Resolusi Berbasis Misi – #1

Akhir tahun serupa ini, kiranya ramai perbincangan soal resolusi tahun baru. Entah sejak tahun berapa kata resolusi begitu popular dan menjadi bahasan banyak orang. Tergerak oleh munculnya ingatan tentang beberapa pengalaman, saya ingin berbagi ide yang mungkin bisa bermanfaat.

Ringkas cerita, cukup sering saya dapati rekan-rekan yang menulis resolusi tahun baru, hanya untuk kemudian diulangi lagi di tahun depan, dengan isi yang sama persis. Dengan kata lain, tak satu pun janji itu tercapai, hingga akhirnya ‘terpaksa’ diulang kembali. Kondisi seperti ini, memiliki beberapa konsekuensi. Tapi salah satu yang paling ‘berbahaya’ adalah rasa tidak percaya diri yang hadir secara halus, disebabkan ‘kegagalan’ memenuhi deretan janji itu. Maka menulis resolusi, target tahunan, atau apapun namanya, sejatinya memerlukan ilmu agar ia mampu menjadi api bagi diri.

Kok Misi?

Ya, saya memahami bahwa resolusi atau target tahunan yang efektif adalah ia yang didasarkan pada misi hidup yang telah kita tetapkan.

Ah, apa pula misi ini? Apa bedanya dengan visi?

Misi dan visi, acapkali dibedakan secara definitif. Visi, disebut sebagai gambaran yang ingin kita miliki di masa depan. Sedang misi, adalah alasan keberadaan kita. Betapapun definisi itu berbeda, saya merasa di tataran praktik, keduanya sulit dibedakan. Maka saya lebih memilih untuk memahami bahwa visi dan misi sama belaka. Semata-mata untuk alasan praktis. Dan untuk keperluan artikel ini, saya memilih menggunakan istilah misi.

Misi, adalah alasan keberadaan kita. Misi hidup, berarti alasan keberadaan kita hidup di muka bumi. Sedang misi organisasi artinya adalah alasan berdirinya organisasi. Sebab ia alasan keberadaan, maka tepatlah kiranya ungkapan dari dari Victor Frankl berkut ini, “We detect, rather than invent, our mission in life.”

Ya, misi kita, sejatinya telah ditentukan oleh Yang Maha Pengatur. Tidak ada satu daun pun jatuh tanpa pengaturanNya. Maka adanya kita, pasti lah sebab satu tujuan. Dan karena tujuan itu telah ada, maka misi memang tidak kita ciptakan, melainkan kita deteksi. Proses perumusan misi bukanlah proses menerawang ke masa depan, melainkan proses perjalanan ke dalam diri. Memahami pesan-pesan yang sejatinya telah disisipkan selama hidup.

Misi hidup berfungsi layaknya undang-undang pribadi. Ia adalah pernyataan tentang karakter yang ingin kita hidupi. Mudahnya, seperti apa kita ingin dikenang? Seperti apa kita ingin kembali kepadaNya?

Kehidupan layaknya puzzle. Setiap ciptaan memiliki fungsinya masing-masing, yang unik, dan karenanya tak tergantikan. Maka misi setiap orang pasti berbeda. Tak perlulah kita iri pada apa yang orang lain capai, sebab ada tugas kita sendiri yang menunggu untuk ditunaikan. Toh, ukuran kesuksesan sejati kelak bukanlah pada misi apa yang kita emban, melainkan pada seberapa sungguh-sungguh kita menjalankan misi kita sendiri.

 

Mengapa Berbasis Misi?

Karena misi hidup bersifat umum, ia perlu diuraikan dalam aktivitas-aktivitas nyata, yang jika dikerjakan, maka meningkatkan tercapainya misi hidup tersebut. Aktivitas-aktivitas inilah yang dalam pandangan saya disebut dengan resolusi, atau target. Resolusi tahun baru, adalah target yang kita ingin capai di tahun depan, secara nyata dan spesifik, yang jika tercapai, maka meningkatkan kemungkinan kita memenuhi misi hidup.

Misalnya, untuk menjadi teladan yang bijak sekaligus teman yang menyenangkan bagi anak (contoh misi terhadap anak), maka resolusi tahun baru yang ditetapkan adalah selalu mengajak anak untuk menjalankan shalat dan menemaninya bermain sebelum tidur.

Menulis resolusi seperti ini akan menjadikan sebuah target tak semata-mata target. Sebab ia terkait dengan misi, maka resolusi itu hidup dan memiliki energi. Energi dari misi inilah yang akan meningkatkan kemungkinan ia benar-benar tercapai. Sebaliknya, saya mendapati beberapa kawan yang menulis resolusi tanpa misi, berakhir mendapati resolusi itu terulang lagi di tahun berikutnya. Sebab ia ‘kering’, tak memiliki ‘api’, bahkan ditengarai bukan berasal dari keinginan terdalam, melainkan terkadang mengikuti tren semata.

 

Maka sebelum menulis resolusi, pastikan renungkan kembali misi hidup kita. Jika belum ada, ah, saatnya untuk mulai menulisnya.

Caranya?

Kita bahas di artikel berikutnya ya. Insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>