Resolusi Berbasis Misi – #3

Bagaimana? Sudah selesai menulis Pernyataan Misi Pribadi?

Belum? Baru draft?

Tak apa. Memang demikian. Sudah memulai berarti sudah bagus. Sangat bagus. Selayaknya kompas, dalam perjalanan ia harus sering-sering ditengok. Begitu pun dengan misi. Sering-sering lah dibaca, agar kita tak kehilangan arah dalam hidup. Saya mendapati, sobat-sobat yang berpotensi besar namun tak kunjung menunjukkan kontribusi yang nyata bagi kehidupan adalah mereka yang tak pernah menyatakan dengan pasti misi mereka. Maka hidup bagi mereka tak lebih menjalani keseharian, garis demi garis, dan selalu kebingungan di persimpangan.

Nah, jika sudah selesai dengan pernyataan misi, maka di awal tahun ini, silakan ajukan pertanyaan berikut ini:

“Apa hal paling penting yang bisa saya capai di tahun ini, yang akan mengantarkan saya mencapai misi hidup saya?”

Silakan renungkan pernyataan misi yang Anda buat, juga peran demi peran yang telah Anda petakan. Lalu tentukan 2-3 hal paling penting yang bisa Anda capai di tahun ini untuk memenuhi misi Anda pada tiap peran. Inilah resolusi Anda, target Anda tahun ini. Dan karena ia ditetapkan berdasarkan misi, maka jadilah resolusi berbasis misi. Resolusi yang tak sekedar ikut tren, atau keinginan sesaat. Jadilah ia hidup, berenergi, sebab ada sebuah kontribusi besar yang menunggu untuk dipenuhi.

Tujuan-tujuan besar ini, sebab ia sedemikian penting, maka ia mestilah didahulukan daripada yang lain. Tentu, kita masih boleh menambah tujuan lain di tengah jalan, namun ia harus lah dikerjakan di waktu-waktu senggang. Maka pikirkanlah dengan seksama.

Selesai menuliskan target tahun ini? Silakan rencanakan dengan lebih teliti nan cermat, bagaimana langkah-langkah Anda untuk mencapainya. Ciptakan sebuah rutinitas yang secara disiplin Anda jalankan. Kata kuncinya adalah adanya sebuah kedisiplinan eksekusi dengan pertanggungjawaban yang teratur.

Semisal, target saya untuk menulis 2 buah buku setiap tahun, saya jabarkan menjadi rutinitas menulis 1 artikel setiap hari. Jika karena satu dan lain hal saya tidak memenuhinya, maka ia menjadi ‘hutang’ yang harus saya bayar keesokan harinya. Dan untuk semakin memotivasi diri, saya posting artikel tersebut di blog, dan sebarkan via akun Twitter, sehingga orang lain bisa memberikan masukan.

Nah, menyusun sebuah rutinitas seperti ini, bukankah tujuan-tujuan yang tampaknya ‘besar’ itu menjadi ‘kecil’ semata? Setelah ini, Anda cukup jalani minggu demi minggu, hari demi hari, berdasarkan pada rutinitas itu. Jika ada masa-masa sulit, ketika semangat turun, bacalah kembali misi Anda. Renungkan dalam-dalam misi yang Anda emban. Mestinya api itu akan berkobar kembali. Semangat akan meninggi, karena selalu ada ‘hutang’ pada kehidupan yang mesti dipenuhi.

Selamat jalan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>