aku mendapati sesuatu yang kurindukan: kesantunan.

Ya, kepercayaan diri anak-anak di sekolah ini boleh dijajal. Prestasi akademiknya pun boleh diuji. Dan mereka memiliki sebuah perbedaan yang unik, dan menyejukkanku. Mereka santun.

Kesantunan, adalah yang menjadikan kepercayaan diri dan prestasi indah dilihat. Bahkan, kadang kala kepercayaan diri dan prestasi tak lagi dipandang kala kesantunan mengemuka. Kita, secara naluriah, menyukai kesantunan.

Cobalah tersenyum pada seseorang, niscaya kan kita dapatkan balasan. Sebab senyuman, yang bagian dari keramahan dan kesantunan, adalah pemberian yang sulit ditolak. Pemberian yang hampir pasti berbalas. Kalaupun ada orang yang mungkin sedang suntuk hingga tak membalas senyumanmu, percayalah, ia pun tak nyaman menahan tuk tak membalas.

Kesantunan, sejatinya sungguh teramat sederhana. Ia adalah hal-hal kecil nan dibiasakan. Namun memang tiadalah sebuah budaya kan terbentuk tanpa hal-hal kecil serupa ini. Ia sesederhana, misalnya, senyum, sapa, salam. Sungguh ketiganya bukan termasuk hal yang sulit. Namun sebab tak jadi ukuran dalam pendidikan, maka perlahan ia terkikis.

Sungguh hatiku selalu terenyuh kala melihat seorang anak yang meski telah usia dewasa muda, tetap mencium tangan orang tua dan gurunya. Ada ketakziman disana. Ya, mereka tetap berani berbicara, berpendapat, menyanggah. Namun kesemuanya itu tak melepaskan kesantunan dalam menjalankannya.

Pada waktu yang lain, aku mendapati sebuah perdebatan di dunia maya, antara seseorang yang santun dengan lawannya. Sang santun sungguh kokoh argumennya. Hampir-hampir lawannya tak memiliki senjata yang memadai untuk melawan. Namun meski demikian, dalam kelincahannya berdalil dan berargumen, kesantunannya sungguh tak berkurang. Dan pada yang demikian, entah mengapa aku tak terkagum pada kepandaiannya. Aku terpana pada kesantunannya.

Maka jika kini anak-anak kita tak lagi punya masalah dengan kepercayaan diri, marilah kita lanjutkan langkah tuk menjadikan kesemuanya berbalut kesantunan. Dan untuk mencapai ini, jelas kita memerlukan usaha yang mungkin lebih keras dari sebelumnya. Sebab kesantunan, hulunya adalah keteladanan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>