Seperti Kran Bocor

Pagi ini sebuah kejadian menimpaku. Saat sedang bergegas mandi, tanganku menyenggol sebuah kran di kamar mandi, dan kran itu pun patah.

Waduh! Patah nih. Bukan sekedar lepas. Maka urusan berangkat tepat waktu pasti lewat. Sebab mengatasi kran patah tentu perlu waktu. Apatah lagi pekerjaan pertukangan semacam membenarkan kran ini bukanlah keahlianku. Yang kupikirkan hanya satu, segera berteriak untuk mematikan kran PAM, agar air tak mengalir terus. Hehe..

Singkat cerita, kran itu kini sudah teratasi. Segalanya sudah normal kembali. Sebab memang bukan soal kran yang mau kuceritakan. Namun sesuatu yang serupa dengannya.

Kuhitung-hitung, sudah 2 kali aku mengalami kejadian serupa. Kran patah, sehingga perlu segera menghentikan aliran air yang pasti tak terkendali. Ya, cukup sebuah kran saja untuk menghebohkan suasana, memaksa kran lain yang masih sehat untuk berhenti beroperasi. Sebab tak diatasinya kondisi semacam ini berarti kesulitan yang lebih besar di kemudian hari.

Mirip seperti kran, demikianlah iman. Ia terjaga, sampai ada satu titik yang ‘bocor’, yakni terjadilah sebuah perbuatan dosa. Cukup satu titik ‘bocor’ ini saja, untuk meruntuhkan bangunan amal yang telah lama didirikan. Jika ia tak ditaubati dengan sungguh-sungguh, bukan tak mungkin diri kan menjelma jadi pribadi yang berubah 180 derajat.

“Iringilah keburukan, dengan kebaikan,” demikian nasihat sampai kepada kita. Benarlah, sebab keburukan ibarat ‘bocor’, dan kebaikan adalah ‘tambalan’-nya. Bertaubatlah segera dengan nasuha, yakni memohon ampun, disertai usaha sekuat tenaga untuk menghindarkan diri dari pengulangan.

Persis seperti kejadian kran patahku tadi, insan yang bertaubat mestilah heboh menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari jalan-jalan keburukan. Sebab pernah terjerumusnya diri ke dalam kubangan dosa, meningkatkan kemungkinan terjerumus untuk kedua kali jika tak ditaubati.

Dosa itu membekas. Dan bekasan itu acapkali jalan bagi tergodanya diri tuk kembali mengulangi. Maka berhati-hatilah, wahai diri, pada ‘bocor’-nya iman. ‘Tambal’-lah segera dengan penyesalan, dan teguhnya perbaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>